Kasus pengeroyokan dan pembacokan yang menimpa Sampurno, Kepala Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Lumajang akhirnya terungkap. Polisi membeberkan bahwa aksi brutal tersebut dipicu oleh kesalahpahaman yang bermula dari sebuah acara pengajian.
Kapolres Lumajang, AKBP Alex Sandy Siregar mengatakan pengeroyokan diketahui berawal dari acara sebuah pengajian di Kecamatan Ranuyoso Selasa (14/4). Di sana, antara sang kades dan para pelaku bertemua.
Namun saat itu, sang kades mengeluarkan suara dengan intonasi keras dan kalimat-kalimat yang dianggap menyinggung perasaan jemaah lain. Kata-kata itu lah yang dinilai menyinggung para pelaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Kepala Desa diamati oleh beberapa jemaah mengeluarkan suara dengan intonasi agak keras, mungkin ada kalimat yang dirasa menyinggung perasaan," ujar Alex, Jumat (17/4/2026).
Keesokan harinya, para pelaku berniat melakukan konfirmasi baik-baik mengenai alasan sang kades melontarkan kalimat tidak pantas, kalimat itu diduga juga menyinggung seseorang berinisial DN atau Dani.
Pelaku berinisial FA alias BK yang tak terima kemudian hendak meminta klarifikasi ke sang kades. Keduanya kemudian mengajak sejumlah orang yang mereka temui ke rumah kades untuk klarifikasi.
"Dia mengajak beberapa rekannya termasuk orang yang tidak dikenal waktu ditemui di pasar waktu itu," ujar Alex.
Kedatangan para pelaku ini menggunakan 2 unit mobil. Setiba di lokasi, sang kades mengira kedatangan para pelaku diduga sebagai tamunya. Mereka kemudian meminta klarifikasi terkait ucapannya di acara pengajian.
Bukannya mendapat penjelasan, situasi di tempat kejadian perkara (TKP) justru berkembang menjadi aksi kekerasan. Para pelaku yang sudah tersulut emosi kemudian mengeroyok korban secara membabi buta dengan tangan kosong, senjata tajam dan tumpul.
"Awalnya hanya ingin konfirmasi kenapa pak kepala desa ini mengeluarkan kalimat kata-kata terhadap seseorang saksi yang saat ini sudah kita periksa sebagai saksi yaitu berinisial DN kenapa melakukan gerakan kalimat-kalimat tidak pantas tapi terhadap seseorang tersebut," terang Alex.
"Akhirnya mereka melakukan pengeroyokan dengan senjata tajam (celurit), tumpul dan tangan kosong," tutur Alex.
Pengeroyokan dan pembacokan itu sempat terekam kamera CCTV. Dalam rekamn tersebut, tampak mereka duduk di teras rumah kades, tak lama salah satu pelau berdiri dan melakukan pemukulan, sedangkan lainnya langsung menyebetkan celurit dan kayu.
Mendapat serangan itu, sang kades tampak kemudian melarikan diri ke dalam rumah meminta pertolongan. Para pelaku yang mengetahui itu kemudian segera keluar teras dan kabur.
"Beberapa jenis senjata tumpuk kayu juga ada keris yang dianggap digunakan pada saat melakukan pengeroyokan dan itu terkonfirmasi di CCTV," tandas Alex
Akibatnya sang sang kades mengalami luka di bagian kepala, bahu dan tangan. Ia juga sempat dilarikan ke RSUD Haryoto, namun pada malam harinya sudah diperbolehkan pulang.
Polisi langsung melakukan penyelidikan kemudian mengamankan 10 orang. Mereka berinisial GF, MB, MS, JP, AM, FA, MS, SP, EP, dan SJ. Mereka ditangkap di sejumlah lokasi yang berbeda, sementara beberapa di antaranya memilih menyerahkan diri ke pihak kepolisian.
Sebelumnya, warga Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Lumajang, dihebohkan dengan peristiwa pengeroyokan yang dialami sang kepala desa bernama Sampurno, yang terjadi di kediamannya sendiri, Rabu (15/4/2026) siang. Pembacokan tersebut diduga karena masalah salah paham yang terjadi sebelumnya di sebuah acara pengajian.
(auh/abq)
