Menjaga beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di belantara Borneo bukanlah tugas yang mudah. Jauh dari hingar-bingar kota, prajurit TNI harus rela berbulan-bulan terisolasi dan menahan rasa rindu kepada keluarga demi memastikan kedaulatan negara tetap utuh.
Perasaan itu diungkapkan oleh Komandan Pos (Danpos) Gabma Long Midang, Serka Edy Sucandra Tarigan. Pria yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 4/Parahyangan, Cimahi, Jawa Barat ini, harus menepi dari keluarga selama satu tahun lamanya.
"Kini saya dan rekan-rekan sudah memasuki bulan keenam penugasan di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Suka dukanya ya namanya juga kita manusia, apalagi saya sudah berkeluarga. Rindu terkadang dengan istri dan anak, itu saja (dukanya)," ungkap Serka Edy Kepada detikKalimantan. Selasa (17/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski rindu rumah kerap mendera, Edy mengaku menemukan keluarga baru di medan tugas. Keramahan masyarakat setempat menjadi pelipur lara yang memperkaya wawasannya.
"Sukanya di sini kita dapat berinteraksi dengan beragam suku, salah satunya suku Dayak. Saya jadi tahu adat istiadat mereka, acara-acaranya seperti apa, hal-hal apa yang harus dijalankan dan tidak diperbolehkan. Itu sangat menambah wawasan buat saya," tutur Edy saat ditemui di Pos Pamtas.
Perbatasan Indonesia-Malaysia di Long Midang, Nunukan, Kaltara. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan |
Para prajurit ini dihadapkan pada realita geografis dan ekonomi warga Krayan yang cukup memprihatinkan. Sulitnya akses jalan darat menuju Kabupaten Malinau bisa memakan waktu 3 hari 2 malam membuat warga Krayan menggantungkan kebutuhan hidupnya ke negara tetangga, Lawas, Malaysia.
"Pasti masyarakat Indonesia sering mendengar istilah Garuda di Dadaku, Perut di Malaysia. Kita sebagai manusia juga tidak ingin warga kelaparan. Akses sembako seperti beras dan minyak dari Malaysia tidak kita batasi selagi itu untuk kebutuhan masyarakat agar tetap bisa bertahan hidup," jelas Edy.
Namun, toleransi ini memiliki batas yang sangat tegas.
"Kalau sudah berbentuk miras, narkoba, rokok ilegal, atau amunisi tajam, itu sangat kami tentang keras. Langsung kami tahan dan laporkan ke komando atas," tegasnya.
Selain menjaga perlintasan barang dan manusia di jalur-jalur tikus, tugas utama mengamankan patok batas negara tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. Untuk wilayah Pos Long Midang sendiri, terbentang wilayah patroli yang sangat panjang hingga ke area Ba' Siu'.
"Sudah kita laksanakan patroli untuk 459 patok yang ada di wilayah Long Midang. Sesuai dengan peta, saya pastikan tidak ada patok kita yang bergeser," tegas Serka Edy.
Serka Edy memastikan kerja keras pasukannya yang jauh dari keluarga tidak sia-sia. Ia menepis isu di luar sana yang kerap menyebut patok perbatasan RI-Malaysia sering bergeser.
"Adapun jika ditemukan rusak, itu karena tertimpa pohon atau longsor karena faktor alam. Tetap kita periksa dan posisinya tidak keluar dari koridor perbatasan RI-Malaysia. Sangat aman," pungkasnya.
Simak Video "Video: BNPP Sebut Ada 3 Desa di Nunukan Sebagian Masuk Malaysia"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
