Tradisi Unik Nyadran di Desa Bendoasri Nganjuk dengan Ritual Serba Tujuh

Tradisi Unik Nyadran di Desa Bendoasri Nganjuk dengan Ritual Serba Tujuh

Bakrie - detikJatim
Sabtu, 20 Jun 2026 19:00 WIB
Tradisi Nyadran di Nganjuk yang serba tujuh.
Tradisi Nyadran di Nganjuk yang serba tujuh. (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Ada yang unik dari tradisi bersih desa atau nyadran di Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Rangkaian ritual turun-temurun warga di Lereng Gunung Pandan ini selalu dipenuhi unsur 7.

Prosesi kirab itu diikuti 7 orang gadis. Rombongan kirab itu juga membawa 7 buah kendi berisi air dari 7 sumber mata air yang ada di desa. Kemudian warga juga mengusung 7 tumpeng hasil bumi, aneka makanan tradisional, hingga kambing utuh yang dirangkai menjadi tumpeng raksasa dan diarak mengelilingi kampung.

Rangkaian Nyadran di Desa Bendoasri juga digelar selama 7 hari 7 malam mulai dari Jumat (19/6) hingga Kamis (25/6). Kepala Desa (Kades) Bendoasri, Dudung Kuswanto mengatakan, nyadran dimulai dengan prosesi kirab dari depan balai desa menuju halaman rumahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kirab diikuti oleh seluruh unsur pemerintah desa, sesepuh desa dan warga Bendoasri, dengan memakai busana adat Jawa," ujar Dudung, Sabtu (20/6/2026).

Setibanya di rumah kepala desa, air dari 7 sumber mata air kemudian dimasukkan ke dalam kendi untuk disemayamkan, oleh 7 orang gadis remaja. Air tersebut nantinya akan digunakan kembali pada pelaksanaan tradisi yang sama pada tahun berikutnya.

ADVERTISEMENT

Dudung mengatakan, tradisi turun-temurun ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas karunia alam berupa sumber air dan hasil bumi yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga. Desa yang dihuni sekitar 650 jiwa itu tetap mempertahankan tradisi sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya.

Tradisi Nyadran di Nganjuk yang serba tujuh.Tradisi Nyadran di Nganjuk yang serba tujuh. (Foto: Bakrie/detikJatim)

"Pengambilan dan penyemayaman air bertujuan agar sumber mata air tetap lancar serta tidak terjadi musibah kekeringan. Juga sebagai upaya menjaga hutan agar tetap lestari demi meningkatkan kesejahteraan dan keberlangsungan hidup warga desa," papar Dudung.

Menurut Dudung, rangkaian kegiatan nyadran tidak hanya berlangsung sehari, melainkan berlanjut hingga 7 hari ke depan dengan berbagai agenda budaya dan doa bersama.

Pemerhati budaya dan sejarah Nganjuk, Sukadi mengatakan, penggunaan angka 7 dalam setiap ritual nyadran di Desa Bendoasri memiliki makna historis sekaligus filosofis yang kuat.

Menurut Sukadi, angka 7 dipilih bukan tanpa alasan. Salah satunya karena sejak dahulu wilayah Bendoasri memang memiliki 7 sumber mata air alami yang berada di kawasan hutan desa.

"Makna angka tujuh pada setiap jenis ritual bersih desa di Bendoasri memiliki sejarah dan makna tersendiri. Misalnya tujuh sendang atau sumber air, karena memang sejak dahulu terdapat tujuh mata air alami di hutan Desa Bendoasri," ungkapnya.

Sukadi mengatakan, makna angka 7 dalam bahasa Jawa disebut 'pitu', yang kerap dimaknai sebagai 'pitulungan' atau pertolongan.

"Jadi ada harapan dan doa yang dipanjatkan. Warga Desa Bendoasri berharap dengan menggelar bersih desa bisa mendapatkan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa serta terhindar dari berbagai malapetaka," pungkas Sukadi.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads