Sebuah salon sederhana di sudut kampung di Jalan Kebangsren Gang II No. 21 Surabaya mendadak ramai dibicarakan. Namanya Yatty Salon. Tempatnya tampak lawas dan jauh dari kesan modern. Pintunya kerap tertutup jika berkunjung di pagi hari. Namun, jika diketuk pelan, dari dalam akan terdengar sahutan.
Begitulah yang ditemui detikJatim saat berkunjung ke sana. Setelah menunggu beberapa saat, baru terlihat Yatty Dihardjo (69) pemilik salon yang belakangan ini sering muncul di media sosial. Rupanya ia sedang beres-beres, seperti rutinitas hariannya sebelum mulai melayani pelanggan.
Yatty memang mengerjakan semuanya sendiri. Dari keramas, potong, hingga menata rambut, semua dilakukan tanpa bantuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanannya dimulai sejak tahun 1977. Sebelum membuka usaha sendiri, ia sempat bekerja di beberapa salon besar di Surabaya.
"Mulai tahun 1977 sampai 1982, sekitar lima tahun saya kerja di salon-salon di Surabaya. Di Givency dari Kapasan sampai Kusuma Bangsa, lalu ke Kasanova di Kapasan," tutur Yatty saat ditemui detikJatim, Kamis (2/4/2026).
Lingkungan kerja yang ia pilih bukan sembarangan. Kedua salon tersebut, menurutnya, masih satu keluarga besar salon yang cukup dikenal saat itu. Ia menikmati proses belajar sekaligus ritme kerja yang padat.
"Di Givency itu karyawannya sampai 13. Salonnya ramai. Saya memang senang kerja, tapi dulu sempat pindah-pindah," katanya.
Lima tahun berpindah tempat membuatnya lelah. Pada 1982, ia memutuskan berhenti dan membuka salon sendiri di kawasan kampung.
Yatty Salon Lawas di Surabaya Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Yatty mengontrak sebuah rumah untuk dijadikan salon sekaligus tempat tinggal. Dari tempat sederhana itulah ia membangun usaha sekaligus menghidupi keluarga, terutama setelah sang suami yang bekerja di Jakarta meninggal dunia.
Ia membesarkan lima anak dari hasil kerja di salon. Salah satunya sempat mengikuti jejaknya di dunia kecantikan, namun meninggal di usia 21 tahun karena sakit pada 2016. Matanya masih berkaca saat menceritakan luka itu.
Namun, hidup masih harus berjalan. Yatty kembali mengambil gunting dan sisir dan melanjutkan karyanya di bidang kecantikan. Sesekali ia juga membuka salonnya untuk anak-anak SMK yang ingin praktik magang. Sebab baginya, praktik jauh lebih mengasah kemampuan dibanding sekadar mengerti teori.
Yatty juga pernah memiliki beberapa kapster yang membantu pekerjaannya. Namun pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Pembatasan aktivitas membuat salon ikut terdampak, hingga akhirnya para pegawainya pensiun. Sejak saat itulah, Yatty kembali bekerja sendiri hingga sekarang.
"Semua saya kerjakan sendiri, dari ngeramasi sampai motong sampai nge-blow. Tapi kalau disuruh cepat, maaf saya enggak bisa, kerja aku nanti enggak maksimal," ucapnya.
Hal itu membuat pelanggan harus bersabar. Antrean jadi pemandangan sehari-hari, bahkan tidak jarang ada yang kecewa karena tidak bisa langsung dilayani. Yatty mengaku sebenarnya tak ingin hal itu terjadi, namun apa daya, ia harus mengukur kemampuan dan kesehatannya.
"Kadang ditanya, 'berapa menit lagi? Apa saya nggak bisa duluan?' Kalau terus ditanya begitu kadang saya bisa pusing, sampai sakit lambung karena kepikiran," katanya.
Nama Yatty Salon kemudian ramai dibicarakan setelah seorang pelanggan asal luar kota mengunggah pengalaman ke media sosial pada April 2025. Awalnya, pelanggan itu sempat ragu karena melihat kondisi salon yang sederhana.
"Ternyata setelah saya kerjakan, dia suka. Dari situ banyak yang tanya alamat. Puji Tuhan jadi ramai sampai sekarang," ujar Yatty.
Sejak saat itu, pelanggan berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang datang dari luar kota, bahkan luar pulau. Ia mengaku tidak menyangka dan bersyukur dengan antusiasme tersebut.
"Dari jauh-jauh, dari Semarang, dari Bali, macam-macam. Saya juga bingung tiba-tiba bisa ramai tapi bersyukur sekali," katanya.
Pada Kamis (2/4/2026) misalnya. Saat detikJatim berkunjung, pelanggan masih berdatangan, tanpa ada jeda dari pukul 09.00-12.00 WIB. Salah satunya, Angie pengunjung asal Sidoarjo. Ia mengaku baru pertama kali datang setelah melihat unggahan di TikTok.
"Ini termasuk salon hidden gem sih, harganya murah, ibunya baik dan ramah. Aku baru pertama kali ke sini, nyoba mau potong, cuci, catok setelah lihat postingan tentang salon ini fyp di TikTok," ungkap Angie.
Harga cuci, potong, dan catok di Yatty Salon memang sangat terjangkau. Pengunjung hanya perlu membayar Rp 25.000 untuk mendapatkan ketiga treatment tersebut. Di sela-sela keramas, Yatty juga memberi bonus pijatan pelan yang merilekskan pelanggan. Hal itulah yang menjadi daya tarik Yatty Salon.
Yatty Salon Lawas di Surabaya Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Meski perhatian dan pengunjung terus meningkat, Yatty tetap mempertahankan ciri khas salonnya. Tidak ada promosi khusus, tidak pula perubahan besar pada tempatnya. Baginya, kualitas kerja adalah satu-satunya yang harus dijaga.
Yatty Salon pun tetap seperti dulu. Sederhana, tenang, dan berjalan mengikuti ritme tangan perempuan kelahiran 1956 itu sendiri. Di usia yang hampir menginjak 70 tahun, Yatty masih setia berdiri di balik kursi, mengerjakan satu per satu pelanggan yang datang.
"Selama masih kuat, saya kerjakan sendiri," tegasnya.
Akhir pekan menjadi penyemangat Yatty. Sebab itu adalah saat di mana anak-anaknya bergantian mengunjungi sang ibunda tercinta untuk melepas rindu dan menghabiskan waktu bersama. Karenanya Yatty tidak pernah merasa sendirian.
(ihc/hil)


