Sulitnya Evakuasi Pasien Stroke di Pelosok Nunukan, Butuh Waktu 2 Hari ke RS

Sulitnya Evakuasi Pasien Stroke di Pelosok Nunukan, Butuh Waktu 2 Hari ke RS

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 27 Feb 2026 13:29 WIB
Proses evakuasi warga kena stroke di perbatasan RI-Malaysia, Nunukan, Kalimantan Utara.
Proses evakuasi warga kena stroke di perbatasan RI-Malaysia, Nunukan, Kalimantan Utara. Foto: Dok. Istimewa
Nunukan -

Seorang pendeta di perbatasan RI-Malaysia terkena serangan stroke ringan. Pendeta tersebut harus dievakuasi melewati medan yang sulit dan prosesnya berlangsung selama 2 hari.

Peristiwa ini terjadi di Desa Wayagung, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan. Tak jauh dari sana, ada Desa Bungayan. Kepala Desa Bungayan Ito Balang menceritakan pendeta tersebut mengalami stroke ringan ketika sedang makan siang.

"Kejadian bermula pada Kamis (24/2). Pendeta yang awalnya tampak sehat bugar, tiba-tiba kehilangan kendali atas anggota tubuhnya saat sedang menyantap makan siang usai pulang dari sawah. Tiba-tiba tangan sebelah kanan yang memegang makanan itu jatuh-jatuh. Katanya, tidak ada rasa tangan dan kakinya sebelah kiri," ujar Ito kepada detikKalimantan, Jumat (27/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sang pendeta tidak mampu berjalan sehingga harus dibantu warga menuju fasilitas kesehatan (faskes). Di desa tersebut, hanya ada puskesmas pembantu dengan sarana terbatas. Warga pun mencoba membawanya ke rumah sakit di Lombawan, Krayan Barat.

"Saya bersama warga memutuskan melakukan evakuasi darurat di tengah guyuran hujan lebat. Namun, tantangan besar muncul, berat badan pasien mencapai 100 kilogram, sementara jalur yang harus dilalui adalah hutan pegunungan dengan tanjakan ekstrem," bebernya.

Warga sempat membuat tandu dari bambu, tetapi material alam tersebut tak kuat menahan beban pasien hingga patah di tengah jalan. Ito pun memutuskan membawa pendeta tersebut dengan motor.

"Saya ambil kebijakan, saya yang bawa beliau naik motor. Pinggangnya diikat dengan kain ke badan saya (pengendara), dan kakinya diikat pakai tali di bawah motor supaya tidak jatuh," kenang Ito.

Sepanjang 2,5 kilometer, Ito harus menjaga keseimbangan motor di atas jalan berlumpur sambil menyangga beban pasien yang lumpuh separuh badan agar tidak merosot. Luapan sungai memutus jalan utama dan mempersulit perjalanan mereka.

"Beruntungnya solidaritas warga Krayan sangat kuat. Informasi yang disebar melalui grup WhatsApp direspons puluhan warga dari Desa Long Umung dan Pa' Kebuan," imbuhnya.

Secara estafet, pasien diturunkan dari motor, dinaikkan ke perahu untuk menyeberangi banjir, lalu dipindahkan ke mobil pick up di seberang jalan yang masih bisa dilalui. Karena kondisi cuaca yang buruk, rombongan terpaksa menginap satu malam di perjalanan.

"Saya targetkan evakuasi ini dua hari. Sampai sekarang, pasien belum sampai di Puskesmas tujuan karena masalah banjir dan hujan yang tidak berhenti," jelasnya.

Setelah kejadian ini, Ito berharap kondisi infrastruktur di wilayahnya dapat ditingkatkan agar tidak mempersulit warga, terutama di saat-saat genting. Selain masalah jalan, ketersediaan BBM juga penting.

"Meskipun pembangunan jalan sedang berjalan, masalah klasik seperti kelangkaan BBM dan rusaknya alat berat seringkali menjadi penghambat. Harapan saya, jangan hanya pemeliharaan sifatnya, tapi harus ada peningkatan setiap tahun agar masyarakat kami tidak terus menderita seperti ini hanya untuk berobat," timpal Ito.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: BNPP Sebut Ada 3 Desa di Nunukan Sebagian Masuk Malaysia"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads