Tradisi singgah pemudik di jalur Pantura Probolinggo perlahan memudar. Dua sentra oleh-oleh legendaris yang dulu menjadi jujukan utama, kini tampak sepi, bahkan di momen puncak arus mudik Lebaran 2026.
Perubahan pola perjalanan akibat hadirnya jalan tol membuat arus kendaraan tak lagi melintasi jalur lama. Dampaknya, denyut ekonomi pedagang lokal di sepanjang Pantura ikut melemah, dari pusat oleh-oleh hingga sentra ikan asap yang dulu selalu ramai pembeli.
Kawasan pusat oleh-oleh di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, yang dulunya padat pemudik pada era 1990 hingga 2000-an, kini jauh dari keramaian. Lokasi yang berada di Jalur Pantura itu dulu dikenal sebagai tempat favorit membeli buah tangan khas Kota Mangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring waktu, keberadaan pusat oleh-oleh modern dan beroperasinya jalan tol di sisi selatan Probolinggo hingga Situbondo membuat jumlah pengunjung menurun drastis. Meski begitu, sejumlah pedagang masih bertahan menjual produk khas seperti olahan mangga, jajanan berbahan tape, aneka kerupuk, hingga makanan ringan lainnya.
Salah satu pedagang, Lukman Hidayat, mengaku penurunan pembeli sangat terasa sejak tol beroperasi.
"Lebaran tahun ini kondisinya sepi sekali. Faktor utamanya karena adanya jalan tol yang sekarang sudah tersambung sampai ke arah timur, Besuki hingga Situbondo. Pendapatan turun sangat drastis, pembeli hanya beberapa orang saja. Banyak pedagang yang akhirnya memilih tutup," ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Hal senada disampaikan pedagang lain, Sumarni, yang menyebut kondisi tahun ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Pendapatan turun sekali, tidak seperti tahun lalu. Biasanya H- dan H+ Lebaran ramai, sekarang tidak. Sekitar lima tahun lalu sebelum ada tol itu sangat ramai sampai jalan macet dan ada pengawalan polisi. Sekarang justru sepi dan lalu lintas lancar," katanya.
Dampak sepinya pengunjung juga dirasakan juru parkir. Sumardi, yang telah bekerja selama 18 tahun di kawasan itu menyebut, penurunan kendaraan parkir sangat drastis.
Penjual ikan asap di Dringu Probolinggo Foto: M Rofiq/detikJatim |
"Kalau dulu ramai sekali, sekarang sejak ada jalan tol sudah jauh berkurang. Ditambah dampak pandemi COVID-19 dulu juga sangat terasa. Tadi sejak jam 09.30 WIB, baru dua mobil yang parkir, kemarin hanya tiga mobil," ungkapnya.
Kondisi serupa juga terjadi di sentra penjualan ikan asap di Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Lokasi yang berada di pinggir Jalur Pantura itu kini tampak lengang, padahal sebelumnya selalu ramai saat musim mudik Lebaran.
Dalam tiga tahun terakhir sejak Tol Probolinggo-Pasuruan (Paspro) tersambung hingga jalur Probolinggo-Situbondo (Prosiwangi), jumlah pembeli terus menurun. Padahal, sebelumnya para pedagang bisa meraup keuntungan besar dari pemudik yang singgah membeli oleh-oleh.
Yanto, salah satu pedagang ikan asap, mengaku suasana kini sangat berbeda dibandingkan masa lalu.
"Beda dengan dulu saat musim mudik Lebaran, ramai sampai pembeli antri. Tahun ini penjualan sepi. Kalau dulu sampai kewalahan stok ikan asap karena banyak pemudik yang berhenti untuk beli oleh-oleh," ujarnya, Senin (23/3/2026).
Ia menambahkan, kini hanya sedikit pedagang yang masih bertahan. "Sekarang tinggal sedikit yang masih jualan ikan asap di sini," tambahnya.
Pedagang lain, Siti, juga merasakan hal serupa. Ia menyebut momen Lebaran yang biasanya ramai kini justru sepi hingga H+2. "Iya, biasanya mendekati Lebaran banyak yang beli untuk oleh-oleh keluarga di kampung. Sekarang sampai H+2 Lebaran pun masih sepi," katanya.
Menurutnya, sepinya pembeli tak lepas dari keberadaan jalan tol yang mengalihkan arus kendaraan dari Jalur Pantura Dringu. Kondisi ini bahkan membuat banyak pedagang memilih berhenti berjualan.
"Sudah banyak pedagang yang berhenti jualan karena sepi. Kami berharap Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan pihak tol Paspro maupun Prosiwangi memperhatikan nasib pedagang ikan asap legendaris di Pantura Dringu ini," ujarnya.
Para pedagang pun berharap diberi ruang untuk berjualan di rest area tol agar tetap bisa bertahan. "Kami berharap diberi tempat berjualan di rest area atau lokasi yang layak di jalan tol supaya bisa tetap usaha. Karena penghasilan kami hanya dari jualan ikan asap untuk menyambung hidup dan menyekolahkan anak," tambahnya.
Meski begitu, masih ada sebagian pemudik yang setia mampir demi menjaga tradisi. Satria, pemudik asal Situbondo, mengaku tetap menyempatkan diri membeli ikan asap meski harus keluar tol.
"Saya dan keluarga setiap mudik Lebaran selalu beli ikan asap di sini untuk oleh-oleh. Dulu ramai sekali, sekarang sepi. Ini saja saya rela turun di Exit Tol Gending hanya untuk beli ikan asap," katanya.
Ia berharap, ada perhatian dari pemerintah dan pengelola tol agar sentra legendaris ini tidak hilang. "Kasihan pedagangnya sudah banyak yang tutup. Semoga ada perhatian dari pemerintah daerah, provinsi, pusat maupun pihak jalan tol, mungkin bisa diberi tempat di rest area supaya usaha mereka bisa hidup kembali," pungkasnya.
(auh/hil)

