Magis Gamelan Jawa dan 10 Gadis Penari dalam Ritual Siraman Sedudo Nganjuk

Magis Gamelan Jawa dan 10 Gadis Penari dalam Ritual Siraman Sedudo Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Senin, 29 Jun 2026 07:30 WIB
Tradisi Siraman Sedudo Nganjuk
Tradisi Siraman Sedudo Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Ribuan warga dan pejabat Kabupaten Nganjuk memadati kawasan Air Terjun Sedudo di lereng Gunung Wilis, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, untuk mengikuti ritual Siraman Sedudo, Minggu (28/6/2026).

Tradisi ini turun-temurun dilakukan setiap Bulan Suro atau Muharram. Prosesi sakral itu dihadiri Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro, jajaran Forkopimda, pejabat daerah, hingga wisatawan dari berbagai kota.

Rangkaian ritual diawali dengan prosesi adat sekitar pukul 09.00 WIB, yang dipimpin sesepuh adat dan diiringi alunan gamelan Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prosesi semakin terasa sakral dan magis, saat Tari Bedhayan Amek Tirta yang ditampilkan oleh 10 gadis belia. Tarian ini sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum turun ke kolam.

Didampingi sepuluh jejaka, para gadis belia ini kemudian mengambil air Sedudo menggunakan kendi-kendi kecil yang selanjutnya disimpan dalam wadah khusus.

ADVERTISEMENT

Setelah prosesi pengambilan air selesai, Bupati Marhaen bersama jajaran Forkopimda yang mengenakan busana adat Jawa menjalani ritual mandi langsung di bawah guyuran Air Terjun Sedudo.

Marhaen mengatakan, Siraman Sedudo bukan sekadar tradisi budaya. Tetapi juga menjadi momentum penyucian diri sekaligus doa bersama agar masyarakat memperoleh keberkahan.

"Semua keberkahan itu atas seizin dan rida Allah. Tradisi ini menjadi ikhtiar dan doa. Ada yang berharap mendapat jodoh, keturunan, kesehatan hingga awet muda, tetapi semuanya tetap dikembalikan kepada Allah SWT," ujar Marhaen.

Menurut Marhaen, mandi dalam ritual tersebut dilakukan dengan membasahi seluruh tubuh, tanpa menggunakan sabun maupun sampo. Ini disebutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kelestarian sumber mata air Sedudo.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo menambahkan, Siraman Sedudo merupakan warisan budaya yang terus dijaga.

"Karena memiliki nilai sejarah, spiritual, sekaligus menjadi daya tarik wisata daerah," ujar Gunawan.

Air Terjun Sedudo sendiri berasal dari 9 mata air Gunung Wilis, yang bermuara menjadi satu aliran. Masing-masing mata air Banyu Iber, Banyu Lawe, Banyu Cagak, Singokromo, Sadepok, Sumber Selanjar, Srigunting, Sumber Kanoman dan yang terakhir mata air Sedudo.

"Filosofi sembilan sumber yang menyatu tersebut dimaknai sebagai simbol keadilan, persatuan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat," ungkap Gunawan.

Sugiyanto, (50), warga Kota Kediri yang sengaja datang bersama keluarganya, mengaku terkesan dengan prosesi Siraman Sedudo.

"Suasananya sangat sakral dan menarik. Sekalian menikmati keindahan alam Sedudo dan mencari berkah di Bulan Suro," tutur Sugiyanto.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads