Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Slahung, Ponorogo, menyebabkan longsor dan merusak Jembatan Plapar di Desa Caluk. Akibatnya, kendaraan bertonase di atas 10 ton dilarang melintas di jalur provinsi tersebut. Padahal jembatan ini merupakan akses utama dari Ponorogo menuju ke Pacitan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Agung Prasetyo mengatakan, kerusakan terjadi pada talud sisi utara dan selatan jembatan usai diterjang banjir deras, Selasa (19/5) malam.
"Talud di sisi utara maupun selatan jembatan mengalami longsor dan kerusakannya cukup fatal. Kalau tidak segera ditangani tentu bisa berpengaruh pada struktur jembatan," kata Agung, Rabu (20/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, derasnya arus sungai juga membawa rumpun bambu yang tersangkut di bagian utara jembatan. Saat ini BPBD bersama pihak terkait masih melakukan asesmen di lokasi.
Untuk mengantisipasi risiko, arus lalu lintas dibatasi. Kendaraan dengan muatan lebih dari 10 ton tidak diperbolehkan melintas.
"Dari DLLAJ dan kepolisian sudah dilakukan pembatasan maksimal 10 ton dan rekayasa arus lalu lintas," ujarnya.
Kalaksa BPBD Ponorogo, Masun menyebut, selain di Desa Caluk, longsor juga terjadi di Desa Wates, Kecamatan Slahung. Material longsor sempat menutup jalan di jalur Ponorogo-Pacitan selama beberapa jam.
"Sekarang jalan sudah bisa dilalui setelah dilakukan pembersihan menggunakan alat berat dari PU Bina Marga Provinsi," kata Masun.
Sementara itu, Kapolsek Slahung AKP Pitoyo mengatakan longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama sekitar dua jam.
"Material longsor berupa lumpur sempat menutup jalan di KM 56 perbatasan Ponorogo-Pacitan," ujar Pitoyo.
Ia memastikan kondisi jalan kini sudah kembali bisa dilalui. Namun untuk Jembatan Plapar, kendaraan di atas 10 ton diminta putar balik demi keselamatan.
"Yang ambrol plengsengannya, bukan badan jembatannya. Tapi kendaraan lebih dari 10 ton tidak bisa melintas," pungkasnya.
(auh/hil)
