Melihat Keunikan Arsitektur Masjid Tertua di Nganjuk

Melihat Keunikan Arsitektur Masjid Tertua di Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Minggu, 22 Feb 2026 14:45 WIB
Masjid Al-Mubarok, masjid tertua di Nganjuk
Masjid Al-Mubarok, masjid tertua di Nganjuk/Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Masjid Al-Mubarok di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek tercatat sebagai masjid tertua di Kabupaten Nganjuk. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik.

Bangunannya didirikan oleh KRT Sosro Koesoemo I atau juga dikenal dengan nama Kanjeng Djimat, Bupati pertama Berbek (sekarang Kabupaten Nganjuk), pada Tahun 1818 Masehi atau 1745 Tahun Jawa.

Bentuk arsitektur asli Masjid Al-Mubarok seluas 14×14 meter masih ada dan terawat hingga saat ini. Yakni berupa bangunan utama untuk tempat salat, yang disangga empat pilar kayu jati besar berumur ratusan tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di bagian atapnya atau wuwungan tersusun dari puluhan balok kayu jati yang ditata rapi dan masih terawat. Begitu pula dengan kusen pintu dan jendela yang dipenuhi ornamen ukiran khas Jawa.

ADVERTISEMENT
Masjid Al-Mubarok, masjid tertua di NganjukMasjid Al-Mubarok, masjid tertua di Nganjuk Foto: Bakrie/detikJatim

"Bahan-bahannya masih asli dari sejak dibangun. Hanya diperbarui dengan dicat. Lalu gentengnya juga diganti baru, dulu adalah genteng kayu," ujar M. Sururi, Ketua II Takmir Masjid Al-Mubarok kepada detikJatim, Sabtu (21/2/2026).

Isinya tak kalah unik. Ada mimbar khatib yang seluruhnya dibangun dari kayu jati. Penuh dengan ornamen ukiran-ukiran dan cungkup atap limas bermotif puluh raja.

"Mimbar ini dibangun tidak pakai paku sama sekali, hanya disambung-sambungkan dan saling dikaitkan. Atap cungkupnya juga ditempelkan saja tidak dipaku," ungkap Sururi.

Juga ada jodang atau lemari kayu tempat menyimpan Al-Quran yang dibuat pada 1745 Tahun Jawa. Begitu pula dengan pintu kayu yang juga bertulisan angka. 1745 hingga 1747 Tahun Jawa dengan aksara Arab dan Jawa.

Di sisi timur bangunan asli masjid, terdapat ruang tengah yang dibangun oleh Sosrodirjo, adik Kajeng Djimat pada 1760 Tahun Jawa atau 1831 Masehi. Di ruangan ini juga diletakkan bedug yang berumur hampir 200 tahun.

"Bedug ini juga peninggalan Kanjeng Djimat," kata Sururi.

Berikutnya, ruangan bagian depan hingga pintu gerbang adalah bangunan baru yang dibangun oleh takmir pada 1985. Bagian ini dahulunya adalah halaman terbuka, yang terdapat batu yoni yang diduga peninggalan zaman Hindu.

Uniknya, batu yoni itu tidak dipindahkan melainkan dimanfaatkan sebagai jam matahari, atau alat penanda waktu salat dengan menggunakan pergerakan bayangan cahaya matahari.

Beberapa ornamen interior masjid juga tampak sedikit terpengaruh corak arsitektur China. Sehingga secara keseluruhan, Masjid Al Mubarok merupakan simbol akulturasi Jawa, China, Islam dan Hindu.

Adapun di sisi belakang atau barat masjid, terdapat kompleks makam yang berisi puluhan pusara. Sedangkan di sisi selatan difungsikan sebagai madrasah diniyah (madin).

"Di dalam kompleks malam ada makam utama yaitu makam Kanjeng Djimat dan Sosrodirjo adiknya. Makam lainnya adalah kerabat-kerabat Kanjeng Djimat," pungkas Sururi.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads