Dugaan perundungan atau bullying yang menyebabkan siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Kota Pontianak yang mengakhiri hidupnya sudah terbantahkan. Meski begitu, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pontianak menekankan perundungan tidak boleh terjadi di lingkungan madrasah.
Penekanan ini disampaikan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) pada Kantor Kemenag Kota Pontianak, Aris Sujarwono menyikapi video-video yang sempat beredar sebelum kematian korban. Video tersebut yang diduga menjadi salah satu upaya perundungan terhadap korban.
"Kami sepakat, di madrasah dan seluruh lembaga pendidikan, khususnya di Kota Pontianak, di bawah Kementerian Agama, kami sangat menolak kekerasan dan bullying. Tujuannya agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan spirit yang baik, berakhlakul karimah, dan menjadi generasi Islami," kata Aris kepada detikKalimantan, Kamis (29/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada dua video yang sempat beredar. Video pertama beredar atau diteruskan dari saluran WhatsApp yang menampilkan seorang siswi sedang mengambil sesuatu di ruang kelas kosong. Video kedua, sejumlah siswi MTs berujar akan memviralkan orang yang mengambil barang.
Aris bilang, ia juga sempat melihat muatan yang ada dalam video itu. Namun, ia berpandangan, video-video tersebut bukan berarti menyimpulkan dan mengarah kepada korban.
Video pertama, kata Aris, siswi-siswi lainnya merekam monitor dari jarak jauh saat tim IT mengecek apa yang terekam dalam CCTV. Video tersebut memang menampilkan seorang siswi memakai masker sedang mengambil sesuatu, namun tidak menampilkan suara, dan tidak menyebut nama.
"Tidak ada identitas yang ditujukan langsung kepada almarhumah.Potongan video yang sempat beredar itu untuk mencari siapa orangnya," jelasnya.
Kemudian, dalam video kedua terdapat kalimat akan memviralkan orang yang mengambil barang. Dalam kasus kematian korban, tidak ada barang yang hilang. Melainkan uang sekitar Rp200 ribu yang sempat diambil korban.
"Bisa jadi (video kedua) itu momen yang berbeda, tempat yang berbeda juga, bisa saja. Karena memang yang hilang adalah uang, bukan barang. Mungkin bisa saja mereka ini bergurau," kata Aris.
Untuk siswi-siswi yang merekam dan membuat konten di media sosial, kata Aris, sudah diselesaikan bersama guru Bimbingan Konseling (BK).
"Kita sudah tegur dan kemungkinan secara internal di MTs sudah dibuat pernyataan tidak mengulangi," katanya.
Video yang sempat beredar pun sudah diturunkan (take down) atas permintaan keluarga. Menurut Aris, pihak keluarga pun menerima bahwa video tersebut bukan perundungan karena tidak ada penyebutan nama almarhumah maupun tuduhan langsung.
"Kesimpulan kami, kejadian ini adalah murni tindakan bunuh diri yang didorong oleh rasa malu secara pribadi, bukan akibat perundungan. Ke depan, kami ingin menjadikan peristiwa ini sebagai edukasi, agar kejadian serupa tidak terulang kembali," harapnya.
Pencegahan Bullying
Meski video-video itu dibantah sebagai upaya perundungan, Kemenag Pontianak tidak membenarkan segala hal yang sifatnya suuzon. Menurutnya, ketika menghadapi segala hal ada baiknya mengedepankan sikap tabayyun.
Aris mengatakan, Kemenag sudah bekerja sama dengan KPAD dan berbagai elemen di MTs untuk bersinergi dalam hal mencegah bullying, kekerasan, dan sebagainya. Dengan dukungan unsur-unsur pendidik seperti guru BP, wakil kepala sekolah, kurikulum, dan kesiswaan.
"Pemahaman bullying itukan ada fisik dan nonfisik. Dua hal ini memang kami cegah betul-betul. Namun yang agak sulit adalah perkembangan di era digital. Ini menjadi tantangan bagi semua elemen, bukan hanya MTs, tapi juga sekolah umum," kata Aris.
Artinya, lanjut dia, hal yang mungkin benar bisa saja menjadi tidak benar ketika masuk ke era AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan dan sebagainya.
"Karena itu kami juga memberikan filter-filter terkait hal-hal tersebut,"
Sebagaimana diketahui, siswi MTsN 1 Pontianak yang merupakan warga Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya ditemukan meninggal dunia tergantung di rumahnya, Kamis (22/1/2026) subuh.
Dugaan awal, anak usia 13 tahun itu nekat mengakhiri hidupnya karena depresi dibully teman-teman di sekolah. Termasuk dari guru juga.
Korban diduga dibully karena ketahuan mengambil uang saat kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di MTs pada Sabtu (17/1/2026). Kepada guru BK, korban sempat mengaku butuh uang untuk membelikan kado ibunya.
Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
