6 Fakta Jastip Nyekar Jadi "Kurir Rindu" Perantau di Surabaya

6 Fakta Jastip Nyekar Jadi "Kurir Rindu" Perantau di Surabaya

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Kamis, 26 Mar 2026 11:00 WIB
Salah satu makam yang dirawat dan telah didoakan oleh Laifa sebagai pemberi layanan Jasa Titip Nyekar di Surabaya.
Salah satu makam yang dirawat dan telah didoakan oleh Laifa sebagai pemberi layanan Jasa Titip Nyekar di Surabaya. (Foto: Istimewa/dok. Laifa)
Surabaya -

Di tengah riuh tradisi mudik dan ziarah Lebaran, tak semua orang punya kesempatan pulang untuk menyapa mereka yang telah tiada. Jarak, waktu, dan kondisi kerap menjadi penghalang, menyisakan rindu yang tak tersampaikan di pusara.

Namun, dari keterbatasan itu, muncul cara baru yang hangat dan penuh empati. Seorang perempuan di Surabaya memilih menjadi perpanjangan tangan bagi para perantau, untuk mengantarkan doa, merawat nisan, dan menjaga ikatan batin yang tak lekang oleh jarak.

Berikut sederet faktanya:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Berangkat dari Kerinduan Anak Rantau

Laifa Qodariyanti memulai jasa titip nyekar bukan semata mencari peluang, melainkan dari pengalaman pribadinya sebagai perantau yang tak bisa rutin mengunjungi makam sang ayah di Lampung.

Perasaan kehilangan yang tertahan itu kemudian ia ubah menjadi bentuk empati bagi orang lain yang mengalami hal serupa, hingga akhirnya ia memberanikan diri membuka layanan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Sebagai anak rantau, saya tidak bisa pulang ke Lampung dan nyekar ke makam ayah saya. Jadi saya merasa relate, makanya tertarik membuka jastip ini," ungkap Laifa.

2. Terinspirasi dari Medsos Saat Ramadan

Ide jastip nyekar muncul secara spontan ketika Laifa melihat praktik serupa dilakukan oleh pengemudi ojek online, yang kemudian ia kaitkan dengan momen Ramadan dan Lebaran yang identik dengan tradisi ziarah kubur.

Ia melihat celah kebutuhan emosional para perantau yang ingin tetap terhubung dengan keluarga yang telah meninggal, meski tidak bisa hadir secara fisik di makam.

"Waktu itu saya lihat di media sosial ada ojol yang diminta tabur bunga di makam, terus langsung kepikiran, ini kan momen puasa dan Lebaran identik dengan tradisi nyekar. Saya pikir ini belum pernah ada, jadi aku coba saja buka jastip untuk perantau yang belum bisa pulang," tuturnya.

3. Sempat Dikritik, Kini Fokus pada Esensi

Dalam perjalanannya, Laifa tak luput dari kritik yang menilai jasanya sebagai bentuk komersialisasi ibadah, namun ia memilih menyikapinya dengan bijak tanpa kehilangan niat awalnya. Ia kemudian menyesuaikan konsep layanan dengan lebih menitikberatkan pada perawatan makam dan ketulusan doa, bukan pada aspek tambahan yang bersifat komersial.

"Sekarang lebih fokus ke nyekar, tabur bunga, pembersihan area makam dan doa yang tulus aja, tidak saya jadikan tambahan berbayar," tegasnya.

4. Layani Semua, Termasuk Non-Muslim

Laifa tidak membatasi layanan hanya untuk satu keyakinan, melainkan tetap melayani permintaan dari non-muslim dengan penyesuaian pada jenis layanan yang diberikan. Ia memahami batasan keyakinan masing-masing, sehingga layanan yang diberikan tetap menghormati perbedaan tanpa mengurangi nilai empati yang ia bawa.

"Kalau yang non muslim hanya minta tabur bunga dan bersihkan rumput. Tidak minta didoakan. Soalnya kan kalau beda server nanti nggak masuk kan doanya," jelas Laifa sedikit berkelakar.

5. Tantangan Mencari Makam yang Sulit Ditemukan

Dalam praktiknya, Laifa menghadapi tantangan teknis seperti menemukan makam dengan identitas yang sudah pudar, sehingga membutuhkan usaha ekstra untuk memastikan lokasi yang tepat.

Ia bahkan harus berkoordinasi dengan penjaga makam untuk membantu proses pencarian, agar layanan yang diberikan tetap akurat dan sesuai permintaan pelanggan.

"Yang DM lumayan banyak, tapi yang saya kerjakan baru belasan. Saya juga seleksi, misalnya kalau nama di batu nisan sudah tidak terlihat, kan susah dicari. Kalau nisannya masih terbaca dan aku masih kebingungan aku tanya ke juru kunci lokasi makamnya di mana," katanya.

6. Jadi Solusi Rindu yang Lebih Terjangkau

Bagi Laifa, jasa ini bukan sekadar layanan, melainkan jembatan emosional bagi mereka yang ingin tetap terhubung dengan keluarga yang telah tiada tanpa harus pulang kampung. Dengan biaya yang relatif terjangkau, ia percaya jastip nyekar bisa menjadi alternatif bagi perantau untuk tetap menjaga tradisi sekaligus merawat makam dari kejauhan.

"Memang doa bisa disampaikan di mana saja. Tapi alangkah lebih baik kalau makam tetap terawat. Kalau tidak bisa datang langsung, jastip nyekar bisa jadi solusi, apalagi biayanya lebih ekonomis dibandingkan pulang kampung," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Viral Jastip Nyekar Selama Ramadan hingga Lebaran di Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads