Proyek Kanal Antarmoda Tarakan Mangkrak, Warga Keluhkan Abrasi

Proyek Kanal Antarmoda Tarakan Mangkrak, Warga Keluhkan Abrasi

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 23 Jan 2026 19:58 WIB
Proyek kanal antarmoda penghubung Bandara Juwata dengan jalur air Tarakan yang mangkrak.
Proyek kanal antarmoda penghubung Bandara Juwata dengan jalur air Tarakan yang mangkrak. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Tarakan -

Proyek pembangunan Kanal Antarmoda yang digadang-gadang akan menghubungkan Bandara Juwata Tarakan dengan transportasi laut kini mangkrak. Kondisinya memprihatinkan dan mengakibatkan abrasi.

Pantauan detikKalimantan di lokasi Jalan Hasanuddin, RT 18, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kecamatan Tarakan Barat, bangunan fisik siring kanal tampak usang. Jika diukur, fisik kanal tersebut baru dibangun belasan meter saja.

Selain itu, kanal tersebut sudah ditutupi tanaman liar pinggir pantai. Terlihat pula longsoran di beberapa jalan yang letaknya berdekatan dengan rumah warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diketahui kanal antar moda ini diproyeksikan mengintegrasikan langsung transportasi udara dengan jalur laut atau sungai. Jalu ini kemudian menghubungkan wilayah di sekitar Tarakan yaitu Nunukan, Bulungan, Malinau, dan Tana Tidung.

Benetinus, warga Jalan Hasanuddin, RT 18, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kecamatan Tarakan Barat, menjadi saksi awal perencanaan pembangunan kanal tersebut. Saat itu mantan Gubernur Kalimantan Utara Irianto turut meninjau ke lokasi.

"Saya lihat gambar perencanaannya mewah saat ada Gubernur Irianto. Seingat saya, dalam foto perencanaan pembangunan itu ada tempat joging, ada tamannya, pokoknya indah. Pokoknya lahan parkir bandara itu tembus dengan kanal ini nantinya," ujar Bene ditemui di dekat lokasi , Jumat (24/1/2026).

Alih-alih menikmati fasilitas taman dan jalur joging, warga justru harus berjibaku dengan dampak lingkungan. Pengerjaan awal yang meliputi penggalian dan pengerukan sungai telah mengubah bentang alam di perbatasan sungai dan tanah warga.

"Dampak dari penggalian itu adalah abrasi. Kemarin perbatasan sungai dan tanah tidak seperti saat ini," keluh Bene.

Ia menuturkan bahwa upaya pengiringan sungai (sheet pile) yang tidak tuntas menyebabkan tanah di pinggir sungai terus tergerus. Warga berinisiatif menanam pohon api-api (mangrove) untuk menahan tanah, namun upaya swadaya tersebut tidak maksimal.

"Ada abrasi. Jadi jalanan kami semakin sempit," tegasnya.

Warga berharap agar bangunan yang sudah menelan uang rakyat tersebut tidak sia-sia, atau setidaknya tidak memperburuk kondisi lingkungan tempat tinggal mereka.

"Kami cuma warga, paling ikut bahagia dan terdampak jika bangunan tersebut berdiri," pungkas Bene.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads