Viral Ning Sisca Sebut Banyak Pencabulan Berkedok Pesantren di Malang

Viral Ning Sisca Sebut Banyak Pencabulan Berkedok Pesantren di Malang

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 01 Jun 2026 14:50 WIB
Ning Sisca Farisa Dhona saat ceramah soal pencabulan berkedok pesantren di Malang.
Ning Sisca Farisa Dhona saat ceramah soal pencabulan berkedok pesantren di Malang. (Foto: Istimewa/TikTok @siscafarisadhona_)
Malang -

Penceramah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, kembali memicu perbincangan hangat di media sosial. Dalam sebuah video ceramah yang viral, ia secara blak-blakan menuding bahwa di wilayah Malang saat ini terdapat banyak kasus dugaan pencabulan yang bersembunyi di balik kedok pondok pesantren.

Pernyataan kontroversial tersebut dilontarkan oleh Ning Sisca saat memberikan tausiah di hadapan para jemaah di wilayah Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.

Melalui unggahan video di akun TikTok resminya, @siscafarisadhona, Ning Sisca awalnya memberikan apresiasi mendalam terhadap gerakan organisasi Yakuza Maneges yang dimotori oleh Gus Thuba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Organisasi asal Kediri itu dikenal gencar membongkar dan memberantas praktik pelecehan seksual tersembunyi di lingkungan pesantren, seperti yang terungkap di Ponorogo, Ngawi, hingga Jember.

Usai memuji gerakan itu Ning Sisca kemudian memberi sinyal kuat bahwa wilayah Malang akan menjadi target pembongkaran kasus serupa berikutnya. Sebab, dia sebutkan bahwa Malang menyimpan banyak praktik culas serupa.

ADVERTISEMENT

"Sebentar lagi menunggu kasus-kasus di Malang. Karena di Malang pun sendiri ada apa banyak?" tanya Ning Sisca dalam video ceramah di TikTok yang dilihat detikJatim, Senin (1/6/2026). Pertanyaan itu pun langsung disambut riuh oleh jemaah yang hadir dengan jawaban, "banyak!"

Ning Sisca menegaskan, tindakan amoral yang menggunakan tameng agama tidak boleh ditoleransi atau ditutupi dengan alasan apa pun, termasuk demi membela nama baik golongan atau keluarga.

"Ning Sisca kok berani berbicara? Lho, nyuwun sewu, batang ojo sampek ditutup-tutupi. Barang lek sing ala, opo maneh sing bertopeng agama, embel-embele agomo, demi oleh barokah, barokah, barokah, tapi lek kelakuane ora bener yo awak dewe ora oleh bela. Sekalipun itu saudara kita," tegasnya dalam potongan video itu.

Sinyal yang ditiupkan oleh Ning Sisca mengenai fenomena "topeng agama" ini berkaca pada keberhasilan Yakuza Maneges saat membongkar kasus mengejutkan di daerah lain. Salah satunya adalah penetapan status tersangka terhadap seorang kiai pimpinan ponpes di Kecamatan Jambon, Ponorogo, yang mencabuli 11 santri laki-lakinya sejak tahun 2017.

Kuasa hukum korban, Muhammad Ihsan Nurul Huda, membeberkan bahwa modus kejahatan di ponpes tersebut terbongkar setelah salah satu santri melapor ke organisasi bentukan Gus Thuba tersebut.

"Saat kami temui, dia melaporkan ke tim Yakuza Maneges kemudian kita lakukan tindakan, kita dalami semua petunjuk," tutur Ihsan kepada wartawan.

Ihsan menambahkan, mayoritas korban terpaksa membisu selama bertahun-tahun karena terjebak di dalam pondok dan tergiur fasilitas gratis. Berdasarkan hasil penyelidikan, para santriwan dipanggil satu per satu ke kamar pelaku dengan dalih meminta pijat.

"Terlapor merupakan seorang Kiai atau pimpinan pondok tersebut. Dan korbannya merupakan santri yang tinggal di dalam pondok," tambah Ihsan. "Santri perempuan tidak pernah mendapat kekerasan seksual, tapi mendapat kekerasan fisik."

Merespons laporan tersebut, aparat kepolisian memastikan perkara ini sudah masuk ke dalam proses hukum pidana karena banyaknya korban yang masih berada di bawah umur.

"Benar, kami mendapatkan informasi dari masyarakat terkait adanya dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur di Ponorogo," pungkas Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads