Choiriyah (47) diduga kuat tewas karena dibunuh kakak kandungnya, Suparni (61). Satreskrim Polres Jombang mengantongi sejumlah bukti yang memperkuat perbuatan pidana Suparni.
Penganiayaan yang merenggut nyawa Choiriyah terjadi di kos Dusun Jogoroto, Desa/Kecamatan Jogoroto, Jombang pada Jumat (12/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Kos ini ditempati kakak adik Suparni dan Choiriyah.
Dua perempuan itu berasal dari Dusun Pajaran, Desa/Kecamatan Peterongan, Jombang. Mereka baru sekitar 2 minggu menyewa kamar kos tersebut. Sehari-hari, Suparni menjadi buruh masak. Sedangkan Choiriyah tidak bekerja karena tunagrahita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Dimas Robin Alexander menuturkan, pihaknya telah mengumpulkan sejumlah bukti terkait dugaan Suparni menganiaya Choiriyah sampai tewas. Salah satunya keterangan 2 tetangga kos korban, yakni M Fatoni dan Ayu Syarifah Wulandari (26).
"Saksi Fatoni menerangkan kalau melihat sendiri kakak kandung korban (Suparni) melakukan pemukulan terhadap korban dan menegur. Saksi mendengar korban meminta ampun kepada kakaknya. Beberapa saat kemudian, keluarga pelaku datang setelah ditelepon pelaku," terangnya kepada wartawan di Polres Jombang, Jalan KH Wahid Hasyim, Senin (15/6/2026).
Sedangkan Ayu, lanjut Dimas, menyaksikan saat Choiriyah dipukuli kakak kandungnya dengan tongkat sapu. Kemudian Suparni membuka paksa pakaian korban, lalu menyeretnya ke dalam kamar kos. Selain itu, saksi juga melihat saat setengah badan korban yang bugil keluar dari jendela kos.
"Saksi melihat bagian mulut korban berdarah, lebam pada tangan kanan dan kaki kanan, serta mendengar suara pukulan. Namun, korban lemas dan hanya diam," ungkapnya.
Selain saksi, kata Dimas, pihaknya juga melakukan olah TKP di kamar kos korban. Hasilnya, ditemukan tongkat sapu yang digunakan Suparni memukuli adik kandungnya. Ekshumasi dan autopsi pun digelar untuk memastikan sebab kematian korban selaras dengan keterangan para saksi.
Autopsi mengungkap banyak luka akibat benda tumpul pada tubuh Choiriyah. Yaitu luka memar pada 2 jari tangan kiri, memar pada dagu, bibir bawah, leher depan atas, dahi, lengan, dada, kepala dan pipi. Kemudian lecet bentuk garis di dagu, patah pada 2 jari tangan kiri, serta memar pada paha dan pinggang kanan.
Semua luka tersebut terjadi ketika korban masih hidup dan diakibatkan kekerasan dengan benda tumpul. Oleh sebab itu, kata Dimas, pihaknya menyimpulkan Choiriyah bukan tewas karena terjatuh di kamar mandi. Namun, menjadi korban penganiayaan.
"Menurut dokter forensik, penyebab kematian korban yaitu resapan darah pada seluruh kulit kepala dan pembusukan organ dalam," tandasnya.
Sebelumnya, makam Choiriyah di Makam Islam Pajaran diekshumasi pada Minggu (14/6) sekitar pukul 13.00 WIB. Sebuah tenda tertutup disiapkan di dekat makam korban untuk autopsi. Ekshumasi digelar karena Choiriyah diduga tewas karena diduga dianiaya kakak kandungnya sendiri, Suparni (61).
Choiriyah hidup bersama Suparni di kos Dusun Jogoroto, Desa/Kecamatan Jogoroto, Jombang sekitar 2 minggu terakhir. Sehari-hari, Suparni bekerja menjadi buruh masak. Sedangkan Choiriyah tidak bekerja karena mengidap keterbelakangan mental atau tunagrahita.
Dugaan pembunuhan di kos ini terjadi pada Jumat (12/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Suparni diduga memukuli adik kandungnya dengan tangan kosong, memakai tongkat sapu, ulekan, dibenturkan ke dinding, serta dicelupkan ke kamar mandi.
Ketika Choiriyah sudah tak bernyawa, Suparni meminta tolong tetangga kosnya. Ia berdalih kalau adiknya terjatuh di kamar mandi. Sore di hari yang sama, jenazah korban dibawa ke rumah duka, lalu dimakamkan di Makam Islam Dusun Pajaran.
(auh/abq)
