Getok Harga Modus Iba Belasan Tahun, Penjual Tape di Malang 'Melegenda'

Getok Harga Modus Iba Belasan Tahun, Penjual Tape di Malang 'Melegenda'

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Minggu, 07 Jun 2026 22:21 WIB
Viral penjual tape yang getok harga dengan modus iba menyasar maba di kampus-kampus Kota Malang.
Viral penjual tape yang getok harga dengan modus iba menyasar maba di kampus-kampus Kota Malang. (Foto: tangkapan layar)
Kota Malang -

Aksi getok harga oleh penjual tape keliling di area kampus Kota Malang ternyata bukan cerita baru. Saking lamanya beroperasi dengan modus yang konsisten, sang penjual tape itu bahkan sudah dianggap sebagai urban legend penipuan di kalangan alumni Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM).

Informasi dari berbagai sumber menyebutkan bahwa oknum ini sudah melancarkan aksinya selama belasan tahun. Cerita ini dikuatkan pengakuan salah satu korban lama melalui akun @they78pretend yang menceritakan pengalamannya belasan tahun silam.

"Tahun 2008 udah ngejual tape seharga 60 ribu, aku dan temenku hampir jadi korbannya. Jalan keliling UB nyeker, wajah memelas... maksa beli tape: uang ini gak ada artinya untuk sampean yg mahasiswa. Hah? Bapak ini beneran bisa manfaatin," tulis akun tersebut dikutip detikJatim pada Minggu (7/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi "jual iba" bapak penjual tape ini juga dibenarkan oleh Moch Rexy, salah satu alumni Universitas Negeri Malang yang sempat terjebak taktik pemasaran memelas sang bapak saat masih aktif berkuliah.

"Tahun 2018 dia menawarkan harga Rp 20-25 ribu. Macak melas melaku (berlagak kasihan sambil berjalan kaki). Saya lihat saat itu dia bawa sekitar 20 bungkus," ujar Rexy kepada detikJatim. Karena merasa tidak tega melihat kondisi sang penjual yang tampak kepayahan, Rexy akhirnya memutuskan untuk membeli satu bungkus tape seharga Rp 20 ribu.

ADVERTISEMENT

Namun, rasa simpati Rexy seketika berubah setelah ia menyelesaikan studinya dan mengetahui realita yang ada.

"Karena kasihan, saat itu aku beli satu kantong kresek harga Rp 20 ribu, meski pada waktu itu harga pasaran Rp 5 ribu. Setelah lulus baru tahu kalau itu ternyata disengaja jual mahal," imbuhnya.

Sepengetahuan Rexy, wilayah operasi bapak itu memang sangat luas di lingkungan UM.

"Dulu tahunya dia keliling di dekat Masjid UM. Kadang ketemu juga di area Perpustakaan UM sampai ke Gedung Graha Cakrawala," bebernya.

Keluhan serupa juga sempat dibagikan oleh akun @agitaali yang mengaku diperas saat masih kuliah sekitar tahun 2009 atau 2010 silam dengan nominal yang tidak masuk akal pada zamannya. Saat itu ia dimintai uang sebesar Rp 35.000 untuk satu kresek tape singkong.

"Jaman semono (zaman segitu) 35k wes bisa untuk 6-7x makan," keluhnya menyesali kejadian tersebut.




(abq/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads