Usai viral video lama kerbau masuk ke landasan Bandara Long Layu, Krayan Barat, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), terungkap bahwa bandara kini sudah dipasangi pagar oleh masyarakat. Namun kondisinya masih membahayakan karena landasannya masih berwujud tanah rumput.
Camat Krayan Selatan, Oktovianus Ramli, menceritakan sejarah bandara tersebut yang dibangun dengan keringat warga sendiri. Warga mencangkul lahan tersebut untuk dijadikan bandara.
"Bandara ini dikerjakan masyarakat secara gotong royong menggunakan alat manual cangkul sekitar tahun 70-an," kata Oktovianus, Kamis (29/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menekankan perbaikan Bandara Long Layu bersifat urgen. Menurutnya, bandara ini bukan sekadar fasilitas transportasi, melainkan nadi kehidupan bagi warga di perbatasan yang terisolasi jalur darat.
"Keberadaan bandara sangat urgen sekali dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dan membantu dalam keadaan darurat, seperti rujukan orang sakit ke rumah sakit di luar Krayan," ujar dia.
Tanpa bandara yang layak, warga kesulitan mendapatkan akses cepat saat kondisi darurat. Selama ini, penerbangan banyak dibantu oleh pesawat MAF dan Susi Air yang melayani rute perintis.
"Kami berharap pemerintah pusat maupun daerah melihat kondisi ini. Jangan sampai menunggu ada kejadian fatal baru bertindak," tegasnya.
Sementara itu, petugas Dishub Kabupaten Nunukan, Hery, mengatakan kondisi landasan yang masih berupa tanah merah dan rumput menjadi kendala utama. Jika hujan turun, penerbangan seringkali harus dibatalkan total karena landasan licin dan berlumpur.
Hery mengaku sudah berkali-kali mengusulkan pengaspalan Bandara Long Layu melalui Musrenbang tingkat kecamatan hingga provinsi, namun hingga kini belum ada realisasi.
"Saya usulkan dua kali malah. Sampai sekarang belum ada tanggapan dari pemerintah. Padahal kalau runway diaspal atau dilakukan pengerasan, risiko tergelincir bisa diminimalisir," keluh Hery.
Sebelumnya, masalah kerbau masuk landasan bandara sudah ditangani berkat swadaya masyarakat. Warga memagari landasan supaya hewan ternak tak lagi mengganggu pesawat lepas landas atau mendarat.
"Untuk pemagaran ini kerjanya swadaya dari masyarakat. Kemarin ada upaya dari Kapal MAF (Mission Aviation Fellowship) yang menyediakan 20 gulung kawat berduri. Tiang-tiangnya pengadaan dari masyarakat," jelas Hery.
Anggaran desa pun terpaksa tersedot untuk gotong royong ini demi memenuhi standar keamanan minimal. Saat ini, Dengan pagar ini, kerbau sudah tidak bisa masuk kembali.
"Kemarin kami gunakan anggaran desa masing-masing untuk uang makan pekerja. Kami perkiraan anggarannya sekitar Rp 50 juta," bebernya.
