Surabaya Diguyur Hujan Padahal Sudah Kemarau, Ternyata Ini Penyebabnya

Surabaya Diguyur Hujan Padahal Sudah Kemarau, Ternyata Ini Penyebabnya

Jihan - detikJatim
Jumat, 12 Jun 2026 13:15 WIB
Ilustrasi hujan lokal saat musim kemarau.
Ilustrasi hujan lokal saat musim kemarau. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Surabaya pada Jumat (12/6/2026) membuat banyak warga bertanya-tanya. Pasalnya, Jawa Timur (Jatim) saat ini mulai memasuki musim kemarau.

Namun, di tengah cuaca yang sempat panas dan kering selama beberapa pekan terakhir, hujan kembali turun di sejumlah kawasan Kota Pahlawan. Lalu, mengapa hujan masih terjadi saat kemarau mulai berlangsung?

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa meski musim kemarau mulai meluas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, kondisi atmosfer masih cukup dinamis dan mendukung pertumbuhan awan hujan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, dalam prospek cuaca terbaru, Jawa Timur masih masuk wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam beberapa hari ke depan. Karena itu, hujan lokal yang terjadi secara tiba-tiba masih mungkin terjadi meski kemarau mulai berkembang.

Kenapa Surabaya Masih Hujan Meski Sudah Memasuki Musim Kemarau?

Banyak orang menganggap musim kemarau berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Padahal, menurut BMKG, kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali.

ADVERTISEMENT

Musim kemarau ditandai dengan berkurangnya curah hujan secara umum. Namun dalam praktiknya, hujan masih dapat terjadi akibat kondisi atmosfer tertentu yang mendukung pembentukan awan hujan.

Di Surabaya dan sejumlah wilayah Jawa Timur, suhu udara yang cukup panas pada siang hari masih memicu proses penguapan yang tinggi. Ketika kelembapan udara tetap terjaga dan kondisi atmosfer mendukung, awan hujan dapat tumbuh dengan cepat.

Kemudian menghasilkan hujan lokal pada sore hingga malam hari. Karena itu, masyarakat masih dapat menjumpai cuaca terik pada siang hari yang kemudian berubah menjadi mendung dan hujan dalam waktu relatif singkat.

Dinamika Atmosfer Masih Memicu Pertumbuhan Awan Hujan

BMKG menjelaskan saat ini musim kemarau mulai berkembang seiring menguatnya Monsun Australia yang umumnya membawa massa udara lebih kering ke wilayah Indonesia bagian selatan.

Meski demikian, sejumlah dinamika atmosfer masih aktif dan dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur.

Faktor seperti kelembapan udara yang masih cukup tinggi, pola pergerakan angin, serta aktivitas gelombang atmosfer membuat potensi pembentukan awan hujan belum sepenuhnya hilang.

Kondisi inilah yang menyebabkan hujan masih dapat turun meski secara klimatologis wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau.

Kenapa Siang Panas tapi Sore Tiba-tiba Hujan?

Fenomena cuaca panas pada siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan deras pada sore atau malam hari merupakan kondisi yang cukup umum saat masa pancaroba.

Udara panas membuat permukaan bumi memanaskan lapisan udara di atasnya. Ketika kelembapan udara cukup tinggi dan kondisi atmosfer mendukung, awan hujan dapat tumbuh dengan cepat dalam hitungan jam.

Akibatnya, langit yang semula cerah dan terik dapat berubah mendung dalam waktu singkat. Tidak jarang kondisi ini disertai petir, angin kencang, dan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Selain pengaruh pancaroba, BMKG menjelaskan bahwa kondisi atmosfer di wilayah Indonesia masih memungkinkan terbentuknya awan hujan meski musim kemarau mulai meluas.

Beberapa faktor seperti kelembapan udara yang masih cukup tinggi, belokan angin, hingga aktivitas gelombang atmosfer dapat membantu pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah, termasuk Jatim. Karena itu, hujan lokal masih berpotensi terjadi tiba-tiba meski secara umum wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau.

Dampak Cuaca Ekstrem yang Perlu Diwaspadai

Perubahan cuaca berlangsung cepat dapat memicu berbagai gangguan, terutama di wilayah perkotaan seperti Surabaya. Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain genangan di jalan raya, pohon tumbang akibat angin kencang, sambaran petir saat hujan deras, hingga kemacetan lalu lintas secara mendadak.

Hujan dengan durasi singkat tetapi berintensitas tinggi juga berpotensi menyebabkan genangan dalam waktu cepat, terutama di kawasan dengan sistem drainase yang tidak optimal.

Apa yang Perlu Dilakukan Saat Cuaca Mulai Memburuk?

Saat cuaca mulai mendung dan angin terasa semakin kencang, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi hujan lebat maupun petir. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan deras dan petir mulai terjadi.

Selain itu, hindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, maupun tiang listrik yang berisiko roboh saat angin kencang. Masyarakat juga dapat menyiapkan payung atau jas hujan saat beraktivitas serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba.

Meski musim kemarau mulai berlangsung di sejumlah wilayah Jatim, hujan masih dapat terjadi karena pengaruh masa pancaroba dan kondisi atmosfer yang belum sepenuhnya stabil. Karena itu, warga Surabaya diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat muncul sewaktu-waktu.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads