Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 mengubah pola konsumsi masyarakat di Kota Kediri. Sejumlah SPBU pada Rabu (10/6/2026) pagi dipadati antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite. Jumlah pembeli Pertamax otomatis menurun.
Pantauan di sejumlah SPBU, antrean kendaraan roda 2 di dispenser Pertalite terlihat lebih panjang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi ini terjadi setelah harga Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Meski harga melonjak tajam, sebagian pengguna kendaraan memilih bertahan menggunakan Pertamax. Salah satunya Revi, mahasiswa di Kota Kediri yang mengaku tetap mengisi motornya dengan BBM beroktan tinggi demi menjaga performa mesin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Motornya masih keluaran baru, jadi saya tetap pakai Pertamax. Alasannya supaya kondisi mesin tetap terjaga," kata Revi saat ditemui detikJatim di SPBU Joyoboyo, Rabu (10/6/2026).
Hanya saja, Revi mengakui kenaikan harga ini cukup membebani pengeluaran hariannya. Jika sebelumnya dirinya cukup mengeluarkan Rp 20 ribu untuk kebutuhan BBM selama 2 hingga 3 hari, kini nominal yang harus dikeluarkan bertambah.
"Kalau dulu isi Rp20 ribu sudah cukup, sekarang harus sekitar Rp25 ribu untuk jumlah yang hampir sama. Selisih Rp5 ribu lumayan, apalagi buat mahasiswa," ujarnya.
Lain halnya dengan Ahmad, seorang pengemudi ojek online asal Kecamatan Mojoroto memilih beralih ke Pertalite untuk menekan biaya operasional harian. Menurutnya, selisih harga antara Pertamax dan Pertalite terlalu besar bagi pekerja yang mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan.
"Sekarang saya pindah ke Pertalite karena lebih hemat. Kalau tetap pakai Pertamax, biaya operasional jadi lebih besar. Sementara saya kerja ojol dan setiap hari mobilitasnya tinggi," kata Ahmad.
Lonjakan antrean di jalur Pertalite menjadi indikasi mulai terjadinya pergeseran konsumsi BBM di kalangan masyarakat. Kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat sebagian pengguna kendaraan memilih opsi yang lebih murah untuk menyesuaikan pengeluaran harian.
Ahmad berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga energi agar tidak semakin menekan biaya hidup masyarakat, khususnya pekerja sektor transportasi yang bergantung pada kendaraan bermotor.
"Kami berharap harga energi bisa lebih stabil karena sangat berpengaruh pada pengeluaran sehari-hari. Apalagi bagi pengemudi transportasi online yang penghasilannya bergantung pada kendaraan," pungkasnya.
(ihc/dpe)