5 Makanan Tertua di Indonesia Ini Asalnya dari Jawa Timur

5 Makanan Tertua di Indonesia Ini Asalnya dari Jawa Timur

Jihan Navira - detikJatim
Jumat, 19 Jun 2026 22:40 WIB
Pecel Legendaris Mbok Kuning Madiun
Pecel, salah satu kuliner dengan sejarah panjang (Foto: Sugeng Harianto/detikJatim)
Surabaya -

Kuliner tradisional Indonesia bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah. Sejumlah makanan khas Nusantara ternyata sudah dikenal sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu, dan beberapa di antaranya berasal dari wilayah Jawa Timur.

Menariknya, makanan-makanan kuno tersebut tidak hilang ditelan zaman. Hingga kini, hidangan itu masih eksis dan mudah ditemukan, disantap sehari-hari, dan bahkan menjadi favorit banyak orang.

Melansir laman resmi Kementerian Pariwisata RI, beberapa makanan khas Nusantara bahkan sudah ada sejak lebih dari seribu tahunn lalu dan tercatat dalam berbagai prasasti kuno, termasuk makanan khas Jawa Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi, apa saja makanan khas Jawa Timur yang rupanya sudah ada sejak masa lampau?

Makanan Tertua di Jawa Timur

Jawa Timur tak hanya dikenal sebagai daerah dengan ragam kuliner lezat, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang melalui makanan tradisionalnya. Sejumlah hidangan dari wilayah ini bahkan telah tercatat dalam prasasti dan naskah kuno sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu. Berikut beberapa makanan tertua di Jawa Timur yang masih bertahan dan dinikmati sampai sekarang.

ADVERTISEMENT

1. Urap

Hidangan urap yang biasanya digunakan sebagai pendamping nasi bali atau juga bisa dimakan sendiri untuk sarapan di pagi hari ini rupanya sudah dikenal sejak masa Kerajaan Medang dan tercatat dalam Prasasti Linggasutan tahun 929 Masehi.

Resep Urap Sayur JawaUrap Sayur Jawa (Foto: detikfood/odilia)

Meski secara administratif Kerajaan Medang ini awalnya berdiri di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan Mataram, lokasi kerajaan harus berpindah karena letusan Gunung Merapi yang menghancurkan Kerajaan Mataram. Setelah itu, barulah Kerajaan Medang berdiri di Jawa Timur pada abad ke-10 dengan Ibu Kota Watan Mas yang berada di kawasan sungai Brantas.

Urap merupakan hidangan berupa sayuran rebus yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu. Ada pun sayuran yang biasa digunakan antara lain adalah kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, daun singkong, dan kol.

Berbagai jenis sayuran tersebut kemudian dipadukan dengan bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kencur, terasi, dan cabai yang dihaluskan lalu dicampur dengan kelapa parut.

2. Dendeng

Hidangan yang dikenal luas sebagai makanan khas Minang ini meninggalkan jejak keberadaan yang sudah ada sejak abad ke-10 M. Bahkan, dendeng tertulis dalam Prasasti Taji tahun 901 Masehi yang dibuat pada masa Kerajaan Medang. Oleh karena itu, tak heran jika di Jawa terdapat banyak variasi dari dendeng.

Resep Dendeng Sapi Medan)Dendeng Sapi (Foto: Dok. Herliana Purba

Di Jawa Timur seperti Ponorogo dan sekitarnya, dendeng beradaptasi menjadi hidangan lokal dengan bumbu manis-gurih atau digoreng. Tradisi ini mencerminkan pengaruh kuliner Minang yang menyatu dengan budaya Jawa sejak era klasik.

Mengenai dendeng, hidangan ini terbuat dari irisan tipis daging sapi yang diawetkan dengan cara dikeringkan dan diberi bumbu. Dengan teksturnya yang renyah, dendeng dapat disimpan karena sifatnya yang tahan lama.

3. Lalapan

Masih berakar dari Kerajaan Medang, catatan keberadaan dari hidangan segar ini muncul dalam Prasasti Jeru-jeru tahun 930 Masehi pada masa Kerajaan Medang.

Sambal Bebas Ambil, Lalapan di WGP Ini Jadi Langganan Hotman ParisIlustrasi lalapan (Foto: Diah Afrilian/BeritaKlik)

Hingga kini, makanan kuno ini tetap menjadi bagian penting dari kebiasaan makan masyarakat Indonesia di mana biasanya disajikan bersama nasi, lauk, sambal, dan kerupuk.

Lalapan sendiri memang biasanya hadir sebagai pelengkap makanan berupa sayuran segar seperti kemangi, timun, selada, tomat, atau terong.

4. Jadah dan Wajik

Kedua makanan tradisional Jawa ini ternyata sudah eksis sejak zaman Majapahit dan disebut dalam Kitab Nawa Suci.

Wajik Gula ArenWajik Gula Aren (Foto: detikfood/Odilia)

Terkait Kitab Nawa Suci, naskah aslinya berbahasa Jawa Tengah (Jawa Kuno akhir) ditulis oleh Mpu Siwamurti berdasarkan rontal Sanghyang Nawaruci. Disebut terkait Jawa Timur karena Majapahit berpusat di sana, dan cerita menyebar luas di wilayah timur seperti Jember melalui tradisi lisan serta kuliner seperti wajik yang tercatat di dalamnya.

Jadah sendiri merupakan hidangan yang terbuat dari ketan dan kelapa parut sehingga memiliki cita rasa gurih. Berbeda dengan jadah, wajik memiliki rasa manis legit karena berbahan dasar beras ketan dan gula merah.

5. Pecel

Makanan tradisional yang hingga kini masih dijadikan santapan saat sarapan ini sudah dikenal sejak abad ke-9. Catatan bahwa pecel sudah lama ada disebut di beberapa kitab kuno dan bahkan pecel tertulis secara gamblang.

Melansir detikFood, dalam literatur sejarah, pecel pertama kali disebut dalam Kakawin Ramayana, yang ditulis pada abad 9 era Mataram Kuno/Mataram Hindu dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M).

Pecel Mbok Bari yang legendaris di Kota Blitar kerap jadi jujugan tokoh dan pejabat.Nasi Pecel (Foto: Fima Purwanti/detikJatim)

Dalam kitab Kakawin Ramayana tersebut berbunyi "Semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya."

Pecel juga tertulis dalam Prasasti Siman dari Kediri yang ditulis tahun (865 S/943 M). Dalam prasasti ini disebutkan makanan yang terbuat dari sayuran daun yang direbus dan diolah secara khusus dengan bumbu rempah.

Selain itu, pecel tercatat dalam kitab Jawa populer, Serat Centhini yang menyebutkan berbagai jenis makanan seperti nasi pulen, ayam dengan bunga pandan, dendeng rusa, lalapan seledri, kecambah dan kemangi.

Deretan makanan kuno dari Jawa Timur ini membuktikan bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki akar sejarah yang sangat panjang.

Tak heran jika hidangan tersebut masih digemari banyak orang. Meski telah melewati berbagai zaman dan perubahan budaya, cita rasanya tetap bertahan hingga sekarang.

Jadi, saat menikmati makanan-makanan ini, bukan hanya rasa lezat yang didapat, tetapi juga sepotong warisan sejarah Nusantara.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads