Mas Dhito Bangga 101 Lulusan Boarding School Kediri Lolos PTN-PTS

Mas Dhito Bangga 101 Lulusan Boarding School Kediri Lolos PTN-PTS

Tim detikJatim - detikJatim
Minggu, 14 Jun 2026 17:40 WIB
Bupati Kediri Mas Dhito saat wisuda siswa boarding school
Bupati Kediri Mas Dhito saat wisuda siswa boarding school/Foto: Istimewa
Kediri -

Harapan yang dulu terasa mustahil kini berubah menjadi kenyataan bagi puluhan anak dari keluarga kurang mampu di Kabupaten Kediri. Sebanyak 126 siswa angkatan pertama SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School resmi dilepas setelah berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan tingkat kelulusan masuk perguruan tinggi yang menembus lebih dari 73 persen.

Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Program sekolah berasrama gratis yang digagas Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito berhasil membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga Desil 1 untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Sebanyak 126 siswa angkatan pertama SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School resmi dilepas dalam acara kelulusan yang digelar di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Minggu (14/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angkatan perdana sekolah berasrama gratis tersebut mencatatkan capaian membanggakan dengan tingkat penerimaan perguruan tinggi yang disebut tertinggi di Kabupaten Kediri.

ADVERTISEMENT

Mas Dhito mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian para siswa. Menurutnya, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan.

"Passing grade-nya bisa di atas 70 persen untuk angkatan pertama. Alhamdulillah (persentase) ini menjadi lulusan dengan penerimaan di perguruan tinggi terbaik se-Kabupaten Kediri, bahkan mengalahkan beberapa kota/kabupaten lain," katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan, dari 56 siswa yang mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), sebanyak 41 siswa atau 73,21 persen dinyatakan lolos ke perguruan tinggi negeri. Selain itu, 10 siswa lainnya diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Secara keseluruhan, sebanyak 101 siswa berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri maupun swasta. Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan proyeksi awal yang hanya berada di kisaran 32 persen.

SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School yang diresmikan pada 2023 merupakan program unggulan Pemerintah Kabupaten Kediri untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan gratis. Seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan siswa ditanggung melalui APBD Kabupaten Kediri.

Para siswa yang menempuh pendidikan di sekolah ini berasal dari keluarga Desil 1. Mayoritas orang tua mereka bekerja sebagai buruh tani, pedagang kecil, hingga buruh serabutan. Tiga tahun lalu, banyak dari mereka yang bahkan tidak memiliki gambaran untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Ini membuktikan bahwa mereka yang ada di Desil 1 memiliki hak yang sama. Saat mereka masuk tidak punya mimpi untuk lanjut dan begitu kita tempa selama 3 tahun buktinya hari ini mereka bisa lanjut ke perguruan tinggi," ungkap Mas Dhito.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Aditya Wahyu Pratama. Di saat sejumlah rekannya telah lebih dulu diterima di perguruan tinggi, Aditya terus berjuang mengejar kampus impiannya. Berkat kerja keras dan kedisiplinan belajar, ia berhasil diterima di Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (FTI ITB).

"Awalnya saya merasa masih kurang, tapi terus saya kejar impian saya walaupun terasa impian itu mustahil bagi saya," ucap Aditya.

Mas Dhito juga mengapresiasi dukungan Putra Sampoerna Foundation (PSF) dan berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam pengembangan sekolah berasrama tersebut. Ia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan keberadaan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

"Sekolah ini tidak boleh menjadi sekolah komersil, hanya khusus anak anak Desil 1," tegas Mas Dhito.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads