Jejak Mistis Keraton Gunung Kawi yang Ramai Dikaitkan Tempat Pesugihan

Jejak Mistis Keraton Gunung Kawi yang Ramai Dikaitkan Tempat Pesugihan

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 21 Mei 2026 15:40 WIB
Pohon Dewandaru berdiri di sisi timur Keraton Gunung Kawi
Keraton Gunung Kawi/Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Malang -

Keraton Gunung Kawi kembali menjadi sorotan setelah kemunculan Marcel Radhival atau Pesulap Merah yang membongkar dugaan praktik pesugihan di lokasi tersebut. Tempat yang berada di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang, itu memang sejak lama dikenal lekat dengan nuansa mistis.

detikJatim pernah menelusuri langsung kawasan Keraton Gunung Kawi untuk menggali fakta di balik rumor pesugihan yang terus berkembang di masyarakat. Lokasinya berada di ketinggian sekitar 2.860 mdpl dan biasanya ramai didatangi peziarah pada malam Kamis Kliwon hingga malam 1 Suro (Muharram).

Jika keraton biasanya identik dengan bangunan megah, tetapi di Keraton Gunung Kawi mempunyai bangunan fisik yang jauh dari kemegahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dengan gambaran keraton pada umumnya yang megah, Keraton Gunung Kawi justru memiliki bangunan sederhana. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Malang menggunakan motor maupun mobil.

Sesampainya di kawasan keraton, hawa sejuk pegunungan berpadu dengan suasana sunyi yang membuat nuansa mistis terasa begitu kuat. Di sejumlah sudut area terlihat sesajen yang diletakkan pengunjung. Ini menunjukkan bahwa tempat ini sering digunakan sebagai tempat pemujaan oleh warga yang mempercayainya.

ADVERTISEMENT

Jika seseorang pertama kali memasuki area ini, pasti merasa sedikit takut. Pasalnya, suasana keraton sangat hening nan keramat. Itu akan membuat siapa pun yang memandangi setiap ornamen di sekitarnya merasa tak nyaman.

Setelah memasuki pintu gapura, pengunjung akan menemui tiga makam yang dipercaya merupakan pengawal setia dari Eyang Tunggul Manik dan istrinya Eyang Tunggul Wati yang dimakamkan di komplek dalam keraton. Mereka adalah Eyang Hamid, Eyang Broto dan Eyang Joyo.

Setelah melewati area makam tersebut, pengunjung akan menemui sebuah bangunan tepat berada di ujung anak tangga dinamai Kraton Gunung Kawi.

Pada sisi timur bangunan berdiri pohon Dewandaru yang dipercaya merupakan pohon keberuntungan. Sedangkan pada sisi barat terdapat bangunan tempat ibadah umat beragama Konghucu.

Seperti halnya pesarean, di Keraton Gunung Kawi juga menunjukan adanya keberagaam budaya dan keyakinan dari lima agama, dengan berdirinya masjid, gereja, pura, dan klenteng.

Selain pohon Dewandaru yang disakralkan sebagai tanaman pembawa keberuntungan, Pohon ini tumbuh pada sisi timur dari teras keraton.

Sementara makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati berada di sisi utara dari keraton atau tepat di ujung bawah anak tangga untuk menuju tempat pertapaan.

Jono, salah satu penjaga sekaligus pemandu bagi pengunjung yang datang ke Keraton Gunung Kawi menyatakan, pesugihan yang disematkan terhadap Keraton Gunung Kawi tidaklah benar. Sebab, Keraton Gunung Kawi sejak awal banyak didatangi peziarah untuk beribadah sekaligus berdoa sebagai upaya mewujudkan keinginan yang dimiliki.

"Di sini sama halnya dengan makam pada umumnya. Datang ke sini untuk berziarah, bertawasul kepada leluhur. Bukan tempat mencari pesugihan, itu tidak benar," kata Jono ditemui detikJatim, Kamis (12/10/2023).

Jono mengaku, dalam Keraton Gunung Kawi memiliki beberapa tempat. Diantaranya keraton itu sendiri, makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati, serta tempat meditasi. Selain rumah ibadah bagi lima agama yang diakui di Indonesia.

"Makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati merupakan punjer (pusat) dari komplek keraton. Banyak yang datang untuk berziarah disini," akunya.

Setahu Jono, Eyang Tunggul Manik dan istrinya Eyang Tunggul Wati merupakan tokoh asal Kediri, yang kemudian memilih untuk menetap di wilayah yang sekarang menjadi lokasi keraton.

"Beliau asalnya Kediri, menetap disini untuk bersemedi hingga sampai meninggal dan dimakamkan disini," katanya.

Lalu, bagaimana asal muasal Keraton Gunung Kawi banyak kemudian dikunjungi masyarakat untuk ngalab berkah?

Jono menuturkan, semenjak pindah untuk menjauh dari ramainya kehidupan, keberadaan Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati ternyata banyak diketahui masyarakat. Mereka datang untuk meminta wejangan hidup.

"Sampai kemudian wafat, masyarakat tetap berkunjung ke sini untuk berziarah. Hanya itu tujuannya, bukan ada hal lain (pesugihan)," beber Jono.

Menurut Jono, seseorang yang ingin usahanya sukses dan diberikan kelancaran atau pun tujuan yang lain. Biasanya berdoa di makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati.

"Jadi bukan pesugihan. Biasanya orang berdoa meminta kelancaran dan kesuksesan di sini sebagai perantaranya," paparnya.

Jono mengungkapkan, peziarah akan kembali datang sebagai wujud syukur. Karena mengetahui usaha sukses atau permasalahan yang dihadapi bisa selesai.

"Doa dengan niat ikhlas dari hati dan kemudian terkabul. Semua kembali ke pribadi masing-masing, ketika terkabul peziarah kembali untuk menyatakan syukur dan mengirim doa kepada leluhur," tuturnya.

Para peziarah telah sukses dalam karir maupun usaha, bukan hanya datang menggelar selametan. Melainkan memberikan donasi untuk biaya pembangunan.

"Di sini bangunan sampai ada Wi-Fi dari donasi peziarah. Banyak baik dari Malang sampai luar Jawa," katanya.

Menurut Jono, Keraton Gunung Kawi berada di lahan milik Perhutani yang dikelola oleh masyarakat desa setempat. Setidaknya ada 20 warga yang terlibat sebagai pemandu sekaligus penjaga dan merawat komplek keraton.

"Disini ada 20 warga yang terlibat, jadi pemandu, penjaga dan merawat keraton. Kalau juru kunci ada 10 orang, bertugas secara bergiliran," pungkasnya.

Setiap pengunjung diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 12 ribu, untuk bisa masuk ke Keraton Gunung Kawi. Jika membawa motor harus menambah biaya parkir sebesar Rp 5 ribu.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads