Buntut Panjang Nafsu Bejat Eks Pengurus Perbakin Surabaya Lecehkan Atlet

Round Up

Buntut Panjang Nafsu Bejat Eks Pengurus Perbakin Surabaya Lecehkan Atlet

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Minggu, 14 Jun 2026 07:00 WIB
Perbakin Surabaya buka suara soal pelecehan seksual atlet
Perbakin Surabaya buka suara soal pelecehan seksual atlet/Foto: Faiq Azmi/detikJatim
Surabaya -

Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap atlet menembak perempuan di bawah umur yang menyeret mantan pengurus Perbakin Surabaya berinisial JL terus bergulir. Polisi telah memeriksa pelapor, korban, dan terlapor.

Di sisi lain, Perbakin Surabaya mengambil sejumlah langkah tegas mulai dari menonaktifkan JL dari kepengurusan, membekukan seluruh aktivitas les privat LASAPA, hingga membuka ruang pelaporan bagi atlet lain yang merasa menjadi korban.

Kasatres PPA-PPO Polrestabes Surabaya Kompol Melatisari mengatakan proses penyidikan telah berjalan dan sejumlah pihak telah dimintai keterangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah sidik. Pelapor, korban, dan terlapor sudah diperiksa," ujar Melatisari, Sabtu (13/6/2026).

ADVERTISEMENT

Meski demikian, pihak kepolisian belum menjelaskan lebih rinci perkembangan perkara karena proses penanganan masih berlangsung.

Kasus ini menjadi perhatian publik setelah keluarga korban DS (15), atlet menembak perempuan yang masih di bawah umur, mengungkap dugaan pelecehan yang terjadi saat proses pembinaan dan pendampingan atlet. Peristiwa tersebut disebut menimbulkan trauma mendalam hingga korban enggan kembali menekuni olahraga menembak yang telah digelutinya selama dua tahun terakhir.

Di tengah proses hukum yang berjalan, Perbakin Surabaya mengambil langkah tegas terhadap JL. Ketua Harian Perbakin Surabaya Hadi Susilo memastikan pihaknya telah menonaktifkan JL dari kepengurusan organisasi.

"Kami membenarkan terduga adalah salah satu pengurus Perbakin Surabaya. Per 12 Juni kami sudah menonaktifkan terduga (JL) dan terduga sudah tidak menjadi pengurus Anggota Perbakin Surabaya lagi," kata Hadi saat konferensi pers di Surabaya, Sabtu (13/6/2026).

Hadi juga meluruskan informasi yang beredar mengenai status JL. Menurutnya, JL bukan pelatih resmi Perbakin Surabaya karena tidak memiliki sertifikasi kepelatihan dari Perbakin maupun KONI.

"JL tidak punya sertifikasi resmi pelatih dari KONI ataupun Perbakin. JL hanya seorang pelatih privat atau les-lesan yang kebetulan menyewa tempat di Perbakin Jatim," katanya.

Ia menjelaskan, JL sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Tembak Reaksi Perbakin Surabaya dan menjalankan pelatihan privat secara mandiri.

"Banyak beredar terduga adalah pelatih Perbakin Surabaya, itu tidak benar. Terduga bukan pelatih resmi, tapi terduga punya les-lesan atau pelatihan privat. Kebetulan terduga menyewa tempat di area Perbakin Jatim dan pelatihannya ini bukan resmi Perbakin Surabaya," bebernya.

Sebagai tindak lanjut, Perbakin Surabaya membekukan seluruh aktivitas lembaga pelatihan privat LASAPA yang dikelola JL.

"Kami membekukan semua kegiatan di LASAPA untuk sementara waktu. Kami imbau adik dan orang tuanya agar selama pelatihan atau lomba didampingi dan diawasi agar tidak terulang lagi," jelasnya.

"Kami beri imbauan ke adik-adik atlet beserta dengan orang tuanya, jadi les-lesannya namanya LASAPA dan tidak di bawah naungan Perbakin Surabaya," tambahnya.

Perbakin juga membuka ruang bagi atlet maupun orang tua yang merasa mengalami kejadian serupa untuk melapor.

"Kami undang orang tua beserta atlet, apabila ada hal serupa, atau korban lain untuk segera melapor ke kami," tambahnya.

Selain itu, organisasi tersebut berencana membentuk sistem pelatihan resmi di bawah Perbakin Surabaya agar pembinaan atlet lebih terkontrol.

"Kita bikin resmi les di bawah Perbakin Surabaya biar tidak liar dan kasus ini tidak terjadi lagi. Kami punya hajat untuk menunjuk salah satu pelatih dan kami setifikasikan supaya tidak terulang lagi kasus ini. Kami tidak menyangka kasus ini, karena jadwal latihan itu sudah tetap, yang dilakukan oknum itu di luar jam latihan. Itu menurut yang saya dengar dari pengakuan keluarga korban, terjadinya setelah acara latihan, korban berdua sama terduga," bebernya.

Hadi mengaku prihatin karena selama ini pihaknya menilai JL memiliki niat baik membantu pembinaan atlet menembak.

"Kami melihat awalnya JL ini beritikad baik, dan kamo melihat banyak sekali teman-teman adik atlet terbantu akan adanya les-lesan pribadinya dia itu. Itikad awalnya baik, dan itikadnya sejalan tapi semakin ke sini kami aware. Itikad baik itu kami salah menilai, ternyata terjadi seperti ini," ujarnya.

Perbakin juga menyoroti dugaan hukuman fisik berupa gelitikan yang disebut dialami korban. Menurut Hadi, metode tersebut tidak pernah menjadi bagian dari pelatihan resmi organisasi.

"Hukuman gelitik tidak dilakukan saat pelatihan, itu terjadi di luar jam. Itu tidak boleh ada sentuhan fisik, karena secara etika nggak boleh. Hukuman fisik mending lari atau push up. Biasanya kami bikin pertandingan mini, kalau yang salah nembak atau yang kalah biasanya sit up atau push up. Nggak ada hukuman gelitik, itu modus, kami miris sekali," kata Hadi.

Ia mengaku tidak menyangka dugaan tindakan tersebut dilakukan oleh JL.

"Kami tidak menyangka ini di luar perkiraan kami, bahkan anak saya juga les di sana. Beliau itu aktif sekali setelah pandemi COVID-19 sampai hari ini aktif-aktifnya. Bahkan JL sebelumnya juga dapat apresiasi dari orang tua atlet, sayangnya kepercayaan kami, para orang tua atlet disalahgunakan oleh terduga," jelasnya.

Perbakin Surabaya menegaskan tidak memberikan bantuan hukum kepada JL dan memilih berdiri di pihak korban.

"Kami seluruh pengurus Perbakin Surabaya prihatin, marah, dan kecewa atas kejadian ini. Perbakin Surabaya memposisikan diri di pihak korban dan kronologi kami serahkan sepenuhnya ke teman-teman Polrestabes Surabaya Unit PPA. Kami yakin Polrestabes Surabaya bisa menguak kasus ini sebaik-baiknya dan presisi," tegasnya.

Sementara itu, korban juga telah mendapatkan pendampingan dari DP3APPKB Surabaya. Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayati mengatakan pihaknya telah menggali keterangan korban dan keluarga untuk memahami kronologi kejadian.

"Jadi kita menyampaikan ke orang tua, bahwa menurut kita itu ada sosok yang hilang di korban ini. Karena bapaknya sibuk bekerja, jadi memang enggak terlalu dekat dengan anaknya," kata Ida.

Menurut Ida, kondisi tersebut membuat korban merasa dekat dan percaya kepada sosok lain yang memberinya perhatian.

"Kita mengedukasi anak ini juga, bahwa yang dia lakukan itu keliru, kita juga mengedukasi orang tuanya juga untuk untuk menjalin komunikasi dengan anak itu. Peran ayah itu penting banget gitu," jelasnya.

Selain pendampingan dari pemerintah, Hadi mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi terkait bantuan pemulihan psikologis bagi korban.

"Kemarin Perbakin Surabaya sempat ditawari oleh KONI Surabaya yang ingin memberi bantuan pendampingan psikologi ke anak korban," tandasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Bejatnya Seorang Pendidik, Cabuli 13 Murid di Indramayu"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads