Pertamina Patra Niaga bersama Forkopimda Kabupaten Lumajang menggerebek sebuah pangkalan gas Elpiji di Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, Lumajang. Pangkalan tersebut kedapatan menimbun ribuan tabung gas Elpiji 3 kg di tengah kelangkaan gas melon.
Dalam sidak tersebut, petugas menemukan sebanyak 1.120 tabung gas Elpiji 3 kg yang disembunyikan. Tak pakai lama, petugas langsung menutup pangkalan tersebut dan melakukan Pemutusan Hubungan Usaha (PHU).
Tindakan tegas ini merupakan respons atas banyaknya aduan masyarakat terkait kelangkaan gas Elpiji 3 kg sejak menjelang Hari Raya hingga saat ini. Kelangkaan ini membuat harga di tingkat pengecer melambung tinggi, menembus angka Rp 24.000 hingga Rp 35.000 per tabung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bupati Lumajang, Indah Amperawati memberikan ultimatum keras kepada para pemilik pangkalan yang masih nekat bermain curang. Ia menyebut temuan ini sangat tidak wajar jika dibandingkan dengan kapasitas resmi pangkalan.
"Pangkalan itu kapasitasnya hanya 100 tabung untuk didistribusikan, namun di sini ditemukan lebih dari 1.000 tabung. Ini jelas pelanggaran. Akan kita tindak tegas dan proses sesuai hukum yang berlaku," tegas Indah kepada detikJatim, Sabtu (11/4/2026).
Selain dugaan penimbunan, petugas juga mensinyalir adanya praktik "suntik" gas, yakni memindahkan isi gas Elpiji 3 kg (subsidi) ke tabung non-subsidi untuk meraup keuntungan pribadi.
Tak berhenti di pangkalan, tim gabungan juga melakukan sidak ke sejumlah agen gas Elpiji. Petugas melakukan pengecekan mendetail mulai dari berat isi gas hingga kelayakan fisik tabung sebelum didistribusikan ke masyarakat.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi gas subsidi tepat sasaran dan kembali normal, serta memberikan efek jera bagi oknum yang memanfaatkan situasi untuk mempermainkan harga di tengah kebutuhan warga.
(ihc/abq)
