Tradisi Unik Warga Banyuwangi Habiskan Hari Kedua Lebaran di Makam

Tradisi Unik Warga Banyuwangi Habiskan Hari Kedua Lebaran di Makam

Eka Rimawati - detikJatim
Minggu, 22 Mar 2026 19:40 WIB
Warga Desa Bunder Kecamatan Kabat Banyuwangi menjalankan tradisi Lebaran Makam pada hari raya ke-2 di komplek pemakaman Desa Bunder.
Warga Desa Bunder Kecamatan Kabat Banyuwangi menjalankan tradisi Lebaran Makam pada hari raya ke-2 di komplek pemakaman Desa Bunder. (Foto: Istimewa)
Banyuwangi -

Pemandangan tak biasa terlihat di Desa Bunder, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Jika biasanya komplek pemakaman identik dengan suasana sunyi dan sakral, kali ini justru berubah menjadi pusat keramaian yang penuh suka cita.

Sejak pukul 06.00 WIB, Minggu (22/3/2026), warga dengan pakaian terbaiknya mulai memadati area pemakaman desa. Bukan sekadar ziarah biasa, mereka datang membawa berbagai perlengkapan perayaan Lebaran seperti bunga makam, kue kering, makanan khas, hingga cangkir-cangkir kopi yang mengepul.

Begitu tiba, setiap keluarga langsung mengerumuni makam leluhur mereka. Gelaran tikar dibentangkan di antara nisan. Lantunan surat Yasin dan tahlil terdengar bersahutan, mengawali ritual yang mereka sebut sebagai 'Lebaran Makam'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Uniknya, usai berdoa, suasana berubah menjadi hangat layaknya ruang tamu rumah. Warga tampak santai bercengkrama di depan pusara. Tak ada raut kesedihan, yang ada justru tawa dan kebersamaan sembari menikmati hidangan yang dibawa.

"Memang sengaja bawa makanan karena ada selamatan dengan makan tumpeng bersama-sama," ujar Kepala Desa Bunder, Samirin, saat ditemui di lokasi.

ADVERTISEMENT

Tradisi Turun-Temurun Setiap 2 Syawal

Tradisi ini rutin digelar setiap tanggal 2 Syawal. Bagi warga Desa Bunder yang terletak sekitar 8 kilometer dari pusat kota Banyuwangi ini, Lebaran Makam adalah cara mereka berbagi kebahagiaan kemenangan Ramadhan 1447 H dengan para leluhur.

Selain kirim doa, momen ini menjadi ajang silaturahmi akbar. Antar tetangga saling berjabat tangan, bermaaf-maafan, hingga bertukar camilan di area pemakaman.

"Jadi tradisi Lebaran di makam ini warisan leluhur. Nuansanya penuh keharmonisan dan kekeluargaan yang bisa ditiru oleh generasi muda," tambah Samirin.

Fenomena tahunan ini ternyata menjadi magnet kuat bagi para perantau. Samirin menjelaskan bahwa mayoritas warga desanya mengadu nasib di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bali, hingga Papua.

Bagi mereka, pulang kampung belum terasa lengkap jika tidak ikut "pesta" di kuburan. "Mereka merasa kurang afdol kalau mudik tapi tidak mengikuti tradisi Lebaran kuburan ini," tuturnya.

Ditutup dengan Pesta Petasan

Kemeriahan tak berhenti di area makam. Usai menyantap tumpeng bersama, warga berbondong-bondong menuju kantor Desa Bunder. Di sana, suasana makin semarak dengan pesta petasan.

Berbagai ukuran petasan dinyalakan, meledak bersahutan hingga suaranya menggelegar ke seluruh penjuru desa, menandai puncak perayaan Idul Fitri yang penuh kesan di Desa Bunder.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads