Memulai usaha dari coba-coba berhasil membawa seseorang pada kesuksesan tak terduga. Hal itu yang dialami Tri Pamungkas, seorang peternak bebek pedaging asal Dusun Gangsiran, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Usaha ternak bebek yang dia tekuni ini sudah berjalan sejak tahun 2014. Berawal dari melihat teman dan tetangganya beternak bebek, membuat Tri memantapkan diri untuk ikut terjun di dunia ternak.
Pria berusia 33 tahun itu belajar ternak bebek secara autodidak. Ia mengaku lebih banyak belajar secara mandiri ketimbang hanya mengandalkan teori dari orang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baginya, memahami kondisi bebek secara langsung jauh lebih penting daripada sekedar mengikuti petunjuk kaku, terutama dalam menghadapi suhu dingin Kota Batu.
Tri mengatakan, salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi saat berternak bebek adalah ketika merawat Day Old Duck (DOD) atau bebek yang baru menetas.
"DOD ini tidak bisa pada suhu yang terlalu dingin. Jadi kita beri lampu dop selama minimal 10 hari untuk normal. Tapi karena Kota Batu ini dingin, jadi kita lebihkan sampai 15 hari," kata dia kepada detikJatim, Kamis (29/1/2026).
Waktu krusial pada saat merawat DOD ini. Sebab, ketika lalai sedikit saja, bebek-bebek akan berdesakan mencari kehangatan dan berisiko kematian.
Pada momen ini juga harus pintar-pintar mengelola pakan, mulai dari pakan pabrikan di awal pertumbuhan hingga beralih ke pakan campuran. Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya operasional agar tidak rugi.
Bapak satu anak ini tidak memungkiri bahwa pada saat Pandemi COVID-19, usaha ternak bebek juga turut terimbas. Tidak sedikit peternak mulai dari tingkat menengah hingga besar terpaksa harus gulung tikar waktu itu.
Pada saat itu, Tri berhasil selamat berkat strategi kreatif. Bersama sang istri, ia mengubah bebek ternaknya menjadi produk olahan berupa bebek ungkep yang dijual secara online.
Strategi itu terbukti ampuh, saat pesanan daging dan bebek hidup lesu, permintaan bebek matang justru melonjak signifikan. Bahkan, usaha yang dijalankan istrinya itu sampai mendapat pesanan dari Bali dan Jakarta.
Kini, Tri telah mengelola ternak bebek yang mencapai sekitar 7 ribu ekor. Dengan rincian, 2 ribu ekor dia kelola sendiri dam sisanya bekerjasama dengan mitra peternak lain.
"Pesanan yang saya terima itu berasal dari Malang Raya. Baik dari restoran, warung makan hingga hotel. Tapi langganan yang tiap hari kami kirim itu dari warung-warung pinggir jalan," terang Tri.
Ia mengakui, sebenarnya kerap mendapat pesanan dari luar Malang Raya, tapi dia tidak langsung menerima karena cukup berhati-hati. Tri paham betul karakter bebek yang mudah stres dan rawan mati jika berdesakan di dalam keranjang pengiriman jauh.
Dengan harga pasar yang kini stabil di angka Rp 23 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram, Tri memilih untuk fokus menjaga kepercayaan pelanggan di Malang Raya sambil terus melihat peluang untuk memperbesar skala usahanya.
(auh/hil)
