Kelengkeng di Kebun Yulianto Sengaja Tak Dijual ke Pasar, Ini Alasannya

Kelengkeng di Kebun Yulianto Sengaja Tak Dijual ke Pasar, Ini Alasannya

Suparno - detikJatim
Selasa, 07 Apr 2026 18:30 WIB
Yuliantoo pembudi daya kelengkeng di Sidoarjo
Yulianto pembudi daya kelengkeng di Sidoarjo/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Di tengah tren petani yang berlomba menjual hasil panen ke pasar, Yulianto justru memilih jalan berbeda. Warga Tulangan, Sidoarjo ini mengubah kebun kelengkengnya menjadi ruang belajar terbuka, tempat siapa saja bisa mengenal budidaya sekaligus merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya.

Berbeda dari kebanyakan petani, Yulianto tidak menjual hasil panen kelengkengnya ke pedagang buah. Ia justru memanfaatkan kebunnya sebagai sarana edukasi bagi siswa hingga mahasiswa yang ingin belajar budidaya kelengkeng.

"Memang sengaja tidak dijual ke toko buah. Misi saya lebih ke edukasi masyarakat, supaya tahu kalau kelengkeng itu banyak varietasnya dan tidak semua sama," ujar Yulianto saat ditemui detikJatim di kebunnya, Selasa (7/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yulianto mulai menanam kelengkeng sejak 2017. Berbekal belajar secara otodidak melalui media sosial serta mengamati teknik budidaya dari petani Thailand dan Vietnam, ia menyulap lahan kritis seluas 1,5 hektare menjadi kebun produktif.

ADVERTISEMENT

Kini, ia memiliki sekitar 300 pohon kelengkeng varietas unggulan New Kristal. Dalam satu kali panen, kebunnya mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 300 kilogram buah.

Menariknya, Yulianto mampu membuat kelengkeng berbuah sepanjang tahun dengan teknik khusus atau booster, sehingga produksinya tidak bergantung musim.

Di pasaran, harga kelengkeng di tingkat petani berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Namun, Yulianto memilih jalur berbeda dengan mengembangkan konsep wisata edukasi.

Kebunnya kini menjadi tujuan kunjungan berbagai kalangan, mulai dari anak TK hingga mahasiswa. Bahkan sejumlah pejabat daerah juga pernah datang untuk belajar sekaligus merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya.

"Kita arahkan ke wisata edukasi. Banyak yang datang ke sini untuk belajar dan merasakan petik buah," katanya.

Untuk menjaga kualitas tanaman, pengunjung tidak diperbolehkan memetik buah secara bebas tanpa pendamping. Hal ini dilakukan agar buah tetap terjaga dan tidak rusak.

Selain itu, Yulianto juga mengembangkan usaha pembibitan kelengkeng yang kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Ke depan, ia berencana memperluas konsep agrowisata dengan menambah komoditas tanaman lain.

Perjalanan Yulianto tidak selalu mulus. Ia sempat diremehkan warga sekitar karena menanam kelengkeng di lahan yang dianggap tidak produktif.

Namun kini, kerja kerasnya membuahkan hasil. Kebun kelengkeng miliknya tak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat luas.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads