Sebuah unggahan viral di media sosial menjadi titik balik bagi Laifa Qodariyanti (27) untuk memulai bisnis yang menyentuh sisi emosional para perantau. Apa yang dia lakukan itu terinspirasi dari konten tentang aksi seorang pengemudi ojek online.
Perempuan asal Lampung yang menetap di Surabaya ini memutuskan untuk membuka jasa titip (jastip) nyekar sebagai solusi bagi mereka yang raga tak sampai untuk mengunjungi "rumah" terakhir orang tercinta.
Bagi Laifa, nisan bukan sekadar batu, melainkan tempat yang tak boleh dibiarkan sunyi dan terbengkalai. Di tengah hiruk-pikuk arus mudik dan balik Lebaran 2026, ia menjalankan misi unik menjadi perpanjangan tangan para perantau untuk berziarah ke makam keluarga di Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laifa bukan orang baru dalam urusan merantau. Sejak 2017, ia menetap di Surabaya sebagai pegawai swasta. Namun, statusnya sebagai anak yatim yang jauh dari makam sang ayah di Lampung adalah alasan terkuat mengapa jasa ini ia buka.
"Sebagai anak rantau, saya tidak bisa pulang ke Lampung dan nyekar ke makam ayah saya. Jadi saya merasa relate, makanya tertarik membuka jastip ini," ungkap Laifa lembut.
Ide itu mulanya terlintas saat ia melihat seorang ojek online melakukan hal serupa di dunia maya. Ia pun berpikir, di momen suci seperti Ramadan dan Lebaran, banyak jiwa yang ingin "menyapa" keluarganya namun terkendala jarak.
"Waktu itu saya lihat di media sosial ada ojol yang diminta tabur bunga di makam, terus langsung kepikiran, ini kan momen puasa dan Lebaran identik dengan tradisi nyekar. Saya pikir ini belum perna ada, jadi aku coba saja buka jastip untuk perantau yang belum bisa pulang," tuturnya.
Niat baik tak selamanya diterima mulus. Di kolom komentar, suara sumbang sempat mampir, menuding jasanya sebagai bentuk komersialisasi agama. Namun, dengan kepala dingin, Laifa memilih beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Ia kini lebih fokus pada perawatan fisik makam-membersihkan rumput liar dan menabur bunga-sembari menyelipkan doa tulus tanpa label harga.
"Sekarang lebih fokus ke nyekar, tabur bunga, pembersihan area makam dan doa yang tulus aja, tidak saya jadikan tambahan berbayar," tegasnya.
Bahkan, Laifa tak pandang bulu soal keyakinan. Ia bercerita pernah melayani pembersihan makam non-muslim meski dengan batasan tertentu.
"Kalau yang non muslim hanya minta tabur bunga dan bersihkan rumput. Tidak minta didoakan. Soalnya kan kalau beda server nanti nggak masuk kan kak doanya," jelas Laifa sedikit berkelakar.
Menjalankan jastip nyekar ternyata punya tantangan tersendiri. Tak jarang, ia harus berjibaku mencari makam yang identitasnya mulai pudar. Dari tarif Rp50.000 yang ia patok, ada tenaga ekstra untuk berkoordinasi dengan penjaga makam.
"Yang DM lumayan banyak, tapi yang saya kerjakan baru belasan. Saya juga seleksi, misalnya kalau nama di batu nisan sudah tidak terlihat, kan susah dicari. Kalau nisannya masih terbaca dan aku masih kebingungan aku tanya ke juru kunci lokasi makamnya di mana," katanya.
Bagi Laifa, kepuasan terbesarnya adalah ketika ia bisa mengirimkan dokumentasi foto dan video kepada pemesan yang berada jauh di luar kota, bahkan di luar negeri. Ia percaya, merawat makam adalah cara menjaga martabat mereka yang sudah tiada.
"Memang doa bisa disampaikan di mana saja. Tapi alangkah lebih baik kalau makam tetap terawat. Kalau tidak bisa datang langsung, jastip nyekar bisa jadi solusi, apalagi biayanya lebih ekonomis dibandingkan pulang kampung," pungkasnya.
(auh/dpe)