Air dan lumpur dari semburan Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, selama ini dialirkan dan ditampung di area tanggul penampungan. Sebagian air yang telah diproses kemudian dipompa dan dibuang ke Sungai Porong.
Di muara sungai, endapan lumpur tersebut terus menumpuk menjadi sedimen hingga membentuk daratan baru yang dikenal sebagai Pulau Lusi. Posisi Pulau Lusi kini berada di muara Sungai Porong dan menjadi salah satu dampak nyata dari aliran lumpur selama hampir dua dekade terakhir.
Pantauan detikJatim di area tanggul penahan lumpur mulai titik 25 hingga titik 35 memperlihatkan adanya tiga kapal keruk yang masih berada di area penampungan. Di kanan kiri tanggul juga tampak sejumlah pipa yang diduga digunakan untuk mengalirkan air dari kolam penampungan menuju Sungai Porong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dalam sepekan terakhir, aliran air dan lumpur dari pipa-pipa tersebut tidak lagi terlihat. Sedikitnya terdapat enam pipa utama dan empat pipa di area spillway yang tampak tidak mengeluarkan aliran air maupun lumpur.
Selama ini pengaliran lumpur ke Kali Porong dilakukan secara mekanis. Sebab kondisi lumpur yang sangat kental membuat aliran tidak bisa bergerak secara gravitasi akibat keterbatasan beda ketinggian antara permukaan lumpur dengan Kali Porong.
Karena itu, berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengoperasikan kapal keruk dan pompa untuk mengarahkan aliran lumpur ke selatan melalui saluran spillway sebelum dipompa keluar menuju Kali Porong.
Sejak diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2017, tugas dan fungsi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dialihkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ketentuan itu diperkuat melalui Peraturan Menteri PUPR Nomor 3 Tahun 2019 dengan pembentukan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS).
Meski demikian, hingga genap berusia 20 tahun, informasi terbaru terkait volume semburan maupun suhu lumpur sulit diperoleh.
Berdasarkan data PPLS tahun lalu, pada awal kemunculannya semburan lumpur mencapai sekitar 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari dengan kandungan padatan 35 persen dan temperatur mencapai 100 derajat Celsius.
Pada pengukuran tahun 2017, volume semburan tercatat masih mencapai 86.270 meter kubik per hari dengan sifat semburan yang fluktuatif.
Selain itu, semburan lumpur di Sidoarjo disebut diikuti deformasi geologi aktif di sekitar lokasi semburan. Sejumlah ahli geologi juga berpendapat fenomena Lusi merupakan gunung lumpur yang berkaitan dengan aktivitas vulkanisme dan belum dapat diprediksi kapan akan berhenti.
Puji (58), mantan warga Kelurahan Siring, mengaku dua minggu lalu pipa pembuangan masih terlihat mengalirkan air dan lumpur menuju Sungai Porong.
"Masih keluar air sama lumpur. Tapi sekitar satu minggu ini sudah tidak kelihatan mengalir lagi," kata Puji kepada detikJatim.
Ia mengaku tidak mengetahui penyebab berhentinya aliran tersebut maupun alasan teknis penghentian pembuangan air dan lumpur ke Sungai Porong.
(ihc/dpe)