Narasi viral mengenai potensi gempa besar akibat aktivitas Sesar Kendeng di Bojonegoro sempat membuat masyarakat khawatir. Informasi yang beredar di media sosial menyebut sesar tersebut berpotensi memicu gempa darat hingga Magnitudo 7 dan ancaman tanah amblas.
Namun, BMKG dan BPBD Bojonegoro memberikan penjelasan bahwa potensi gempa memang ada, tetapi belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan gempa terjadi secara pasti.
5 Fakta Klaim Gempa Sesar Kendeng
Berikut sederet fakta terkait isu Sesar Kendeng Bojonegoro yang ramai diperbincangkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Viral Klaim Sesar Kendeng
Isu mengenai potensi gempa besar di Bojonegoro bermula dari unggahan akun Threads @hsuliz2021 yang menyebut Sesar Kendeng dapat memicu gempa darat dahsyat hingga Magnitudo 7.
Narasi tersebut kemudian ramai dibahas warganet karena mengaitkan aktivitas sesar dengan ancaman gempa besar di wilayah Jawa Timur. Menanggapi hal itu, BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai prediksi waktu gempa tidak benar karena gempa bumi belum bisa diprediksi secara pasti.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr, menjelaskan bahwa BMKG hanya menyampaikan potensi berdasarkan kajian ilmiah, bukan prediksi kapan gempa akan terjadi.
"BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," tegas Ricko saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (19/6).
2. BMKG Ungkap Kondisi Kendeng
BMKG memastikan aktivitas Sesar Kendeng yang menjadi bagian dari Java Back-arc Thrust (JBT) masih dalam kondisi normal berdasarkan hasil pemantauan terbaru.
Sesar sepanjang sekitar 300 kilometer yang membentang dari Salatiga hingga Surabaya tersebut terus dipantau secara berkala melalui sistem pemantauan aktivitas kegempaan.
"Kami terus memonitor, hingga saat ini masih dalam kondisi normal dan tidak ada lonjakan aktivitas seismik di Java Back-arc Thrust (JBT)," ungkap Ricko.
Meski demikian, BMKG menyebut Sesar Kendeng memang merupakan sesar aktif yang memiliki potensi gempa karena pernah tercatat memicu gempa merusak dalam catatan sejarah.
"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," terang Ricko.
3. Waktu Gempa Tidak Bisa Dipastikan
Menurut BMKG, aktivitas Sesar Kendeng masih berlangsung secara perlahan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemantauan menunjukkan adanya gempa-gempa kecil hingga menengah di sepanjang jalur sesar tersebut.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," tandasnya.
Ricko menjelaskan, masyarakat yang berada di wilayah sekitar jalur sesar tidak perlu panik dengan angka potensi gempa, tetapi harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
"Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempa bumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG," papar Ricko.
"Kemudian memberi info kurang dari tiga menit setelah kejadian gempa untuk meminimalisir dampak ikutan dari gempa bumi baik itu tsunami, longsor, dan lainnya," sambungnya.
4. BPBD Bojonegoro Akui Ada Potensi Gempa
BPBD Bojonegoro membenarkan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi kegempaan karena berada di zona RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala).
Kalak BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menjelaskan potensi tersebut berasal dari keberadaan sesar yang tercatat dalam kajian Pusgen.
"Berdasarkan kajian Pusgen, wilayah Bojonegoro memang memiliki potensi kegempaan akibat keberadaan Sesar Bojonegoro yang merupakan bagian dari zona RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala)," tutur Heru.
Namun, Heru menyebut pergerakan patahan tersebut berjalan sangat lambat, yakni sekitar 1 milimeter per tahun. Catatan sejarah juga menunjukkan kejadian gempa di Bojonegoro tergolong jarang.
Karena itu, BPBD menilai narasi mengenai ancaman tanah amblas secara tiba-tiba akibat aktivitas sesar yang beredar di media sosial terlalu berlebihan.
5. Masyarakat Diminta Tidak Panik
BMKG dan BPBD Bojonegoro meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum memiliki dasar ilmiah. Warga diminta mengutamakan informasi dari lembaga resmi dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana.
BMKG menegaskan hingga kini belum ada teknologi yang mampu mengetahui waktu pasti terjadinya gempa bumi.
"Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terkait info prediksi gempa. Karena hingga saat ini gempa masih belum bisa diprediksi oleh para ahli maupun negara manapun secara tepat kalau gempa buminya belum terjadi," jelas Ricko.
Sementara itu, BPBD Bojonegoro juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang dapat memicu keresahan.
"Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengacu pada informasi dari sumber resmi, serta tidak menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan keresahan," pungkas Heru.
(ihc/dpe)
