Datangnya musim kemarau menjadi ladang rezeki tersendiri bagi emak-emak yang tinggal di pinggiran hutan lereng Gunung Wilis, Kabupaten Madiun. Untuk mengisi waktu luang sekaligus menambah penghasilan keluarga, para wanita dari usia muda hingga tua tampak antusias berburu tanaman liar menjalar yang buahnya menyerupai kacang kedelai.
Bagi warga setempat, tanaman yang tumbuh subur di antara semak belukar belantara ini menjadi komoditas sampingan yang cukup menjanjikan untuk disulap menjadi pundi-pundi rupiah.
Aktivitas musiman ini salah satunya dilakoni oleh Yayuk (60), warga Dusun Gemuruh, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Madiun. Saban hari ia memanfaatkan pagi hari untuk menjelajahi area hutan demi mengumpulkan kacang-kacangan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saben dinten pados kacang-kacangan teng alas (Setiap hari cari kacang-kacangan ke hutan)," ujar Yayuk kepada detikJatim, Senin (29/6/2026).
Setelah berjalan kaki menyusuri kawasan hutan, Yayuk biasanya pulang membawa dua ikat besar tanaman liar. Proses pengolahannya terbilang sederhana dan memanfaatkan terik kemarau. Begitu tiba di rumah tanaman menjalar itu dijemur di atas hamparan terpal hingga mengering agar bijinya mudah dipisahkan dari polongnya.
"Dijemur dikasih alas terpal biar biji terkumpul. Nanti kalau sudah kering kita rontokkan bibirnya," jelas Yayuk mengenai proses pascapanen yang dilakukannya.
Jadi Pendapatan Sampingan Keluarga
Meski menjadi sumber rezeki tahunan, Yayuk menjelaskan bahwa harga jual kacang-kacangan liar menyerupai kedelai ini sedang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kemarau tahun lalu. Saat ini harga di tingkat pengumpul berada di angka Rp 20 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat menembus angka Rp 50 ribu per kilogram.
"Harga turun ini. Dulu Rp 50 ribu per kg sekarang tinggal Rp 20 ribu," kata Yayuk.
Walau harganya fluktuatif, hal itu tidak menyurutkan semangat warga lain seperti Nia (35), warga Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan. Bagi Nia, keberadaan kacang-kacangan di pinggir hutan ini menjadi peluang usaha sampingan yang sangat membantu keuangan dapur, terutama untuk memenuhi kebutuhan ekstra sang buah hati.
"Ini sampingan saja kalau waktu longgar ke pinggir hutan alhamdulillah buat tambah beli susu anak," celoteh Nia dengan nada bersyukur.
Aktivitas berburu kedelai liar ini pun menjadi potret nyata bagaimana warga di sekitar lereng Gunung Wilis Madiun jeli melihat potensi alam. Mereka mampu memanfaatkan apa yang disediakan hutan secara bijak demi menyokong ketahanan ekonomi keluarga di musim kemarau.
(auh/dpe)
