Sebanyak 14 orang komplotan joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Surabaya yang telah beroperasi 9 tahun dibongkar. Lalu berapa jajsa yang harus dibayar jika ingin menggunakan jasa mereka?
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan komplotan tersebut mematok tarif berkisar Rp 500 juta hingga Rp 700 juta. Tersangka utama komplotan tersebut berinisial IKP yang bekerja sebagai pengusaha laundry.
Adapun ke-14 tersangka tersebut antara lain NRP (21) mahasiswa, PIF (21) mahasiswa, IKP (41) karyawan swasta, FP (35) karyawan swasta, BPH (29) dokter, DP (46) dokter, MI (31) dokter, RZ (46) pedagang, HRE (18) pelajar, BH (55) wiraswasta, SP (43) karyawan swasta, SA (40) karyawan swasta, ITR (38) karyawan ASN P3K, serta CDR (35) karyawan ASN P3K.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tersangka utama saudara K menerima tender ini dengan biaya ataupun harga yang ditetapkan itu bervariasi antara Rp 500 juta sampai Rp 700 juta rupiah," ungkap Luthfie, Kamis (7/5/2026).
Uang tersebut kemudian dibagi ke jaringan yang terlibat, termasuk kepada joki atau mahasiswa yang mengerjakan ujian.
"Jumlah ini dibagi-bagi pada setiap pelaksanaan di jaringannya sampai nanti ke joki yang melaksanakan ujian siapa yang main hari itu," katanya.
Untuk para joki, bayaran yang diterima bervariasi tergantung kampus tujuan klien. Rata-rata joki memperoleh Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Namun untuk kampus favorit, tarif joki bisa melonjak hingga Rp 75 juta.
"Rata-rata untuk joki sendiri berkisar di kisaran Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Itu untuk beberapa kampus namun untuk kampus-kampus yang dirasa lebih favorit angkanya untuk joki bisa kisaran Rp 75 juta," jelasnya.
Luthfie mengatakan hingga kini penyidik telah mengantongi identitas 114 orang. Mereka diduga menjadi pemberi order atau pengguna jasa joki UTBK.
"Tetapi sampai dengan hari ini kita terus lakukan pendalaman dan sampai dengan saat ini sudah kita temukan data pemberi order yang sudah terdata dan sudah kita bisa kumpulkan identitasnya itu sebanyak 114 orang. Nama-namanya sudah kita dapatkan dan kita akan terus dalami itu," tandas Luthfie.
Sedangkan mayoritas peminat jasa perjokian yakni Fakultas Kedokteran. Tingginya peminat Fakultas Kedokteran dipicu tingkat kesulitan ujian yang dianggap lebih tinggi dibanding jurusan lain.
"Ketika ditanya kenapa seperti itu, karena memang tesnya relatif lebih sulit atau membutuhkan kecerdasan yang lebih dari yang lain," pungkasnya.
Sebelumnya, komplotan joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Surabaya dibongkar Polrestabes Surabaya. Sebanyak 14 orang ditangkap dan ditetapkan jadi tersangka dari berbagai macam profesi termasuk dokter dan aparatur sipil negara (ASN).
Ke-14 tersangka tersebut antara lain NRP (21) mahasiswa, PIF (21) mahasiswa, IKP (41) karyawan swasta, FP (35) karyawan swasta, BPH (29) dokter, DP (46) dokter, MI (31) dokter, RZ (46) pedagang, HRE (18) pelajar, BH (55) wiraswasta, SP (43) karyawan swasta, SA (40) karyawan swasta, ITR (38) karyawan ASN P3K, serta CDR (35) karyawan ASN P3K.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan kasus itu terungkap berawal dari pelaksanaan UTBK SNBT di Gedung Rektorat Lantai 4 Unesa, Jalan Lidah Wetan, pada 21 April 2026 lalu.
"Jadi hasil pemeriksaan sampai dengan saat ini bahwa tidak ada keterlibatan dari pihak kampus berkaitan dengan terjadinya perjokian dalam ujian masuk seleksi mahasiswa ini," kata Luthfie, Kamis (7/5/2026).
(auh/abq)
