Sebannyak 12 desa yang tersebar di 5 kecamatan, masuk dalam daftar rawan mengalami krisis air bersih tahun ini. Ini berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk, seiring masuknya musim kemarau.
Ke-12 wilayah yang rawan kekeringan itu meliputi Desa Tempuran dan Desa Ngluyu di Kecamatan Ngluyu. Lalu Desa Sumberjo di Kecamatan Gondang, Desa Oro-Oro Ombo dan Desa Mojoduwur di Kecamatan Ngetos serta Desa Genjeng dan Desa Macanan di Kecamatan Loceret.
Kemudian di Kecamatan Pace meliputi Desa Sanan, Desa Gondang, Desa Jatigreges, Desa Pace, serta Desa Joho.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Pelaksana BPBD Nganjuk, Sutomo mengatakan, belasan desa tersebut masuk kategori rawan berdasarkan pengalaman musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Di mana, hampir selalu terdampak karena debit sumber air menurun drastis. Selain itu banyak sumur warga mengering.
"Jadi desa-desa tersebut memang punya riwayat pernah kekeringan air," ujar Sutomo, Selasa (12/5/2026).
Menurut Sutomo, kondisi geografis menjadi salah satu faktor penyebab. Sebagian wilayah memiliki kedalaman air tanah lebih dari 100 meter. Kondisi itu membuat warga sulit menjangkau sumber air dengan sumur manual.
"Saat ini masih dilakukan asesmen lanjutan terhadap desa-desa tersebut. Pemetaan dilakukan untuk menentukan tingkat kerawanan, mana yang kategori rawan, mana yang sangat rawan. Hasil asesmen itu nantinya menjadi dasar penentuan prioritas penanganan.
"Supaya langkah penanganannya tepat," imbuh Sutomo.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah menyiagakan sejumlah armada truk tangki untuk dropping air bersih, jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Selain itu, bantuan tandon air besar juga sudah disiapkan untuk mendukung distribusi, apabila ada permintaan dari masyarakat.
"Bulan ini sudah masuk kemarau. Kami memastikan personel siaga dan melakukan pemantauan kondisi lapangan terutama di wilayah rawan," pungkas Sutomo.
(auh/abq)
