Badut Pembunuh Ibu Mertua di Mojokerto Beberkan Masalah Rumah Tangga

Badut Pembunuh Ibu Mertua di Mojokerto Beberkan Masalah Rumah Tangga

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Jumat, 08 Mei 2026 13:30 WIB
Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata berbincang dengan Satuan, badut penjual balon yang membunuh ibu mertua dan melukai istrinya.
Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata berbincang dengan Satuan, badut penjual balon yang membunuh ibu mertua dan melukai istrinya. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Satuan (43) tega membunuh ibu mertua dan melukai istrinya di Mojokerto karena sejumlah masalah rumah tangga. Badut penjual balon itu mengungkapkan sejumlah masalah rumah tangganya, mulai dari masalah ekonomi hingga dugaan perselingkuhan istrinya.

Satuan menikahi istrinya, Sri Wahyuni atau Yuni (35) tahun 2020. Saat itu ia dan Yuni sama-sama berstatus duda dan janda. Buah pernikahan itu mereka dikaruniai 2 orang anak. Namun, salah satu anak mereka meninggal.

Yuni sendiri adalah janda dengan seorang anak dari suami pertamanya yang sudah meninggal. Praktis saat ini, pasutri Satuan dan Yuni mempunyai 2 anak, yaitu anak pertama yang duduk di kelas 2 SMP dan anak kedua berusia 3,5 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalah dengan istri sudah lama, tapi saya tahan," kata Satuan mengawali perbincangannya dengan Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata, Jumat (8/5/2026).

Masalah pertama, kata Satuan, istrinya diduga selingkuh. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai badut penjual balon itu mengaku sejak lama tahu bahwa istrinya punya pria idaman lain. Namun dia memilih mengikuti alur tingkah laku istrinya.

ADVERTISEMENT

"Dibiarkan kok tambah begitu. Kok tidak melihat saya kalau kerja hujan kehujanan, panas kepanasan. Jalan kaki dari Mojosari sampai rumah ya sering," terangnya.

Berikutnya masalah tanggung jawab istrinya mengasuh anak, terutama anaknya yang balita. Menurut Satuan, Yuni jarang mau mengasuh anaknya dengan alasan bekerja lembur. Sang istri terakhir kali mengaku bekerja di perusahaan sablon.

"Mau momong (mengasuh anak) kalau semuanya dipenuhi, uang belanja sendiri, uang sekolah sendiri, uang brai (perawatan) sendiri. Sedangkan kayak saya kan penghasilannya tidak menentu. Maunya dipenuhi. Akhirnya larinya cari yang beruang," jelasnya.

"Perawatan sudah pasti, lipstiknya saja ada 18, bulu mata lepas satu sudah bingung, setiap hari paket (belanja barang) saja," imbuhnya.

Masalah ketiga yakni Satuan merasa tidak dihargai oleh Yuni sebagai suami. Ia kerap merasa direndahkan karena penghasilannya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan penghasilan istrinya. Nasihatnya juga tidak digubris.

"Kalau dinasihati, dia jawab tidak bisa mencukupi tidak usah menasihati. Kalau live-live (medsos) saya nasihati dia marah, itu kan sama saja dengan mengundang musang. Sering, setiap kali saya bilang, jawabnya begitu saja," ungkapnya.

Terakhir masalah ekonomi. Satuan menyebut Yuni mempunyai banyak utang. Belum lagi utangnya pribadi yang setidaknya di 4 orang berbeda. Namun, setelah kasus pembunuhan ini, 2 orang sudah mengikhlaskan.

"Surat-surat tidak ada semua digadaikan istri. Mulai KK, KTP, surat nikah, akta kelahiran anak sudah tidak ada, buat utang-utang. Pokoknya satu minggu saya diberi rincian kurang lebih Rp 3 juta utangnya dia," cetusnya.

Keluarga kecil ini sempat tinggal serumah dengan ibu kandung Yuni, Siti Arofah (53) di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Puri, Mojokerto. Mereka lantas mengontrak rumah sekitar 8 bulan lalu karena hubungan Satuan dengan ibu mertuanya tak harmonis.

Rumah kontrakan yang menjadi saksi bisu kekejaman Satuan ini hanya sekitar 15 meter di sebelah barat rumah Siti. Satuan pun mengakui kalau hubungannya dengan Siti tak lagi harmoni.

"Tidak lama sih pak, ya Desember itu lo. Biasa pak, menantu kalau ada uang ya dianggap menantu, kalau tidak ada ya wes (Ya sudah). Tidak ada (masalah lain)," tandasnya.

Sebelumnya, Satuan menganiaya istrinya di rumah kontrakan Dusun Sumbertempur RT 2 RW 1 pada Rabu (6/5) sekitar pukul 08.00 WIB. Ia gelap mata karena istrinya menolak bersetubuh. Terlebih ia mencurigai istrinya mempunyai pria idaman lain.

Di tengah aksi kekerasan tersebut, Siti tiba-tiba masuk lewat pintu belakang rumah kontrakan. Sehingga Satuan panik karena perbuatannya kepergok ibu mertuanya. Sontak saja ia mengambil pisau dapur untuk membungkam Siti.

Ia menusuk perut korban 3 kali, lalu menggorok leher korban 2 kali. Siti tewas seketika bersimbah darah. Sebelum kabur, Satuan juga sempat menyayat leher istrinya dengan pisau yang sama.

Tim gabungan Unit Resmob dan Tim Jatanras Satreskrim Polres Mojokerto berhasil meringkus Satuan di Asemrowo, Surabaya sekitar pukul 13.30 WIB. Penangkapan pelaku juga dibantu anggota Polsek Asemrowo.

Saat ini, Yuni masih menjalani perawatan di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. Karena ibu 2 anak ini menderita luka lebam-lebam di wajah, serta luka sayatan di lehernya. Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads