Ngalam Mbois: Satu Rumah Satu Usaha Dongkrak Ekonomi Warga Malang

Ngalam Mbois: Satu Rumah Satu Usaha Dongkrak Ekonomi Warga Malang

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 30 Mar 2026 14:30 WIB
Klinik UMKM sudah berjalan berikan pelatihan kepada setiap rumah tangga
Klinik UMKM sudah berjalan berikan pelatihan kepada setiap rumah tangga/Foto: Istimewa
Malang -

Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang meluncurkan langkah transformatif untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah langsung dari unit terkecil masyarakat. Target sasaran adalah masing-masing rumah tangga memiliki satu unit usaha.

Melalui Program ambisius bertajuk 'Satu Rumah Satu Kegiatan Ekonomi' diharapkan bisa mengubah wajah dapur keluarga menjadi mesin produktif yang mampu mendongkrak pendapatan keluarga, ekaligus memutus rantai kemiskinan di tingkat bawah.

Strategi ini lahir dari keprihatinan atas rendahnya rata-rata belanja harian rumah tangga masyarakat. Keterbatasan daya beli tersebut dinilai berisiko tinggi terhadap munculnya masalah stunting dan kerentanan ekonomi keluarga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Diskopindag Kota Malang Eko Sri Yuliadi menegaskan bahwa negara harus hadir dengan intervensi nyata untuk menciptakan aktivitas ekonomi di setiap rumah tangga. Menurut Eko, ketiadaan pendapatan tetap di rumah tangga adalah akar dari sulitnya pemenuhan gizi dan kesejahteraan.

ADVERTISEMENT

"Target kita adalah setiap rumah tangga memiliki satu usaha produktif sehingga suami dan istri memiliki pendapatan tambahan," ujar Eko kepada detikJatim, Senin (30/3/2026).

"Jika pendapatan misalnya, bisa menyentuh angka 200 ribu rupiah per hari, maka otomatis belanja masyarakat meningkat dan kebutuhan gizi keluarga akan terpenuhi dengan baik," sambungnya.

Eko menambahkan, bahwa program ini tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas, melainkan telah diimplementasikan melalui sistem bimbingan usaha mikro yang disebut SiBakso.

Melalui platform ini, masyarakat diarahkan untuk memulai bisnis berdasarkan minat dan passion masing-masing. Diskopindag Kota Malang bergerak memfasilitasi proses ini melalui Klinik UMKM yang berfungsi sebagai inkubator bisnis.

Di sana, warga yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan ekonomi dididik secara intensif, mulai dari pengelolaan keuangan, manajemen pemasaran digital, hingga standarisasi kualitas produk menggunakan bahan tambahan pangan yang aman.

Langkah masif ini terbukti membuahkan hasil signifikan bagi struktur ekonomi makro Kota Malang. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 42.270 pelaku usaha telah berhasil dikurasi dengan data yang akurat.

Bahkan, produk-produk rumahan asal Malang kini tidak hanya bersaing di kancah nasional, tetapi mulai merambah pasar global.

Sekitar lima persen dari produk UMKM lokal, terutama sektor jajanan keripik, telah berhasil menembus pasar ekspor, membuktikan bahwa standar kualitas usaha mikro binaan Diskopindag mampu bicara banyak di level internasional.

"Sudah banyak UMKM kita mampu menjual produk ke pasar global dengan jajanan keripik," bebernya.

Keberhasilan program ini, lanjut Eko, secara linear berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita daerah.

Eko menekankan bahwa intervensi pemerintah dalam menghitung potensi ekonomi dan menambah peredaran uang di masyarakat adalah kunci utama pertumbuhan ekonomi Kota Malang yang kini tercatat menunjukkan performa positif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kita Malang kini menunjukkan ketangguhan yang kuat dengan melesat sebesar 5,92 persen pada tahun 2025, melampaui capaian Jawa Timur (5,33 persen) dan nasional (5,11 persen).

"Pemerintah harus turun tangan langsung dalam menghitung potensi ekonomi untuk mendongkrak pendapatan per kapita dan kuota uang yang beredar. Tujuannya jelas untuk kesejahteraan, sehingga ke depannya tidak ada lagi warga yang sulit mencari kerja atau memenuhi kebutuhan pangan dasar mereka," tegas Eko.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, kata Eko, standar hidup layak masyarakat pun terus meningkat.

BPS juga mencatat bahwa pengeluaran riil per kapita penduduk Kota Malang kini telah mencapai angka Rp 17,79 juta per tahun, meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2025 atas dasar harga berlaku sebesar Rp 108.152,82 miliar. Sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp 67.125,46 miliar.

Dari sisi produksi, penyumbang kontribusi tertinggi terjadi pada sektor perdagangan dengan kontribusi sebesar 28,50 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, penyumbang kontribusi tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dengan andil sebesar 68,05 persen.

Dengan program ini, Diskopindag Kota Malang optimistis bahwa kemandirian finansial yang dimulai dari dapur keluarga akan menjadi benteng pertahanan ekonomi yang kokoh dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global di masa depan.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads