Film pendek karya sineas muda Surabaya, What the Water Keeps berhasil menembus Busan International Short Film Festival 2026. Film produksi Akral Pictures itu bahkan menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang lolos dalam festival tersebut.
Di balik pencapaian itu, proses panjang telah dilalui tiga alumni UKM Sinematografi Universitas Airlangga (Unair), yakni Dendy Ariza Putra, Alhaj Fernando, dan Bramuda. Naskah film sebenarnya sudah ditulis sejak 2022, namun baru bisa direalisasikan tiga tahun kemudian setelah mendapatkan pendanaan internasional.
"Sebetulnya naskah sudah sejak 2022, tapi baru kami realisasikan 2025 setelah berhasil mendapat pendanaan," ujar Dendy saat ditemui di Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film berdurasi 26 menit 25 detik itu mengangkat cerita tentang kehilangan, rasa bersalah, dan kesepian. Tokoh utamanya, Bahar, digambarkan sebagai korban selamat kecelakaan laut yang kehilangan seluruh keluarganya.
Bahar hidup dalam bayang-bayang penyesalan karena tak berada bersama keluarganya saat tragedi itu terjadi. Luka batin tersebut membawanya kembali ke laut bersama temannya, Oka. Namun perjalanan itu berubah menjadi ruang sunyi penuh memori dan penyerahan diri.
"Film ini tentang penyesalan setelah kehilangan keluarganya. Jadi menceritakan perjalanan karakter utamanya," kata Dendy.
Dendy mengatakan, ide cerita film bermula dari kisah yang dibawa salah satu kru mereka, Aji Oktabrian. Cerita itu berasal dari sebuah peristiwa yang sempat ramai diperbincangkan di Sumatera, tentang mobil Suzuki Jimny yang ditemukan terbengkalai di tepi pantai.
Belakangan diketahui mobil tersebut milik satu keluarga yang hanyut terseret ombak saat mencari kerang di laut. Kisah itulah yang kemudian dikembangkan menjadi fondasi emosional dalam What the Water Keeps.
Perjalanan film tersebut menuju Busan tak berlangsung mudah. What the Water Keeps harus bersaing dengan 5.966 karya dari berbagai negara sebelum akhirnya lolos ke jajaran 40 film terpilih.
"Kami mengalahkan 5.966 peserta dan lolos 40 film terpilih. Kami satu-satunya dari Indonesia dalam kategori ini," ujarnya.
Produksi film mendapat dukungan pendanaan sekitar 20 ribu dolar AS dari program Project Spark yang diinisiasi perusahaan lighting asal Tiongkok, NANLUX dan NANLITE. Dengan tenggat ketat dari pihak funding, seluruh proses produksi hingga pascaproduksi harus dirampungkan hanya dalam waktu sekitar tiga bulan.
"Dari funding itu mengharuskan kami selesai dalam dua atau tiga bulan, termasuk pembuatan naskah dan produksi. Jadi dalam tiga bulan film sudah selesai," jelas Dendy.
Syuting dilakukan pada Agustus 2025. Tantangan terbesar datang dari proses menyatukan kru dan pemain yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Jogja, hingga Bali.
Meski begitu, Dendy justru menikmati seluruh proses produksi tersebut. Alumni Unair jurusan sejarah itu mengaku belajar film secara otodidak lewat UKM kampus dan pengalaman di lapangan.
"Sejauh ini aku cukup fun karena aku bukan berlatar pendidikan film. Kuliahku sejarah dan belajar film secara intens lewat UKM. Itu yang bikin aku cukup fun karena bisa terkoneksi dan belajar dari orang-orang yang sudah lama di dunia film," ujarnya.
Sebelum melaju ke Busan, What the Water Keeps sudah lebih dulu menjalani screening di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Polandia, Selandia Baru, dan Tiongkok. Namun penayangan itu masih bersifat terbatas dan bukan bagian dari kompetisi maupun festival.
"Dari pihak funding melakukan pemutaran. Pemutaran kami ada di lima negara yaitu di Indonesia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Polandia. Tapi itu statusnya screening saja, bukan festival," tutur Dendy.
Kini, tim produksi masih terus mengirimkan film tersebut ke berbagai festival internasional lain. Dendy berharap langkah What the Water Keeps di Busan bukan menjadi akhir perjalanan film mereka.
"Harapannya film ini nggak selesai di Busan International Short Film Festival saja, karena kami masih ada beberapa submisi ke festival lain. Semoga bisa lebih banyak distribusi ke festival-festival di seluruh dunia," pungkasnya.
(auh/hil)