Kampung Krembangan di Surabaya perlahan lepas dari stigma negatif yang selama ini melekat, berkat munculnya citra baru sebagai kampung toleransi yang terinspirasi dari film Na Willa.
Ketua RW 02 Krembangan Bhakti, Mochamad Ilham Ramadhani (27), menegaskan bahwa perubahan terbesar yang dirasakan warga adalah hilangnya stigma negatif yang selama ini melekat pada kawasan Krembangan.
Menurutnya, kehadiran film Na Willa membantu menampilkan wajah lain Krembangan sebagai kampung yang penuh toleransi, kebersamaan, dan nilai sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ngapunten, kadang orang nyebut Utara koyok isin kadang. Ngapunten, nyebut Krembangan biasanya nyebutnya bandar narkoba dan hal negatif lainnya. Sekarang berkat Na Willa, orang jadi tahu sisi asli dari kampung ini," kata Ilham.
Ketua RW 02 Krembangan Bhakti, Mochamad Ilham Ramadhani (27) Foto: Jihan Navira/ detikjatim) |
Di akhir, Ilham berharap perubahan citra tersebut dapat membuat warga lebih percaya diri dan bangga dengan identitas mereka sebagai warga Krembangan.
"Dulu banyak yang minder kalau bilang lahir di Krembangan. Yang dulunya Krembangan Bhakti berstigma negatif, sekarang kita kembalikan yang baik-baiknya, dan justru bangga karena kampung ini menjadi salah satu contoh kampung yang bernilai positif," ujar Ilham.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak yang telah mengangkat cerita kampung tersebut ke publik, terutama kepada penulis Na Willa, Reda Gaudiamo.
"Terima kasih khususnya Bu Reda sudah mengangkat kampung kami sehingga warga Krembangan ini turut bangga dan senang untuk menampilkan jiwa sosok Krembangan, jiwa areknya Krembangan yang saling menghargai satu sama lain. Semoga nilai toleransi dan kebersamaan ini bisa terus dikenal," pungkasnya.
(ihc/ihc)
