Dua dekade setelah semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul pada 29 Mei 2006, ada sejumlah fakta terbaru yang memunculkan pertanyaan. Salah satunya terkait aliran lumpur ke Sungai Porong yang tak lagi terlihat.
Kepala Bidang Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Zulyana Tandju menegaskan aliran lumpur masih mengalir ke Sungai Porong.
"Masih ada (aliran lumpur ke sungai Porong)," kata Zulyana kepada detikJatim, Sabtu (30/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulyana mengatakan, aliran lumpur ke Sungai Porong masih dilakukan. Bahkan sudah rutin dilakukan setiap tahunnya.
"Rutin setiap tahun, sesuai jadwal kegiatan kontrak pengaliran lumpur," tambahnya.
Zulyana kemudian membeberkan pengaliran lumpur saat ini masih ada dengan rata-rata volume 20 Juta M³/tahun.
"Pengaliran lumpur saat ini masih ada secara terus menerus dalam volume tertentu, rata-rata 20 juta meter kubik per tahun yang dilakukan secara mekanis menggunakan peralatan alat berat," jelasnya.
Alat berat itu, kata Zulyana yakni kapal keruk dan pompa melalui pipa outlet yang dialirkan ke Sungai/Kali Porong. Hal ini untuk menjaga kapasitas tampungan genangan waduk agar tetap pada clearance atau jarak ruang aman terhadap top level puncak tanggul.
"Ditambah dengan volume air hujan atau curah yang tinggi agar tidak overtopping," tandasnya.
Sebelumnya, warga Porong bertanya-tanya mengapa aliran lumpur ke Sungai Porong tak lagi terlihat mengalir. Puji (58), mantan warga Kelurahan Siring, mengaku dua minggu lalu pipa pembuangan masih terlihat mengalirkan air dan lumpur menuju Sungai Porong.
"Masih keluar air sama lumpur. Tapi sekitar satu minggu ini sudah tidak kelihatan mengalir lagi," kata Puji kepada detikJatim.
Ia mengaku tidak mengetahui penyebab berhentinya aliran tersebut maupun alasan teknis penghentian pembuangan air dan lumpur ke Sungai Porong.
(auh/hil)