Ritual Malam 1 Suro, Tradisi Sakral yang Masih Dilestarikan hingga Kini

Ritual Malam 1 Suro, Tradisi Sakral yang Masih Dilestarikan hingga Kini

Mira Rachmalia - detikJatim
Senin, 15 Jun 2026 19:20 WIB
Ilustrasi malam 1 Suro dan berbagai tradisinya.
Ilustrasi. Simak berbagai tradisinya malam 1 Suro. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Malam 1 Suro selalu menjadi salah satu malam yang paling menarik, sekaligus penuh misteri dalam tradisi masyarakat Jawa. Sebagian orang menganggapnya sebagai malam yang sakral untuk berdoa dan melakukan introspeksi diri, sementara yang lain mengenalnya melalui berbagai mitos, pantangan, hingga ritual budaya yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Di balik berbagai cerita yang berkembang, malam 1 Suro sebenarnya bukan sekadar soal hal-hal mistis. Momen pergantian Tahun Baru Jawa ini juga menjadi waktu bagi masyarakat untuk mempererat kebersamaan, mengenang leluhur, serta memanjatkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.

Lalu, apa saja ritual yang biasa dilakukan pada malam 1 Suro di berbagai daerah Indonesia? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut tradisi malam 1 suro di berbagai wilayah Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Sakral?

Tanggal 1 Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa yang disusun pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram. Penanggalan tersebut menggabungkan unsur kalender Jawa dan kalender Hijriah, sehingga bulan Suro bertepatan bulan Muharram dalam kalender Islam.

Karena menjadi awal tahun, masyarakat Jawa memandang malam 1 Suro sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, memanjatkan doa, serta memperkuat hubungan sosial dan spiritual. Dari sinilah lahir berbagai tradisi yang masih bertahan hingga sekarang.

ADVERTISEMENT

Ritual Malam 1 Suro yang Masih Dilestarikan

Menariknya, ritual malam 1 Suro tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa. Sejumlah daerah di Indonesia juga memiliki tradisi serupa dengan bentuk pelaksanaan yang berbeda-beda, tetapi memiliki makna yang hampir sama, yakni rasa syukur, doa, dan harapan menyambut tahun baru.

1. Kirab Muharram dan Kirab Kebo Bule Keraton Surakarta

Salah satu ritual malam 1 Suro yang paling terkenal adalah Kirab Muharram yang digelar oleh Keraton Surakarta Hadiningrat. Tradisi ini identik dengan arak-arakan kerbau bule keturunan Kiai Slamet yang dianggap sebagai hewan kesayangan Susuhunan.

Dalam prosesi tersebut, para abdi dalem berjalan mengelilingi kawasan keraton dengan khidmat sambil mengiringi kerbau bule. Bagi sebagian masyarakat, mengikuti kirab bukan sekadar menyaksikan tradisi budaya, tetapi menjadi simbol harapan akan keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.

2. Jamasan Pusaka, Ritual Penyucian Warisan Keraton

Di Yogyakarta, rangkaian peringatan malam 1 Suro biasanya diawali dengan tradisi Jamasan Pusaka. Pada ritual ini, berbagai benda pusaka keraton seperti keris, tombak, gamelan, hingga kereta kerajaan dibersihkan secara khusus.

Tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan mencuci benda bersejarah, melainkan simbol penghormatan terhadap leluhur, dan pengingat agar generasi penerus menjaga warisan budaya yang dimiliki.

Bagi masyarakat Jawa, penyucian pusaka juga dimaknai sebagai proses membersihkan diri dari berbagai kesalahan dan keburukan yang terjadi selama setahun terakhir.

3. Tapa Bisu Mubeng Beteng, Tradisi Hening untuk Introspeksi Diri

Saat malam semakin larut, Keraton Yogyakarta melanjutkan rangkaian tradisi dengan Tapa Bisu Mubeng Beteng. Dalam ritual ini, para peserta berjalan kaki mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta sejauh kurang lebih empat kilometer tanpa berbicara sedikit pun.

Keheningan menjadi inti dari tradisi ini. Tidak adanya percakapan selama perjalanan dimaknai sebagai bentuk pengendalian diri, laku prihatin, sekaligus sarana evaluasi diri sebelum memasuki tahun yang baru.

Prosesi Tapa Bisu Mubeng Beteng selalu menarik perhatian karena ribuan orang rela berjalan dalam diam selama lebih dari satu jam demi mengikuti tradisi yang sarat makna tersebut.

4. Tradisi Jenang Suran di Imogiri

Masih di wilayah Yogyakarta, masyarakat juga mengenal Tradisi Jenang Suran yang dilaksanakan di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri. Ritual ini diawali dengan doa bersama dan tahlilan untuk mendoakan para raja serta leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut.

Setelah doa selesai, jenang atau bubur suran dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur, penghormatan terhadap sejarah, sekaligus harapan agar kehidupan di tahun mendatang dipenuhi keberkahan.

5. Tradisi Bari'an, Wujud Gotong Royong dan Syukur Masyarakat

Di Desa Glagahwaru, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, masyarakat masih melestarikan Tradisi Bari'an. Ritual ini diawali dengan pengumpulan dana warga untuk membeli kambing yang kemudian disembelih menjelang malam 1 Suro.

Daging hasil sembelihan dimasak dan dibagikan kepada masyarakat setelah kegiatan doa bersama dan tahlilan. Menariknya, tradisi tidak berhenti sampai di situ. Pada malam hari, warga melanjutkan kegiatan dengan pembacaan manaqib, doa bersama, hingga makan bersama.

Tradisi Bari'an menunjukkan bagaimana malam 1 Suro tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

6. Melek'an, Tradisi Begadang Menyambut Tahun Baru Jawa

Di sejumlah daerah Jawa, masyarakat mengenal tradisi melek'an atau berjaga semalaman pada malam 1 Suro. Tradisi ini biasanya diisi dengan kegiatan pengajian, doa bersama, diskusi budaya, hingga berkumpul bersama tetangga.

Sebagian masyarakat percaya bahwa malam tersebut merupakan waktu yang tepat untuk melakukan perenungan dan memperbanyak ibadah. Meski sederhana, melek'an masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa hingga saat ini.

7. Ngadulang, Tradisi Suroan dari Sukabumi

Di Sukabumi, Jawa Barat, masyarakat menyambut malam 1 Suro melalui tradisi Ngadulang. Kegiatan ini biasanya diisi dengan berbagai pertunjukan budaya dan perlombaan rakyat.

Salah satu yang paling dikenal adalah lomba menabuh bedug yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan. Tradisi tersebut menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

8. Nganggung, Simbol Kebersamaan Masyarakat Bangka Belitung

Masyarakat Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, memiliki tradisi khas bernama Nganggung. Warga membawa dulang atau nampan berisi makanan ke masjid atau tempat berkumpul.

Setelah doa bersama selesai, seluruh hidangan disantap bersama-sama. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong, persaudaraan, dan rasa syukur yang menjadi inti dari perayaan Tahun Baru Islam maupun Tahun Baru Jawa.

8. Pawai Obor Menyambut Tahun Baru Islam

Pawai obor menjadi salah satu tradisi yang paling banyak dijumpai di berbagai daerah Indonesia, termasuk Banten dan sejumlah wilayah Jawa.

Masyarakat berjalan berkeliling kampung sambil membawa obor dan melantunkan sholawat atau doa.

Selain menjadi perayaan yang meriah, tradisi ini juga dimaknai sebagai simbol penerangan hati dan harapan memasuki tahun yang baru.

9. Bubur Asura, Tradisi Berbagi yang Sarat Makna

Di Kalimantan, Garut, Tasikmalaya, hingga Limbangan, masyarakat memiliki tradisi memasak Bubur Asura secara gotong royong. Bubur merah dan bubur putih dimasak dalam jumlah besar lalu dibagikan kepada masyarakat.

Kegiatan ini biasanya diiringi pembacaan sholawat, zikir, dan doa bersama. Melalui tradisi ini, masyarakat mengekspresikan rasa syukur sekaligus memperkuat nilai kepedulian sosial dan kebersamaan.

Beragam ritual malam 1 Suro menunjukkan betapa kayanya tradisi masyarakat dalam menyambut pergantian tahun. Mulai Kirab Kebo Bule di Surakarta, Tapa Bisu Mubeng Beteng di Yogyakarta, hingga Nganggung di Bangka Belitung, semuanya memiliki makna yang mendalam dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads