Sebuah video yang memperlihatkan BeritaKlik-BeritaKlik menegangkan saat pesawat perintis hendak lepas landas di Bandara Long Layu, Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, viral di media sosial. Pasalnya, kondisi landasan pacu masih tanah, bahkan ada kerbau masuk.
Dalam tayangan tersebut, terlihat seekor kerbau berada di area landasan pacu (runway) yang masih berupa tanah berumput, sementara pesawat bersiap untuk take-off. Video yang diunggah akun TikTok @Fajar1179 itu menarasikan kondisi penerbangan di perbatasan Indonesia-Malaysia yang penuh tantangan.
"Kita lihat pesawat itu akan terbang dari sana, padahal di depan sana ada kerbau lho. Kadang kalau kita di pesawat deg-degan karena banyak guncangan, lihat tuh bagaimana lumpurnya," ujar perekam dalam video tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas Dishub Kabupaten Nunukan, Hery, menegaskan bahwa dalam aturan penerbangan, kondisi landasan yang dimasuki hewan ternak sama sekali tidak dibenarkan. Hal ini menyangkut keselamatan fatal bagi penumpang maupun kru pesawat.
"Dalam SOP penerbangan, itu memang tidak dibenarkan. Landasan pacu itu harus steril, baik saat take-off maupun landing," tegas Hery saat dikonfirmasi detikKalimantan, Kamis (29/1/2026).
Hery menjelaskan, pilot pesawat perintis yang melayani rute tersebut sebenarnya sudah paham kondisi lapangan. Jika melihat area belum steril dari atas, pilot biasanya tidak akan mengambil risiko untuk mendarat hingga petugas darat memastikan landasan aman.
"Namun, namanya hewan liar, kadang saat pengamanan sudah tidak ada, tiba-tiba lari masuk lagi," tambahnya.
Hery juga meluruskan bahwa video yang beredar luas tersebut adalah dokumentasi sekitar pertengahan 2025. Saat itu, pesawat Smart Aviation (putih polos) sedang melakukan penerbangan pengecekan (bukan jadwal rutin).
Sebab saat ini kondisi landasan tersebut sudah dipagari. Pagar ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat karena ketiadaan anggaran cepat dari pemerintah.
"Untuk pemagaran ini kerjanya swadaya dari masyarakat. Kemarin ada upaya dari Kapal MAF (Mission Aviation Fellowship) yang menyediakan 20 gulung kawat berduri. Tiang-tiangnya pengadaan dari masyarakat," jelas Hery.
Anggaran desa pun terpaksa tersedot untuk gotong royong ini demi memenuhi standar keamanan minimal. Saat ini, Dengan pagar ini, kerbau sudah tidak bisa masuk kembali.
"Kemarin kami gunakan anggaran desa masing-masing untuk uang makan pekerja. Kami perkiraan anggarannya sekitar Rp 50 juta," bebernya.
(bai/bai)
