Proyek Gorong-gorong Bikin Banjir di Surabaya

Proyek Gorong-gorong Bikin Banjir di Surabaya

Esti Widiyana - detikJatim
Selasa, 23 Jun 2026 16:00 WIB
Hujan di musim kemarau menyebabkan banjir di Surabaya karena dipicu proyek gorong-gorong
Hujan di musim kemarau menyebabkan banjir di Surabaya karena dipicu proyek gorong-gorong (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Penyebab banjir di Surabaya selama dua hari saat hujan deras di musim kemarau terungkap. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membeberkan bahwa banjir karena adanya 31 titik proyek gorong-gorong. Selain itu

Dari pantauan detikJatim, banjir di kawasan Nginden Intan hingga siang ini masih banjir hingga sebetis orang dewasa. Di Nginden Jaya juga masuk perkampungan, air tak kunjung habis. Lalu di Manyar Pumpungan, genangan tinggal semata kaki orang dewasa.

Eri menjelaskan, banjir juga dipengaruhi oleh sejumlah pekerjaan pembangunan dan normalisasi saluran drainase yang sedang berlangsung di berbagai titik kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pekerjaan proyek meliputi pengerukan saluran, pemasangan box culvert, hingga perbaikan rumah pompa di sejumlah lokasi seperti Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol (rumah pompa Dinoyo), hingga Rungkut.

ADVERTISEMENT

Pada proses pengerjaan, sebagian saluran ditutup sementara. Oleh sebab itu, aliran air tidak berjalan optimal saat hujan.

"Dalam situasi seperti ini, kami dihadapkan pada dua pilihan, menghentikan proyek atau tetap melanjutkan untuk kepentingan jangka panjang. Kami memilih tetap berjalan, sambil memaksimalkan penanganan di lapangan," kata Eri, Selasa (23/6/2026).

Selain itu, kondisi pasang air laut juga memperberat penanganan. Tingginya muka air laut menyebabkan aliran sungai menuju laut terhambat, bahkan dalam beberapa kondisi air yang telah dipompa kembali terdorong ke daratan. Situasi ini membuat sistem pembuangan air tidak dapat bekerja maksimal.

"Sebagai langkah antisipasi, kami memaksimalkan fungsi boezem atau kolam tampungan sementara sebagai penyangga debit air sebelum dialirkan kembali saat kondisi memungkinkan. Sejumlah lahan juga dioptimalkan sebagai tampungan tambahan untuk mengurangi beban saluran utama," jelasnya.

Eri menegaskan, proyek drainase yang dikerjakan bukan proyek mangkrak, tetapi bagian dari pembangunan infrastruktur pengendalian banjir yang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk penyelesaian.

"Di tengah kondisi tersebut, kami juga terus melakukan evaluasi dan penyesuaian di lapangan agar penanganan genangan dapat berjalan lebih optimal. Pemerintah juga menargetkan seluruh proyek drainase dan perbaikan rumah pompa rampung sebelum puncak musim hujan pada November-Desember 2026," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads