Aliran Lumpur ke Sungai Porong Terhenti, Volume Semburan Masih Misteri

20 Tahun Lumpur Lapindo

Aliran Lumpur ke Sungai Porong Terhenti, Volume Semburan Masih Misteri

Denza Perdana - detikJatim
Jumat, 29 Mei 2026 14:45 WIB
Pipa-pipa yang mengalirkan lumpur ke Sungai Porong
Pipa-pipa yang mengalirkan lumpur ke Sungai Porong. (Foto: Suparno Nodhor/ detikjatim)
Sidoarjo -

Genap dua dekade sejak pertama kali menyembur, informasi soal kondisi terkini Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo justru semakin abu-abu. Publik kini dihadapkan pada teka-teki besar mengenai berapa volume riil semburan harian maupun fluktuasi suhunya, seiring dengan semakin tak terlihatnya aliran air dan lumpur yang biasanya dibuang ke Sungai Porong.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, misteri mengenai kondisi di pusat semburan ini berbanding lurus dengan mandeknya aktivitas pembuangan material terlarut ke badan sungai dalam sepekan terakhir. Pipa-pipa raksasa yang biasanya menyemburkan air hasil olahan kini mendadak kering tanpa aktivitas visual.

Pantauan detikJatim di area tanggul penahan lumpur mulai titik 25 hingga titik 35 memperlihatkan adanya tiga kapal keruk yang masih berada di area penampungan. Di kanan kiri tanggul juga tampak sejumlah pipa yang diduga digunakan untuk mengalirkan air dari kolam penampungan menuju Sungai Porong.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dalam sepekan terakhir, aliran air dan lumpur dari pipa-pipa tersebut tidak lagi terlihat. Sedikitnya terdapat enam pipa utama dan empat pipa di area spillway yang tampak tidak mengeluarkan aliran air maupun lumpur.

Data Volume Semburan dan Suhu Lumpur Sulit Diakses

Ketertutupan akses informasi mengenai volume semburan aktual menjadi tanda tanya besar bagi para pengamat lingkungan dan masyarakat terdampak. Sejak kendali penanganan beralih di bawah Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Kementerian PUPR, pembaruan data berkala yang bisa diakses publik justru kian minim.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, hingga genap berusia 20 tahun, informasi terbaru terkait volume semburan maupun suhu lumpur sulit diperoleh.

Sebagai gambaran historis, berdasarkan data PPLS tahun lalu, pada awal kemunculannya semburan lumpur mencapai sekitar 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari dengan kandungan padatan 35 persen dan temperatur mencapai 100 derajat Celsius.

Sementara itu, pada pengukuran tahun 2017, volume semburan tercatat masih mencapai 86.270 meter kubik per hari dengan sifat semburan yang fluktuatif. Setelah periode tersebut, kepastian angka luapan lumpur Lapindo ini sulit diakses publik.

Padahal, kepastian volume ini sangat krusial mengingat semburan lumpur di Sidoarjo itu diikuti deformasi geologi aktif di sekitar lokasi semburan. Sejumlah ahli geologi juga berpendapat fenomena Lusi merupakan gunung lumpur yang berkaitan dengan aktivitas vulkanisme dan belum dapat diprediksi kapan akan berhenti.

Kesaksian Warga Soal Aliran Lumpur yang Mandek

Selama ini, air dan lumpur dari semburan Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo dialirkan dan ditampung di area tanggul penampungan. Sebagian air yang sudah diproses dipompa dan dibuang ke Sungai Porong. Di muara sungai, endapan lumpur itu terus menumpuk menjadi sedimen hingga membentuk daratan baru yang dikenal sebagai Pulau Lusi.

Pengaliran lumpur ke Kali Porong dilakukan secara mekanis karena kondisi lumpur yang sangat kental membuat aliran tidak bisa bergerak secara gravitasi akibat keterbatasan beda ketinggian antara permukaan lumpur dengan Kali Porong.

Berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengoperasikan kapal keruk dan pompa untuk mengarahkan aliran lumpur ke selatan melalui saluran spillway sebelum dipompa keluar menuju Kali Porong.

Hilangnya aliran pembuangan mekanis secara mendadak dalam beberapa hari terakhir dibenarkan oleh warga sekitar tanggul yang rutin mengamati pergerakan pipa pembuangan tersebut. Puji (58), mantan warga Kelurahan Siring, mengaku dua minggu lalu pipa pembuangan masih terlihat mengalirkan air dan lumpur menuju Sungai Porong.

"Masih keluar air sama lumpur. Tapi sekitar satu minggu ini sudah tidak kelihatan mengalir lagi," kata Puji kepada detikJatim.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab berhentinya aliran tersebut maupun alasan teknis penghentian pembuangan air dan lumpur ke Sungai Porong. Mandeknya aliran ini kian menebalkan dinding misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi di pusat semburan Lumpur Lapindo saat ini.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads