Melihat Lebih Dekat Kampung Na Willa di Krembangan Surabaya

Melihat Lebih Dekat Kampung Na Willa di Krembangan Surabaya

Jihan Navira - detikJatim
Minggu, 12 Apr 2026 20:40 WIB
Suasana Kampung Krembangan Surabaya yang kini dikenal sebagai “Kampung Na Willa”, mengusung nilai toleransi dan kebersamaan antarwarga.
Suasana Kampung Krembangan Surabaya yang kini dikenal sebagai
Surabaya -

Setelah viralnya film Na Willa, Kampung Krembangan di Surabaya mulai berbenah menjadi "Kampung Na Willa". Lebih dari sekadar penamaan, perubahan ini juga membawa pesan utama dari cerita tersebut, yakni tentang pentingnya toleransi antarwarga.

Baik dalam buku maupun filmnya, Na Willa mengisahkan persahabatan lintas agama yang erat. Cerita ini diangkat dari pengalaman nyata penulisnya, Reda Gaudiamo, saat tinggal di Gang Krembangan Bhakti Gang XI bersama teman-teman masa kecilnya, termasuk Umi Ida yang menginspirasi tokoh Farida.

Ketua RW 02 Krembangan Bhakti, Mochamad Ilham Ramadhani (27), mengaku awalnya ia dan warga tidak mengetahui bahwa kampung mereka menjadi inspirasi cerita tersebut. Namun, ia membenarkan bahwa kisah yang ditulis Reda-yang akrab disapa Bu Reda-mencerminkan kehidupan nyata masyarakat setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kampung ini memang dari dulu menjunjung tinggi toleransi. Saling menghargai satu sama lain," ungkapnya.

Karena itu, konsep Kampung Na Willa yang kini diusung lebih menonjolkan nilai-nilai sosial masyarakat. Konsep tersebut juga sejalan dengan program Kampung Pancasila yang dicanangkan Pemerintah Kota Surabaya.

ADVERTISEMENT

"Berbenahnya kampung kita menjadi Kampung Na Willa ini menyamakan sesuai programnya Pak Wali Kota, yaitu Kampung Pancasila yang menekankan nilai gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial," ujar Ilham.

Suasana Kampung Krembangan Surabaya yang kini dikenal sebagai Anak-anak bermain bersama tanpa gadget di Kampung Na Willa, mencerminkan kehangatan interaksi seperti dalam film. Foto: Jihan Navira/ detikjatim)

Salah satu wujud nyata dari nilai tersebut adalah program bank sampah. Dari pengelolaan sampah, warga berhasil mengumpulkan dana yang kemudian digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

"Uangnya diputar lagi untuk bantu warga yang kurang mampu. Ada juga lansia yang tinggal sendiri, kita bantu dari situ," jelas Ilham.

Selain itu, warga juga berencana melakukan penghijauan agar lingkungan kampung menjadi lebih asri, meski tidak sepenuhnya menyerupai visual dalam film.

Saat detikJatim berada di lokasi, terlihat banyak anak-anak seusia tokoh Na Willa dan Farida bermain bersama, seperti yang digambarkan dalam film. Mereka bermain tanpa gadget, hanya bercengkerama dan bercerita sepulang sekolah.

Dari situ, Ilham menyoroti perbedaan interaksi anak-anak zaman dulu dengan sekarang. Menurutnya, kisah Na Willa menggambarkan kedekatan sosial yang kini mulai berkurang.

"Dulu anak-anak main bareng, ke rumah teman sampai nginep. Sekarang lebih banyak main sendiri karena teknologi," ujarnya.

Ia berharap nilai kebersamaan seperti yang tergambar dalam cerita tersebut dapat kembali dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat, tidak hanya di Kampung Krembangan, tetapi juga di kampung-kampung lain di Surabaya.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads