Cita Rasa Klasik Warkop Mbah Wir Nganjuk Eksis Sejak 1964

Cita Rasa Klasik Warkop Mbah Wir Nganjuk Eksis Sejak 1964

Bakrie - detikJatim
Sabtu, 04 Apr 2026 19:40 WIB
Warkop Mbah Wir Nganjuk 62 Tahun Bertahan di Tengah Gempuran Kafe Kekinian
Warkop Mbah Wir Nganjuk/Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Di tengah maraknya kafe kekinian yang menjamur, sebuah warung kopi sederhana di Nganjuk justru tetap bertahan dan tak kehilangan pelanggan. Warkop Mbah Wir yang berdiri sejak 1964 ini menjadi bukti bahwa cita rasa tradisional masih punya tempat di hati penikmat kopi lintas generasi.

Dengan racikan kopi khas yang masih diproses secara tradisional, warung ini tak hanya menawarkan minuman, tetapi juga menghadirkan suasana tempo dulu yang kini semakin sulit ditemukan. Dari bapak-bapak hingga anak muda, pelanggan setia terus berdatangan setiap hari.

Buka sejak 62 tahun lalu, Warkop Mbah Wir hingga kini tetap ramai didatangi pelanggan. Mulai bapak-bapak hingga remaja usia gen-Z.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wujud warungnya juga khas bangunan tradisional Jawa. Dinding-dinding dan pilar terbuat dari kayu jati. Sedangkan teras terdapat lincak atau kursi-kursi panjang yang terbuat dari bambu.

ADVERTISEMENT
Warkop Mbah Wir Nganjuk 62 Tahun Bertahan di Tengah Gempuran Kafe KekinianWarkop Mbah Wir Nganjuk 62 Tahun Bertahan di Tengah Gempuran Kafe Kekinian Foto: Bakrie/detikJatim

Warkop ini dirintis pasangan suami istri Wiryodikromo dan Jaminem. Nama "Mbah Wir" sendiri diambil dari panggilan depan Wiryodikromo.

Wiryodikromo sudah tutup usia sejak 1990. Sedangkan sang istri Jaminem, setahun lalu menyusul berpulang. Kini usaha warkop tersebut diteruskan cucu mereka, yakni Hartatik (53) dan Maryati (51).

"Sebelumnya sampai usia 97 tahun, Mbah Jaminem tetap melayani pembeli dibantu saya dan Mbak Hartatik," ujar Maryati, cucu kedua Wiryodikromo dan Jaminem ditemui detikJatim, Sabtu (4/4/2026).

Setelah sang suami meninggal, usaha tersebut dilanjutkan Jaminem hingga berusia 97 tahun, dibantu dua orang cucunya.

Menurut Maryati, sebelumnya memulai usaha warkop ini, kakek dan neneknya awalnya berjualan es sirup di Desa Mlorah Kecamatan Rejoso. Sebelumnya juga merantau dan berjualan kacang goreng di Surabaya. Namun akhirnya kembali ke rumahnya di Kelurahan Werungotok dan membuka warkop.

"Usaha warkop ini awalnya kecil-kecilan. Pelanggannya hanya dari tetangga sekitar," kata Maryati.

Warkop Mbah Wir Nganjuk 62 Tahun Bertahan di Tengah Gempuran Kafe KekinianWarkop Mbah Wir Nganjuk 62 Tahun Bertahan di Tengah Gempuran Kafe Kekinian Foto: Bakrie/detikJatim

Seiring berjalannya waktu, cita rasa kopi racikan Mbah Wir mulai dikenal luas. Warung ini semakin berkembang dan menarik pelanggan dari berbagai kalangan, bahkan dari luar Nganjuk.

Keunikan Warung Kopi Mbah Wir terletak pada proses produksinya yang masih tradisional. Biji kopi pilihan disangrai di atas tungku, sementara air untuk menyeduh dipanaskan menggunakan arang.

"Jadi aroma dan rasa kopinya khas," ungkap Maryati.

Warkop Mbah Wir biasanya memproduksi sendiri sekitar 2 kilogram bubuk kopi setiap dua hari sekali. Jumlah yang terbatas ini membuat kopi hanya disediakan untuk konsumsi di warung, tidak dijual dalam jumlah besar.

Hal lain yang membuat pelanggan tetap ramai adalah harganya yang terjangkau. Secangkir kopi hanya dibanderol Rp 4 ribu. Sedangkan gorengan Rp 1 ribu dan nasi bungkus Rp 4 ribu.

"Sehari-hari warung buka mulai jam 06.00 sampai jam 21.00 WIB malam," ujar Maryati.

Joni Tri Wahyudi (47), pelanggan Warkop Mbah Wir asal Kelurahan Werungotok mengakui, cita rasa kopi racikan warung ini sulit ditemui di warung lainnya.

"Beda dan khas, karena digoreng dan diracik sendiri. Suasananya juga khas, kita seperti kembali ke suasana warung desa di masa lalu, makanya saya betah ngopi di sini," ungkap Joni.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads