Warga Lamongan Sulap Rooftop Rumah Jadi Kebun Melon Produkitf

Warga Lamongan Sulap Rooftop Rumah Jadi Kebun Melon Produkitf

Eko Sudjarwo - detikJatim
Senin, 22 Jun 2026 14:30 WIB
Warga Lamongan budidaya melon di rooftop
Warga Lamongan budidaya melon di rooftop/Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim
Lamongan -

Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tak menghalangi warga Lamongan ini untuk tetap bertani. Ia berhasil menyulap rooftop rumahnya menjadi kebun melon produktif yang menghasilkan cuan setiap musim panen.

Adalah Iskandar, warga Desa Deketkulon, Kecamatan Deket berhasil menyulap rooftop rumah menjadi kebun melon. Pemilik Perdana Farm tersebut memanfaatkan area kosong di lantai atas rumah berukuran sekitar 13x8 meter persegi untuk membudidayakan melon menggunakan sistem fertigasi tetes atau drip irrigation.

"Awalnya karena rooftop ini kosong. Kami memang sudah menanam di greenhouse, lalu muncul ide memanfaatkan ruang yang belum terpakai ini untuk menanam melon," kata Iskandar saat ditemui di kebun rooftop miliknya, Senin (22/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Lamongan budidaya melon di rooftopWarga Lamongan budidaya melon di rooftop Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim

Namun, perjalanan bertani di atas atap rumah tidak selalu berjalan mulus. Pada musim tanam pertama, Iskandar mencoba menanam melon premium varietas Adinda. Hasilnya belum maksimal karena tanaman harus menghadapi cuaca terbuka dan serangan hama.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, panen perdana tetap menghasilkan omzet sekitar Rp 3 juta. Belajar dari pengalaman tersebut, pada musim tanam kedua Iskandar beralih ke varietas melon lokal yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat.

Beberapa varietas yang ditanam antara lain Gracia, New Cheria, dan Nobel. Selain lebih tahan terhadap kondisi cuaca, varietas lokal juga memiliki masa panen yang relatif singkat, yakni sekitar 60 hingga 65 hari.

"Dengan evaluasi dari musim pertama, kami optimistis hasil panen kali ini lebih baik. Target omzetnya bisa mencapai Rp 7 juta," ujarnya.

Menurut Iskandar, hasil panen terbaik yang pernah diperoleh dari kebun rooftop mencapai sekitar 2,5 kuintal melon. Meski demikian, cuaca ekstrem terutama saat musim hujan masih menjadi tantangan utama dalam budidaya melon di area terbuka.

"Kalau hujan terus-menerus memang cukup berat, terutama untuk melon premium. Tantangan terbesarnya memang faktor cuaca," jelasnya.

Keahlian Iskandar dalam mengelola pertanian modern ternyata diperoleh secara otodidak. Ketertarikannya pada dunia pertanian bermula saat mengikuti program ketahanan pangan desa. Dari sana, ia terus memperdalam pengetahuan melalui berbagai sumber, termasuk platform digital.

Untuk sistem pengairan, ia memanfaatkan teknologi fertigasi tetes yang mampu menyalurkan air dan nutrisi secara efisien langsung ke akar tanaman.

"Saya banyak belajar dari YouTube. Mulai teknologi hingga cara penerapannya saya pelajari secara mandiri," ungkapnya.

Bagi Iskandar, berkebun melon bukan semata soal keuntungan ekonomi. Aktivitas tersebut juga menjadi sarana menjaga kesehatan dan tetap aktif menjelang masa pensiun.

"Selain untuk ketahanan pangan dan menambah penghasilan, ini juga jadi olahraga. Kalau pagi suasananya enak dan udaranya segar," tuturnya.

Ia berharap apa yang dilakukannya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memanfaatkan lahan terbatas menjadi sesuatu yang produktif dan bernilai ekonomi.

"Semoga bisa memotivasi anak-anak muda agar berani berinovasi dan memanfaatkan lahan seadanya untuk bertani," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads