Mikael Tata Jadi Korban Rasisme, Pakar Soroti Mental Diskriminatif

Mikael Tata Jadi Korban Rasisme, Pakar Soroti Mental Diskriminatif

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 11 Mar 2026 16:15 WIB
Say no to racism
Say no to racism (Foto: Dok Persebaya Surabaya)
Surabaya -

Bek Persebaya Surabaya asal Sentani, Papua, Mikael Alfredo Tata menjadi korban rasisme. Dia menerima serangan bernada rasis setelah pertandingan melawan Persib Bandung pada Senin (2/3) lalu.

Sejumlah komentar bernada rasis terlihat di media sosial setelah pertandingan tersebut. Beberapa warganet menuliskan komentar yang dianggap menghina secara rasial, seperti menyebut kata-kata yang merendahkan dan mengaitkannya dengan stereotip terhadap orang Papua.

Menurut Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Radius Setiyawan, praktik rasisme sebenarnya masih sering terjadi di ruang publik Indonesia. "Selalu saja terulang, lagi-lagi ruang publik kita dikotori tindakan rasis," kata Radius, Rabu (11/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme kerap mengarah pada kelompok masyarakat berkulit gelap, khususnya saudara-saudara kita yang ada di Timur. Paling sering menimpa masyarakat di Papua.

Baginya, cara pandang rasisme tersebut tidak bisa dilepaskan dari warisan pola pikir kolonial yang masih tersisa hingga hari ini. Dalam perspektif kolonial, masyarakat kulit hitam sering ditempatkan sebagai kelompok yang dianggap belum maju, terbelakang, atau bahkan dijadikan bahan hinaan dan lelucon.

ADVERTISEMENT

"Persoalan rasisme hingga kini belum menjadi perhatian serius negara, sehingga tindakan merendahkan kelompok etnis tertentu masih kerap terjadi di ruang publik. Mental rasis mengendap sekian lama dan mengharuskan kita selalu memiliki keinginan untuk menghina bahkan menundukkan siapa saja yang dianggap rendah. Ini persoalan akut bangsa ini," jelasnya.

Padahal, lanjut Radius, salah satu fondasi utama negara demokratis adalah pengakuan atas kesetaraan di tengah berbagai perbedaan. Indonesia sebagai negara multikultural tidak akan berkembang jika praktik diskriminasi seperti rasisme masih terus terjadi dan dibiarkan.

"Kemanusiaan harus menjadi nilai utama dalam membangun keindonesiaan. Masyarakat dengan warna kulit apa pun harus diposisikan sebagai bangsa yang sama dan memiliki hak yang sama pula," ujarnya.

Di akhir keterangannya, Radius menegaskan bahwa negara perlu hadir secara lebih serius untuk mengurai persoalan tersebut, salah satunya melalui pendidikan dan penguatan nilai budaya yang menjunjung kesetaraan.

"Jika dibiarkan, ruang publik kita akan terus tercemar oleh tindakan rasis yang memalukan," kata Warek UMSURA itu.

Sementara itu, pihak UMSURA juga menyatakan keprihatinan atas dugaan aksi rasisme yang menimpa salah satu mahasiswanya itu, yakni Mikael Alfredo Tata. Kampus juga mengecam segala bentuk diskriminasi rasial dan menyatakan dukungan penuh kepada Mikael Tata agar tetap fokus berkarya dan berprestasi, baik sebagai atlet maupun mahasiswa.

"UMSURA menegaskan bahwa kampus merupakan ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Karena itu, pihak kampus berharap insiden serupa tidak lagi terulang serta menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat sikap saling menghargai di tengah keberagaman Indonesia," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads