ITS Sulap Limbah Plastik Jadi Energi Alternatif Pakai Teknologi Pirolisis

ITS Sulap Limbah Plastik Jadi Energi Alternatif Pakai Teknologi Pirolisis

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 08 Jul 2026 13:00 WIB
ITS Sulap Limbah Plastik Jadi Energi Alternatif Pakai Teknologi Pirolisis
ITS sulap limbah plastik jadi energi alternatif pakai teknologi pirolisis/Foto: Istimewa
Surabaya -

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah limbah plastik menjadi energi alternatif. Inovasi tersebut diterapkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Pesanggrahan, Kota Batu, sebagai upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.

Program bertajuk "Implementasi Sistem Pirolisis Limbah Plastik untuk Optimalisasi Produksi Energi Alternatif Ramah Lingkungan di Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur" merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kegiatan ini dipimpin Lucky Putri Rahayu, S.Si., M.Si. dari Departemen Teknik Elektro Otomasi ITS bersama tim yang terdiri atas Dr. Dra. Melania Suweni Muntini, M.T. dari Departemen Fisika ITS, Ilham Agung Wicaksono, S.Tr.T., M.Tr.T. dari Departemen Teknik Elektro Otomasi ITS, serta enam mahasiswa Project Based Learning (PjBL) Departemen Teknik Elektro Otomasi ITS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui program tersebut, tim ITS memberikan pelatihan pengelolaan sampah dan penerapan teknologi pirolisis kepada masyarakat Desa Pesanggrahan. Tujuannya, meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah limbah plastik menjadi sumber energi yang memiliki nilai ekonomi melalui penerapan teknologi tepat guna.

ADVERTISEMENT

Desa Pesanggrahan dipilih karena memiliki potensi dalam pengembangan pengelolaan sampah terpadu. Desa ini memiliki lahan pengelolaan sampah sekitar 2.000 meter persegi, hanggar pemilahan sampah, serta kelompok pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Indragiri Hilir.

Di sisi lain, kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang semakin terbatas membuat penguatan sistem pengelolaan sampah di tingkat desa menjadi kebutuhan.

Melalui teknologi pirolisis, limbah plastik seperti High-Density Polyethylene (HDPE), Polypropylene (PP), dan beberapa jenis plastik lainnya dapat diolah menjadi minyak pirolisis sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang sekaligus memberikan nilai tambah.

Pada tahap implementasi, tim ITS melakukan uji coba menggunakan 7 kilogram limbah plastik dengan suhu operasi 350-400 derajat Celsius. Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 140-150 mililiter minyak pirolisis yang berdasarkan pengujian sederhana dapat langsung terbakar saat disulut api sehingga berpotensi menjadi sumber energi alternatif.

Ketua tim pengabdian, Lucky Putri Rahayu mengatakan, program tersebut tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengoperasikan sistem secara mandiri.

"Melalui program ini kami ingin menghadirkan solusi yang aplikatif terhadap persoalan sampah plastik di tingkat desa. Teknologi pirolisis menjadi jembatan antara pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan energi alternatif. Harapannya, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal," kata Lucky, Rabu (8/7/2026).

Selain memasang sistem pirolisis, tim ITS juga memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dengan menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Menurut tim, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting agar bahan baku plastik yang diolah sesuai dengan kebutuhan teknologi pirolisis.

Salah satu anggota tim ITS, Melania Suweni Muntini menilai, keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber.

"Teknologi yang baik harus diiringi dengan kesadaran masyarakat. Pemilahan sampah dari rumah tangga merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan proses pengolahan selanjutnya. Melalui teknologi pirolisis, masyarakat dapat melihat bahwa sampah plastik bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan," jelasnya.

Sistem pirolisis yang dipasang telah dilengkapi sensor suhu, panel kontrol, Human Machine Interface (HMI), serta sistem kendali yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian ITS mengenai kontrol suhu mesin pirolisis. Teknologi tersebut dirancang agar proses konversi limbah plastik menjadi minyak pirolisis berlangsung lebih stabil, aman, dan efisien.

Sebagai bagian dari alih teknologi kepada masyarakat, tim ITS juga menyusun standar operasional prosedur (SOP), modul pelatihan, dan panduan operasional sehingga pengelola TPS3R dapat mengoperasikan sistem secara mandiri.

Sekretaris Desa Pesanggrahan, Budi Cahyono, berharap program tersebut menjadi awal lahirnya sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di desanya.

"Kehadiran teknologi pirolisis diharapkan tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah plastik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat serta menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam pengelolaan lingkungan," pungkasnya.

Ke depan, ITS akan melanjutkan program ini melalui pendampingan operasional, pemantauan performa sistem, evaluasi dampak pengurangan sampah, hingga penguatan manajemen TPS3R. Program tersebut diharapkan menjadi model implementasi waste-to-energy berbasis masyarakat yang mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).




(esw/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads