Harga Telur Anjlok, Peternak di Kota Batu Kuras Tabungan untuk Bertahan

Harga Telur Anjlok, Peternak di Kota Batu Kuras Tabungan untuk Bertahan

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Rabu, 01 Jul 2026 12:32 WIB
Harga telur yang anjlok kini membuat peternak kelimpungan
Harga telur yang anjlok membuat peternak kelimpungan/Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim
Kota Batu -

Badai hebat melanda para peternak ayam petelur. Kondisi sektor tersebut kian memprihatinkan menyusul merosotnya harga jual telur di tingkat peternak yang berbarengan dengan melonjaknya harga bahan baku secara ekstrem.

Seorang peternak ayam petelur di Kota Batu sekaligus pemilik ASeeg Farm, Sotya Hanief mengungkapkan keluh kesahnya mengenai situasi pasar saat ini. Di mana harga beli dari pengepul di tingkat kandang telah jatuh ke angka Rp 19 ribu per kilogram.

"Ini baru kemarin naik Rp 19 ribu per kilogram. Sebelumnya paling rendah sempat Rp 17 ribu per kilogram," ungkap Hanief saat ditemui awak media di kediamannya Jalan Hasanudin, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Rabu (1/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga tingkat kandang itu terbilang cukup parah. Pasalnya, menurut perhitungan kalkulasi usaha, Harga Pokok Produksi (HPP) ideal untuk menghasilkan satu kilogram telur saat ini telah membengkak ke kisaran Rp 23 ribu-Rp 24 ribu.

ADVERTISEMENT

Selisih yang lebar antara harga jual dengan HPP membuat para peternak harus menanggung kerugian mendalam secara mandiri. Bahkan, Hanief sendiri mengaku harus menguras uang tabungannya untuk bertahan menghadapi keadaan saat ini.

"Cuman kalau kita ambil di harga segitu (Rp 19 ribu), kita aslinya sudah enggak nutup biaya operasional dan lain-lain. Jadi kalau harga segitu bakul ambil, sudah rugi sekitar Rp 4 ribu-Rp 5 ribu rupiah per kilo. Kalau di bawah itu ya sudah, kerja bakti dan nguras tabungan yang ada," kata Hanief.

Perempuan itu menambahkan, dalam kondisi normal di mana harga berada di kisaran Rp 25 ribu per kilogram, ekosistem usaha dapat berjalan sehat dan saling menguntungkan, baik bagi peternak maupun bakul.

Faktor utama pembengkakan HPP tersebut bersumber dari komponen pakan yang memakan porsi hingga 80% dari total biaya operasional. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar berimbas langsung pada lonjakan harga bahan baku pakan impor seperti Meat and Bone Meal (MBM) dan Bungkil Kedelai (BKK).

Akibatnya, harga satu sak konsentrat (50 kg) naik dari semula Rp 370 ribu kini menyentuh angka Rp 410 ribu hingga Rp 415 ribu. Kenaikan harga pakan ini juga diikuti oleh komoditas jagung lokal yang menyusun 50% dari total formulasi pakan yang merangkak naik dari Rp 5 ribu menjadi Rp 6.800-Rp 7.000 per kilogram.

Dampak dari krisis operasional ini membuat kapasitas stok modal kerja peternak menipis. Cadangan pakan di gudang yang biasanya aman untuk memasok kebutuhan selama 2 minggu, kini hanya bisa bertahan untuk 1 minggu saja.

Guna memotong kerugian harian, para peternak terpaksa melakukan afkir dini secara berkala terhadap ayam-ayam yang sudah tua. ASegg Farm sendiri mencatat telah mengafkir sekitar 200 ekor ayamnya, sehingga menyisakan populasi aktif di angka 800 ekor dari yang semula 1.000 ekor.

Langkah afkir ayam ini pun bukan tanpa masalah baru. Karena mayoritas peternak melakukan strategi serupa demi memangkas biaya harian, pasar kini kebanjiran pasokan daging ayam afkiran.

"Harga ayam afkir itu sekitar Rp 20 ribu per kilogram pada saat Hari Raya Idul Adha. Sekarang harganya jatuh bebas ke level Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram," keluh Hanief.

Hanief menyebut bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berhenti tidak terlalu berpengaruh pada harga telur. Perkiraannya, kondisi ini terjadi karena overpopulasi yang mengakibatkan over produksi hingga berujung pada menurunnya harga jual telur.

Menyikapi krisis berkepanjangan yang sudah berjalan satu bulan terakhir ini, para peternak sangat berharap adanya intervensi dan perbaikan stabilitas ekonomi makro dari pemerintah. Peternak berharap harga pakan bisa segera turun ke level yang rasional.

"Harapannya sih supaya ekonominya ini semuanya stabil. Jagung bisa normal, konsentrat bisa turun. Kalau harga telur ya mengikuti lah, sesuaikan sama HPP-nya aja. Yang penting kita sudah dapat untung dan bisa tetap kerja," tandasnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads