Memasuki Bulan Suro, Wisata Sedudo di lereng Gunung Wilis, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk kembali menjadi pusat perhatian. Air terjun setinggi sekitar 105 meter itu selalu ramai pengunjung terutama di bulan sakral ini.
Ada yang ingin benar-benar mengikuti tradisi atau sekadar menonton ritual budaya, yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Nganjuk.
Kabid Kebudayaan Disporabudpar Nganjuk, Amin Fuadi mengatakan, salah satu tradisi yang paling dikenal adalah ritual mandi atau kungkum di bawah Air Terjun Sedudo. Tradisi ini biasanya dilakukan pada malam 1 Suro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ritual ini dilakukan malam hari, diyakini sebagai sarana membersihkan diri secara lahir dan batin dalam menyambut tahun baru Jawa," ujar Amin kepada detikJatim, Selasa (16/6/2026).
Selain ritual kungkum, masyarakat juga mengenal tradisi Siraman Sedudo yang menjadi agenda budaya tahunan Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Prosesi siraman biasanya digelar pada pertengahan Bulan Suro, melibatkan kepala daerah, Forkopimda, tokoh masyarakat, hingga ribuan warga. Rencananya, tradisi ini akan digelar pada awal Juli 2026.
"Siraman Sedudo ini menjadi agenda rutin pemerintah daerah dan menjadi event promosi wisata juga," imbuh Amin.
Tak jauh dari lokasi Air Terjun Sedudo, masyarakat Desa Ngliman juga rutin menggelar tradisi jamasan pusaka setiap Bulan Suro. Sedikitnya ada enam pusaka desa yang disakralkan dan dimandikan sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Ngaliman yang diyakini sebagai tokoh pembabat alas Desa Ngliman.
"Jamasan pusaka ini dianggap sebagai salah satu penghormatan kepada Ki Ageng Ngaliman, orang pertama yang diyakini membuka wilayah Desa Ngliman," ungkap Amin.
Selain tradisi Suro, air terjun yang berada di ketinggian 1.438 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu juga menyimpan cerita mitos yang terus hidup hingga sekarang.
Penggiat pariwisata Nganjuk, Aries Trio Effendi mengatakan, salah satu mitos yang paling populer adalah keyakinan bahwa siapa saja yang mandi di bawah Air Terjun Sedudo akan awet muda, hingga sembuh dari penyakit yang diderita.
Selain itu, menurut Aries, Sedudo juga kerap didatangi pejabat dari berbagai daerah. Mereka meyakini air terjun ini dapat membawa berkah dalam urusan jabatan dan karier.
"Cerita-cerita itu yang paling sering didengar dan banyak dipercaya sampai sekarang," ujar Aries.
Terkait Prosesi Siraman Sedudo, Aries juga menyebut ada cerita mitos tersendiri. Prosesi siraman yang diawali tarian sakral harus diperankan para penari perempuan. Syaratnya harus berambut panjang yang masih gadis atau dalam keadaan suci.
Untuk pengunjung Sedudo, ada beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar. Yakni dilarang berbuat tidak senonoh, membuang sampah sembarangan, maupun menggunakan sabun dan sampo saat mandi di air terjun.
"Larangan itu dipercaya jika dilanggar bisa mendatangkan kesialan bagi pelakunya," imbuh Aries.
Mitos lainnya yang juga sering diperbincangkan, kata Aries adalah larangan bagi pasangan yang belum menikah untuk berkunjung bersama ke Sedudo. Sebagian orang percaya hubungan pasangan tidak akan langgeng dan berakhir putus.
(auh/hil)
