Sejarah Cakwe sebagai Jajanan Simbol Perlawanan

Sejarah Cakwe sebagai Jajanan Simbol Perlawanan

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 24 Jun 2026 16:45 WIB
Kress! 20 Cakwe Gurih Renyah Ada di Sini
Ilustrasi cakwe. Foto: Istimewa
Surabaya -

Cakwe merupakan salah satu jajanan pasar yang hingga kini masih digemari. Cakwe yang terkenal di Indonesia bukan berasal dari satu kota asli, melainkan kehadirannya diperkenalkan secara luas oleh imigran Tiongkok pada awal abad ke-20.

Cakwe kemudian menyebar melalui pedagang kaki lima di berbagai kota pelabuhan dan pusat Tionghoa salah satunya adalah Kota Surabaya.

Di Tiongkok, cakwe biasanya dimakan dengan cara dicelupkan ke dalam bubur hangat, sedangkan di bagian Utara Tiongkok, cakwe lebih sering dinikmati dengan susu kedelai, baik asin maupun manis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kata "cakwe" sendiri berasal dari dialek Hokkian, "cahkwe" yang artinya "hantu yang digoreng" dalam minyak panas. Oleh karena itu, warna kuning keemasannya yang indah dan cantik justru dianggap menyeramkan. Di negara asalnya, cakwe juga dikenal dengan nama youtiao.

Cakwe diciptakan sebagai bentuk protes warga Tiongkok atas kematian jenderal Yue Fei yang sangat dihormati dan dicintai masyarakat saat itu. Tapi, apa yang membuat rakyat Tiongkok marah pada saat itu, dan mengapa cakwe menjadi simbol perlawanannya?

ADVERTISEMENT

Awal Mula Masuknya Cakwe ke Indonesia

Berkaca pada catatan sejarah, para pedagang memainkan peranan penting di dalam perjalanan sejarah di Indonesia, tak terkecuali dengan perkembangan kuliner yang hingga kini masih digemari penduduk Indonesia yang salah satunya adalah cakwe.

Dilansir dari jurnal Sepotong Cerita Simbolis Produk Cakwe: Antara Brand dan Juga Dendam Kesumat oleh Agung Wibiyanto, Ichwan Prastowo, dan Prasiwi Citra Resmi, dikatakan kuliner tradisional yang dibawa oleh pedagang asing khususnya dari Tiongkok awalnya mengalami kesulitan di dalam mengolah produk asal mereka.

Hal tersebut dikarenakan bahan-bahan dengan resep asli yang sulit ditemukan di Indonesia. Oleh karena itu, para pedagang kemudian beradaptasi dengan mengolah produk makanan mereka, termasuk cakwe, dengan menggunakan bahan bahan lokal yang diolah menurut selera mereka.

Konon, cakwe disajikan dengan seporsi bubur hangat dan itu dibawa oleh para imigran dari Tiongkok selama kurang lebih 800 tahun yang lalu. Penyebaran cakwe bisa dikatakan cukup beragam, khususnya di Pulau Jawa.

Hal tersebut bisa diketahui dari tampilan penyajian cakwe yang disajikan berbeda-beda selain sebagai pendamping porsi hangat. Misalnya di Surabaya, cakwe biasanya disajikan utuh sebagai jajanan yang dilengkapi dengan saus sambal atau dipotong kecil-kecil sebagai pelengkap bubur ayam.

Kisah di Balik Cakwe

Jika dilihat secara simbolis, cakwe bukan sekadar produk makanan, melainkan tak bisa dilepaskan dari latar historis yang berkembang di daratan Tiongkok. Sejumlah kajian sejarah menyebutkan bahwa asal-usul cakwe berkaitan erat dengan peristiwa besar pada era Kekaisaran Song Selatan.

Cakwe berasal dari era periode Kekaisaran Song selatan, di mana Jenderal Yue Fei yang pada saat itu disegani dan ditakuti oleh bangsa-bangsa lain di antaranya bangsa Jin/Jurchen. Berulang kali pasukannya bentrok langsung di perbatasan negeri Song Selatan.

Oleh karena itu, jenderal Yue Fei kemudian terkenal di kalangan publik hingga menyandang julukan pahlawan kekaisaran Song Selatan. Dalam berbagai catatan sejarah, era kekaisaran Song Selatan dipenuhi dengan intrik politik yang di dalamnya juga bisa dikatakan sebagai negara tidak stabil.

Dalam hal ekonomi dan politik, Song selatan menjadi incaran imperialisme dari bangsa bangsa sekitar, salah satunya adalah bangsa Jurchen. Yue Fei berhasil memenangkan pertempuran di utara dan berhasil mengambil alih kembali kota-kota yang sebelumnya jatuh ke tangan pendudukan bangsa Jurchen.

Namun, intrik istana kekaisaran Song selatan yang cukup parah menyebabkan banyak pejabat korup yang tidak menyukai keberhasilan jenderal Yue Fei, salah satunya adalah perdana menteri Qin Hui.

Penelitian Chang (2024) mencatat bahwa Yue Fei sempat meraih kemenangan besar di wilayah utara dan berhasil merebut kembali kota-kota yang sebelumnya jatuh ke tangan bangsa Jurchen. Sayangnya, keberhasilan itu tidak disambut baik oleh seluruh pejabat istana.

Intrik politik yang melibatkan pejabat korup, salah satunya Perdana Menteri Qin Hui, justru berujung pada upaya menjatuhkan Yue Fei. Qin Hui berhasil membujuk Kaisar Gaozong yang dalam catatan Henning (2007) dikenal sebagai kaisar yang lemah dan mudah dipengaruhi untuk memanggil kembali Yue Fei ke ibu kota.

Di situ lah kemudian dilayangkan tuduhan bahwa Yue Fei bersekongkol dengan bangsa Jurchen untuk menggulingkan kekaisaran Gaozhong yang dalam catatan historis terbilang sebagai kaisar yang lemah, mudah tunduk, dan mudah terpengaruh.

Singkat cerita, setibanya di ibu kota, Yue Fei ditangkap dan dipenjarakan untuk menunggu keputusan pengadilan yang sepenuhnya berada di tangan kaisar. Penangkapan ini memicu kemarahan publik, di mana masyarakat sipil melakukan protes dan menuntut agar Yue Fei dibebaskan dari seluruh dakwaan yang dilontarkan oleh Qin Hui dan para pengikutnya.

Namun, tuntutan tersebut tidak membuahkan hasil. Yue Fei tetap dijatuhi hukuman mati. Kematian sang jenderal menuai simpati luas dari masyarakat, meski tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengubah keputusan tersebut.

Salah satu bentuk ekspresi kekecewaan dan duka masyarakat kala itu diwujudkan secara simbolis melalui produk makanan yang kemudian dikenal sebagai cakwe sebagai representasi kritik, kemarahan, dan ingatan kolektif terhadap tragedi yang menimpa Yue Fei.

Rakyat yang tidak bisa protes secara langsung melampiaskan kemarahannya melalui hidangan ini. Adonan yang dipelintir menjadi dua melambangkan Qin Hui dan istrinya, lalu digoreng di minyak panas seolah-olah menghukum mereka.

Resep Membuat Cakwe

Jajanan ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah ditemui. Akan tetapi dalam proses memasaknya membutuhkan ketelatenan untuk menyajikan makanan dengan rasa yang gurih ini. Berikut bahan-bahan serta cara memasak cakwe.

Bahan

  • 250 gram tepung terigu protein tinggi
  • 2 siung bawang putih
  • 1 sendok garam halus
  • ½ sendok gula pasir
  • 200 ml air matang
  • ½ sendok ragi instan
  • ¼ sendok baking powder
  • ¼ sendok baking soda

Cara Membuat

  • Buat adonan. Larutkan gula pasir bersama dengan ragi instan serta satu sendok makan tepung terigu ke dalam 100 ml air matang. Aduk sampai rata lalu sisihkan hingga berbuih.
  • Ayak tepung terigu bersama baking powder dan baking soda agar tidak ada gumpalan. Aduk hingga semua bahan tercampur rata.
  • Tuangkan adonan biang, bawang putih, serta garam halus. Uleni hingga adonan kalis dan tidak lengket di tangan.
  • Tambahkan sisa air kedalam adonan sedikit demi sedikit sambil terus diuleni. Tekanan air dikira-kira agar adonan tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras menyerupai adonan roti/donat.
  • Tutup adonan dengan lap basah dan biarkan mengembang selama kurang lebih setengah jam.
  • Uleni kembali adonan hingga benar-benar kalis dan tidak lengket di tangan. Diamkan lagi selama minimal dua jam sampai adonan mengembang sempurna.
  • Panaskan minyak goreng dalam jumlah agak banyak (deep fry) dalam penggorengan di atas api sedang.
  • Kempiskan adonan, ambil kurang lebih sebesar ibu jari. Jika adonan sedikit lengket, tambahkan sedikit minyak goreng.
  • Tarik adonan hingga memanjang dan pipihkan, buat lagi dengan ukuran yang sama sampai adonan habis.
  • Rangkapkan dua adonan dan tekan secara membujur sehingga dua adonan tersebut menempel satu sama lain, seperti dua jari yang dihimpitkan.
  • Setelah minyak panas, goreng adonan tersebut hingga mengembang dan berubah warna menjadi coklat keemasan.
  • Angkat dan tiriskan, lakukan hingga adonan habis.
  • Cakwe siap disajikan.



(/ihc)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads