Jalur patahan aktif Sesar Kendeng yang membentang di bawah daratan Jawa Timur memiliki rekam jejak historis yang destruktif. Struktur sesar ini tercatat pernah memicu rangkaian gempa bumi dahsyat yang merusak wilayah Surabaya hingga Mojokerto di masa lampau.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr membeberkan bahwa gempa-gempa besar merusak akibat aktivitas Sesar Kendeng sebagian besar terekam dalam catatan sejarah kolonial. Berdasarkan estimasi pemodelan modern, kekuatan gempa di masa lalu tersebut diperkirakan mencapai Magnitudo 6 hingga M 7.
"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," kata Ricko saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (19/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data yang dihimpun BMKG, kerusakan parah akibat amukan sesar darat ini pertama kali tercatat melanda wilayah Mojokerto dan Jombang pada paruh awal abad ke-19. Selang beberapa puluh tahun kemudian, giliran wilayah Surabaya dan Madiun yang diguncang gempa kuat.
"Gempa bumi akibat Sesar Kendeng yang berdampak buruk di antaranya terjadi pada tahun 1836 dan 1837 di mana gempa merusak di wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang," jelas Ricko.
"Selanjutnya gempa akibat Sesar Kendeng terjadi pada tahun 1862 dan 1915, di mana gempa merusak melanda wilayah Madiun. Lalu pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya," sambungnya.
Meskipun menyisakan riwayat kelam di masa lalu, Ricko meminta masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Sifat Sesar Kendeng yang bergerak lambat membuat penumpukan energi hingga menghasilkan gempa besar membutuhkan waktu pengulangan ratusan tahun.
Apalagi, dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, potensi gempa maksimal Magnitudo 6 hingga 7 diletakkan sebagai peta skenario terburuk untuk kesiapsiagaan infrastruktur dan bangunan, bukan sebagai prediksi kepastian waktu. Pembahasan potensi inilah yang sempat viral di aplikasi Threads lewat akun @hsuliz2021 belakangan ini.
"Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," ungkapnya.
"Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi," imbau Ricko.
Hingga saat ini, belum ada sains yang mampu mendeteksi kapan tepatnya patahan ini akan kembali memicu gempa besar. "Karena sekali lagi hingga kini gempa belum bisa diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa magnitudonya kalau gempabumi tersebut belum terjadi?," tambahnya.
Adapun aktivitas pantauan BMKG dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan patahan sepanjang 300 kilometer dari Semarang hingga Jatim ini masih berada dalam taraf pelepasan energi skala kecil dan menengah yang normal.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," urai Ricko.
Secara administrasi, Sesar Kendeng terbagi menjadi 6 segmen utama yang memotong area pemukiman padat. "Jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya," tandasnya.
(auh/dpe)
